Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #28

Ritme Baru

CHAPTER 27

"Tidak semua perubahan datang melalui kejadian besar. Terkadang, sebuah perjalanan baru dimulai dari kebiasaan kecil, percakapan sederhana, dan orang-orang yang perlahan mengisi ruang dalam hidup kita."

Beberapa hari setelah sesi evaluasi pertama National Innovation Challenge, kehidupan Team Alpha mulai memasuki fase yang berbeda. Tidak ada lagi waktu untuk sekadar berdiskusi mengenai ide. Sekarang mereka harus membuktikan bahwa ide tersebut mampu berkembang menjadi sesuatu yang nyata.

Kawasan University College London terasa semakin hidup. Hampir setiap sudut kampus dipenuhi mahasiswa yang sedang mengejar target masing-masing. Ruang belajar penuh dengan kelompok diskusi, perpustakaan mulai ramai sejak pagi, dan Innovation Hub berubah menjadi pusat aktivitas bagi para peserta kompetisi. Tempat itu tidak lagi hanya menjadi ruang kerja.

Bagi Team Alpha, Innovation Hub sudah seperti rumah kedua.

Di salah satu ruangan diskusi yang menghadap langsung ke halaman kampus... Beberapa layar laptop menyala bersamaan. Di meja utama terdapat berbagai catatan mengenai konsep aplikasi, hasil survei pengguna, serta rancangan pengembangan proyek.

Kael berdiri sambil melihat ulang keseluruhan konsep yang terpampang di layar besar.

"Menurut gue, kita sudah punya dasar yang cukup kuat. Tapi ada satu hal yang masih terasa kurang."

Lucas yang sedang membaca laporan langsung mengangkat wajah.

"Apa itu?"

Kael menunjuk bagian utama konsep mereka.

"Kita terlalu fokus menjelaskan apa yang bisa dilakukan sistem ini. Padahal yang harus kita tunjukkan adalah kenapa orang membutuhkan sistem ini."

Elara memperhatikan layar beberapa detik.

"Jadi kita harus lebih memahami sisi penggunanya. Bukan hanya menjual teknologinya aja dong?"

Kael tersenyum.

"Yupz. Exactly."

Celeste yang sedang membuat beberapa desain visual ikut memberikan pendapat.

"Kalau begitu, cara kita memperkenalkannya juga harus lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jangan sampai orang merasa ini cuma proyek teknologi. Tapi mereka harus melihatnya sebagai solusi."

Kael mengangguk.

"Nah itu yang harus kita bangun."

Percakapan serius tersebut berlangsung cukup lama hingga akhirnya Alexander yang duduk bersama Ethan di sudut ruangan mengangkat tangannya.

"Sorry guys ganggu bentar. Gue mau ngasih suatu hal yang penting ke kalian."

Semua menoleh.

Lucas langsung curiga.

"Apa tuh?"

Alexander menunjuk meja yang penuh catatan.

"Kalian sadar nggak... dari tadi lima belas menit ngomongin konsep, tapi belum ada yang sadar kalau kalian belum makan?"

Ruangan langsung hening. Lalu Ethan tertawa kecil.

"Untuk pertama kalinya..."

"...dia ngomong sesuatu yang berguna juga akhirnya wkwk."

Alexander memasang wajah kecewa.

"Jahat."

Claire yang sedang memeriksa data hanya tersenyum.

"Tapi dia ada benarnya juga tau kalo ngomong wkwk... Karena kalian kalau sudah kerja suka lupa sama waktu."

Alexander langsung menunjuk Claire.

"Nah. Akhirnya ada orang yang bela aku hahaha."

Claire menggeleng.

"Aku bukan bela kamu. Di sisi lain juga aku cuma membenarkan faktanya aja kayak gimana wkwk."

Alexander menghela napas.

"Omongannya kedengeran sedih banget sih. Tapi its okeyy... Aku terima omongan itu."

Suasana ruangan kembali dipenuhi tawa kecil. Setelah istirahat singkat, mereka kembali melanjutkan pekerjaan. Kael mulai membagi beberapa tugas.

"Lucas, gue perlu revisi bagian strategi bisnis."

Lucas langsung mengangguk.

"Siap."

"Celeste, fokus ke bagaimana proyek ini bisa dikomunikasikan ke masyarakat."

"Okay."

"Elara..."

Kael melihat catatan di tangannya.

"Aku ingin kamu bantu analisis ulang hasil wawancara pengguna. Siapa tahu ada pola baru yang belum kita lihat."

Elara tersenyum.

"Siap."

Mereka pun kembali tenggelam dalam pekerjaan masing-masing.

Menjelang sore...

Lihat selengkapnya