Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #29

Beyond The Prototype

CHAPTER 28

"Sebuah inovasi tidak lahir hanya dari ide yang besar, tetapi dari keberanian untuk memperbaiki hal-hal kecil yang sering diabaikan."

Beberapa hari setelah kedatangan Aurora di Innovation Hub, suasana kerja Team Alpha mulai mengalami perubahan. Bukan karena beban mereka menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya. Semakin dekat dengan tahap pengumpulan akhir National Innovation Challenge, semakin banyak hal yang harus mereka pastikan.

Namun kali ini....

Mereka tidak lagi bekerja dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Jika dulu mereka hanya berfokus pada bagaimana membuat proyek mereka terlihat sempurna di mata juri, sekarang mereka mulai memahami satu hal penting.

Sebuah inovasi tidak hanya dinilai dari teknologi yang digunakan. Tetapi dari seberapa besar dampaknya bagi manusia yang akan menggunakannya.

Pagi itu, Innovation Hub kembali dipenuhi aktivitas. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar ruangan, menerangi meja kerja yang dipenuhi berbagai dokumen, prototype digital, dan catatan hasil penelitian.

Di layar utama ruangan....

Tampilan terbaru proyek Smart Living for Sustainable Future terpampang. Namun ekspresi wajah Team Alpha tidak sepenuhnya puas.

Kael berdiri di depan layar sambil membaca hasil simulasi terakhir.

"Kalo gue liat lagi kayaknya masih ada yang kurang."

Lucas yang duduk di depan laptop langsung menoleh.

"Kurang di bagian mananya bro?"

Kael menunjuk beberapa bagian grafik.

"Kurang secara angka, semuanya naik."

"Efisiensi meningkat. Respons pengguna juga seharusnya lebih baik."

"Tapi.... "

Ia berhenti sebentar.

"Rasanya proyek ini masih terlalu fokus menjelaskan apa yang teknologi kita bisa lakukan."

Elara mengerutkan dahi.

"Maksud kamu?"

Kael menatap layar.

"Kita terlalu sibuk membuktikan bahwa aplikasi ini pintar."

"Padahal yang harus kita buktikan adalah.... "

"... kenapa orang membutuhkan aplikasi ini dalam kehidupan mereka."

Ruangan menjadi hening.

Celeste yang sejak tadi memperhatikan konsep visual proyek perlahan mengangguk.

"Kayaknya gue ngerti maksud lo Kael."

"Jadi, selama ini kita menjual fitur. Bukan menjual alasan."

Lucas bersandar di kursinya.

"Terus menurut kalian.... "

"... masalahnya bukan di produknya?"

Elara membuka beberapa hasil wawancara pengguna.

"Mungkin bukan. Tapi cara kita membuat orang memahami manfaatnya."

Ia menunjukkan beberapa komentar pengguna.

"Sebagian besar bilang konsepnya menarik. Tapi mereka masih belum merasa punya hubungan dengan solusi yang kita tawarkan."

Celeste melihat data tersebut.

"Berarti masalah komunikasi. Orang nggak akan peduli dengan sesuatu yang mereka rasa jauh dari kehidupan mereka."

Kael mengangguk.

"Exactly."

Saat mereka masih berdiskusi....

Pintu ruangan terbuka.

Aurora masuk membawa kamera, laptop, dan beberapa lembar hasil desain.

"Morning guys."

Semua menoleh.

Lucas tersenyum.

"Pagi, Aurora."

Aurora meletakkan barang-barangnya di meja.

"Aku sudah lihat perkembangan terbaru kalian."

Kael sedikit penasaran.

"Kamu sudah lihat?"

Aurora mengangguk.

"Iya. Aku kesini lagi mau minta akses ke dokumentasi proses kalian dari minggu lalu."

Celeste memperhatikan.

"Lalu?"

Lihat selengkapnya