CHAPTER 29
"Harapan bukan tentang mengetahui bahwa semuanya akan berhasil. Harapan adalah keberanian untuk tetap berusaha ketika hasilnya masih menjadi tanda tanya."
Dua hari setelah seluruh revisi besar diselesaikan... Innovation Hub kembali menjadi tempat yang paling sering dikunjungi Team Alpha.
Namun kali ini, suasananya berbeda.
Jika sebelumnya ruangan itu dipenuhi diskusi mengenai konsep dan ide, kini setiap sudut dipenuhi proses penyempurnaan.
Prototype yang sebelumnya hanya berupa rancangan digital mulai berubah menjadi sistem yang benar-benar dapat dijalankan.
Layar-layar monitor menampilkan berbagai hasil simulasi. Whiteboard yang semula dipenuhi coretan lama kini berganti menjadi daftar target yang harus mereka selesaikan sebelum tahap berikutnya dimulai. Satu per satu tanda centang mulai memenuhi papan itu.
Tetapi...
Masih ada satu bagian yang belum bisa mereka coret.
User Experience Testing.
Kael berdiri di depan papan sambil melipat kedua tangannya.
"Kalau kita mau lolos ke tahap berikutnya.... "
"... kita nggak cukup cuma bilang aplikasi ini bagus."
Lucas mengangguk.
"Kita harus punya bukti."
Elara membuka tablet yang berisi hasil survei.
"Minimal tiga puluh responden dari mahasiswa, dosen, dan staf kampus hingga masyarakat umum."
Celeste menambahkan,
"Dan latar belakangnya juga harus beragam."
Kael mengangguk pelan.
"Iya betul karena semakin beragam respondennya... semakin kuat juga data yang kita punya."
Aurora yang sejak tadi mendengarkan ikut mengangkat tangan.
"Aku punya ide."
Semua menoleh.
"Apa?"
Aurora membuka laptopnya.
"Akhir pekan ini kampus ngadain Innovation Open Day."
Lucas langsung mengingat.
"Owh iya bener. By the way disana ada pameran organisasi juga kalo engga salah."
Aurora mengangguk.
"Kenapa kita nggak sekalian buka booth kecil aja nanti?"
"Biar orang bisa langsung nyobain prototype kalian."
Ruangan mendadak hening.
Alexander yang sedang memainkan bolpoin langsung menegakkan badan.
"Wait.... bagus juga idenya"
Claire ikut mengangguk.
"Lebih natural dibanding nyari responden satu-satu."
Kael berpikir beberapa saat.
Lalu tersenyum.
"Yes, I like it."
Tidak lama kemudian diskusi mereka berlanjut hampir satu jam. Mereka membagi pekerjaan satu per satu. Lucas bertanggung jawab terhadap kebutuhan operasional booth. Elara menyusun formulir evaluasi pengguna. Kael memastikan prototype tetap stabil. Celeste mulai merancang materi promosi. Sementara Aurora....
Tanpa diminta....
Sudah mulai membuat konsep visual booth mereka. Kemudian Alexander memperhatikan layar Aurora.
"Buset.... "
"Cepet amat."
Aurora tersenyum kecil.
"Kalau idenya udah datang jangan ditunda. Nanti yang ada keburu lupa idenya."
Alexander mengangguk kagum.
"Fix. Anak komunikasi emang beda cara pemikirannya."
Celeste tersenyum tipis.
"Dia memang cepat pemikirannya."
Aurora menoleh sambil tertawa kecil.
"Itu pujian atau apa wkwk?"