CHAPTER 25
"Setiap mimpi akan diuji di atas panggung. Bukan untuk mengetahui siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang tetap berdiri ketika tekanan mulai berbicara. Karena terkadang, awal dari sebuah kemenangan adalah saat dunia mulai mengenal namamu."
Keesokan paginya, langit London menyambut hari dengan semburat cahaya keemasan yang perlahan muncul dari balik deretan bangunan bergaya Victoria. Udara musim semi masih terasa sejuk. Embun menggantung di ujung dedaunan, sementara aroma kopi dari kafe-kafe kecil di sekitar kampus mulai memenuhi jalanan.
Di kawasan University College London, aktivitas sudah dimulai jauh lebih awal dibanding biasanya. Mahasiswa berlalu-lalang dengan langkah tergesa. Sebagian membawa tabung poster, sebagian lainnya sibuk memeriksa ulang slide presentasi melalui tablet maupun laptop yang mereka genggam.
Hari itu bukan sekadar awal dari perkuliahan biasa.
Hari itu merupakan Progress Evaluation Session bagi seluruh peserta National Innovation Challenge 2026, tahap yang akan menentukan apakah setiap tim layak melanjutkan proyek mereka menuju fase berikutnya.
Sejak malam sebelumnya, ruang diskusi Team Alpha nyaris tidak pernah benar-benar sepi. Lampu ruangan tetap menyala hingga dini hari. Lembar-lembar rancangan memenuhi meja, kabel pengisi daya berserakan di berbagai sudut, sementara empat gelas kopi kosong menjadi saksi bahwa mereka hampir tidak memberi kesempatan tubuh untuk beristirahat.
Beberapa menit sebelum sesi evaluasi dimulai, Lucas meregangkan bahunya sambil menghela napas panjang.
"Gue udah nggak tahu ini kopi yang keberapa wkwk."
Celeste terkekeh pelan.
"Kalau masih sempat ngitung..."
"...berarti belum separah itu haha."
Elara menutup laptopnya perlahan.
"Akhirnya selesai juga."
Kael ikut menyandarkan tubuh ke kursinya.
"Good job, everyone."
Untuk beberapa saat...
Tak ada lagi yang berbicara. Keheningan justru terasa menenangkan setelah semalaman dipenuhi diskusi tanpa henti.
Mereka saling memandang.
Lalu...
Tanpa perlu aba-aba.
Keempatnya tersenyum bersamaan.
Mereka sadar...
Apa pun hasil evaluasi hari itu... Mereka telah memberikan seluruh kemampuan yang mereka miliki.
Sesaat sebelum meninggalkan ruang diskusi, Lucas tiba-tiba berdiri.
"Guys..."
"Gue mau ngomong sebentar."
Semua spontan menoleh.
Lucas menarik napas sebelum tersenyum.
"Kita datang dari jurusan yang beda."
"Architectural Engineering."
"Psychology."
"Management."
"Communication."
"Tapi justru karena perbedaan itu..."
"...Team Alpha bisa berdiri sampai hari ini."
Ia mengulurkan tangan ke tengah meja.
"Nggak peduli nanti hasilnya kayak gimana..."
"...thanks for choosing this team."
Celeste langsung menumpangkan tangannya.
"Proud to be here."
Elara ikut menyusul.
"Always."
Kael menjadi orang terakhir. Kemudian Ia memandang ketiga rekannya bergantian sebelum tersenyum.
"Let's finish what we started."
"Team Alpha!"
"Number One!"
Suara mereka menggema pelan di dalam ruangan.
Di saat yang sama, tepat di depan gedung Innovation Hub, Alexander, Ethan, dan Claire sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu.
Begitu melihat Kael dan timnya keluar...
Alexander langsung bersiul.
"Wah..."
"Calon juara nih."
Lucas tertawa kecil.
"Doain aja."
Ethan mengacungkan jempol.
"Kalian pasti bisa."
Claire ikut tersenyum.
"Jangan terlalu fokus sama hasil. Tetapi presentasikan semua proses yang udah kalian perjuangkan."
Kael mengangguk.
"Thanks."
Tak lama kemudian, pintu auditorium utama perlahan terbuka. Suasana di dalam jauh lebih megah daripada yang mereka bayangkan. Puluhan tim dari berbagai universitas terbaik di Inggris telah memenuhi ruangan. Di bagian depan, layar LED raksasa menampilkan logo National Innovation Challenge 2026, sementara lima orang juri telah duduk di balik meja panjang.
Suasana mendadak berubah jauh lebih tegang.
Beberapa menit berselang, suara panitia menggema melalui pengeras suara.
"Next participant..."
"...Team Alpha."
Kael menarik napas panjang.
Ia menoleh kepada Lucas, Elara, dan Celeste.
"Ready guys?"
Lucas mengangguk.
"As ready as we can."
Celeste tersenyum.
"Let's make them remember us."
Elara mengepalkan tangan.
"We've got this."