Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #27

Jeda Sebelum Badai

CHAPTER 26

"Tidak semua ancaman datang dengan suara yang keras. Ada yang memilih menunggu dalam diam, membiarkan kita tertawa, jatuh cinta, dan merasa aman... sebelum akhirnya mengubah segalanya."

Satu minggu telah berlalu sejak sesi Progress Evaluation National Innovation Challenge.

Hari-hari setelahnya terasa jauh lebih padat dibanding sebelumnya. Pagi hingga siang mereka harus mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas dari masing-masing fakultas, serta menghadiri beberapa kelas tambahan yang mulai dipenuhi berbagai proyek akhir semester.

Sore hari hampir selalu dihabiskan di Innovation Hub. Mereka menyempurnakan konsep Smart Living for Sustainable Future, mulai dari validasi kebutuhan pengguna, penyempurnaan desain antarmuka, penyusunan strategi bisnis, hingga simulasi awal prototype.

Sedangkan malam...

Sebagian waktu masih mereka sisihkan untuk mencoba menyusun kembali potongan-potongan misteri Project ORION yang hingga kini belum menemukan jawaban.

Namun untuk sementara...

Mereka sepakat meletakkan penyelidikan itu sedikit di belakang. Bukan karena menyerah. Melainkan karena mereka sadar... Kesempatan di National Innovation Challenge hanya datang satu kali.

Jika gagal sekarang...

Semua perjuangan mereka selama berbulan-bulan akan berakhir sia-sia.

Innovation Hub sore itu kembali dipenuhi suara diskusi. Whiteboard yang biasanya bersih kini hampir tak menyisakan ruang kosong. Diagram, mind map, flowchart, sticky notes, dan sketsa prototype. Seluruh dinding seolah berubah menjadi papan ide raksasa.

Lucas menepuk kedua tangannya.

"Oke..."

"Kita break lima belas menit dulu aja ya."

Alexander yang sejak tadi duduk di samping Claire langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"YES!"

"Akhirnya keluar juga kalimat yang paling gue tunggu itu wkwkwk...."

Claire menoleh sambil tertawa kecil.

"Padahal kamu bukan peserta lomba."

Alexander mengangkat bahu.

"Emang bukan."

"Tapi nemenin kalian begadang juga capek, tahu."

Ethan yang sedang menyeduh kopi hanya tersenyum tipis.

"Capek lihat kalian debat nama fitur hampir satu jam."

Alexander langsung menunjuk Claire.

"Yang mulai dia duluan Ethan. Bukan gue."

Claire membalas cepat.

"Karena idemu aneh."

"Emang apa?"

"Masa nama aplikasinya mau 'AlphaLife Ultra Max Pro Edition'."

Alexander mengangguk bangga.

"Menurut gue keren."

Claire menutup wajahnya.

"Okey, aku menyerah aja deh, udah pusing jujur."

Ruangan kembali dipenuhi gelak tawa.

Di sisi lain...

Kael masih memperhatikan desain antarmuka bersama Elara. Ia menggeser beberapa elemen pada layar laptop.

"Coba tombol emergency ini kita pindah ke bagian bawah. Biar lebih gampang dijangkau pakai ibu jari."

Elara memperhatikan beberapa saat.

"Hmm... Iya juga wkwk."

"Kamu selalu kepikiran detail kecil yang orang lain sering lewat."

Kael tersenyum tipis.

"Namanya juga anak teknik arsitektur."

"Udah refleks."

Elara tertawa pelan.

"Kadang aku heran."

"Heran kenapa?"

"Kamu bisa serius banget kalau lagi kerja."

Kael menoleh sambil tersenyum.

"Itu pujian atau apa nih?"

Elara salah tingkah.

"Ya..."

"...anggap aja gitu."

Kael sengaja mendekat sedikit ke arah layar.

"Berarti hari ini boleh dong aku pede ke kamu."

Elara spontan mencubit pelan lengan Kael.

"Ih..."

"Jangan mulai."

Kael tertawa kecil.

"Oke, oke."

"Aku nyerah hahaha."

Pipi Elara kembali menghangat.

Untung saja semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Di meja sebelah...

Claire sedang mencoba memasang kembali kabel prototype. Namun salah satu kabel justru terlepas. Alexander refleks menangkapnya.

"Tuh kan."

"Makanya bilang kalau kamu butuh bantuan."

Claire mengembuskan napas.

"Iya..."

"Makasih."

Alexander tersenyum puas.

"Nah."

"Akhirnya diucapin juga."

Claire memutar bola mata.

"Jangan ge-er. Aku cuma bilang ma-ka-sih."

Alexander mengangguk sok serius.

"Gapapa."

"Langkah kecil menuju masa depan."

Claire langsung tertawa.

"Halunya kebangetan."

Lucas yang mendengar percakapan mereka hanya menggeleng.

"Fix."

"Mereka berdua statusnya emang belum ada sih..."

"...tapi semua orang udah tahu kalau mereka diam-diam lagi jalanin HTS."

Ethan menyeruput kopinya.

"Mereka aja itu mah yang belum sadar sampe sekarang wkwk."

Beberapa menit kemudian...

Pintu Innovation Hub kembali terbuka.

Seorang mahasiswi melangkah masuk sambil membawa kamera mirrorless serta sebuah tablet di tangannya. Rambut hitam panjangnya diikat rendah. Ia mengenakan jaket varsity berwarna navy dengan kartu identitas panitia yang menggantung di leher. Tatapannya berkeliling ruangan seolah mencari seseorang. Ia menghampiri meja resepsionis.

"Permisi pak."

"Team Alpha masih ada di sini tidak ya?"

Petugas mengangguk sambil menunjuk ruang diskusi.

"Masih."

"Di ruangan sebelah ya."

"Terima kasih pak."

Tak lama kemudian...

Ia berdiri di depan pintu ruang Team Alpha.

Tok... Tok... Tok...

Semua spontan menoleh.

Lucas membuka pintu.

"Ya?"

Lihat selengkapnya