CHAPTER 30
"Sebuah mimpi tidak tumbuh karena satu ide besar. Ia tumbuh karena keberanian untuk memperbaiki hal-hal kecil, setiap hari, meski tak seorang pun melihatnya."
Dua hari setelah seluruh revisi utama berhasil mereka selesaikan, ritme kerja Team Alpha berubah sepenuhnya. Mereka tidak lagi menghabiskan waktu memperdebatkan konsep ataupun mencari inspirasi baru. Semua keputusan besar telah dibuat. Kini, setiap tenaga dan pikiran mereka difokuskan pada satu tujuan yang sama—menjadikan inovasi itu benar-benar siap digunakan.
Innovation Hub menjadi rumah kedua bagi mereka.
Sejak pagi hingga malam, ruangan itu nyaris tidak pernah kosong. Di salah satu sudut, Kael terus memperbaiki alur navigasi aplikasi agar setiap pengguna dapat mengoperasikannya tanpa perlu membaca panduan. Di meja sebelah, Lucas sibuk menghitung ulang proyeksi bisnis dan biaya implementasi agar seluruh perhitungan sesuai dengan kondisi nyata. Sementara Elara berkali-kali meninjau hasil observasi pengguna untuk memastikan setiap fitur benar-benar menjawab kebutuhan mereka. Sedangkan Celeste... Ia hampir tidak pernah melepaskan laptopnya.
Beberapa desain antarmuka yang sebelumnya dianggap sudah selesai kini kembali ia ubah sedikit demi sedikit. Bukan karena tampilannya buruk. Tetapi karena ia merasa semuanya masih bisa dibuat lebih sederhana.
Menjelang siang, Aurora kembali datang ke Innovation Hub. Kali ini ia membawa beberapa lembar hasil cetakan berwarna serta sebuah tablet.
"Aku ganggu bentar, ya."
Semua menoleh.
Kael tersenyum.
"Masuk aja."
Aurora meletakkan seluruh hasil cetakannya di atas meja.
"Aku semalam coba bikin beberapa konsep buat booth Open Day."
Lucas langsung mendekat.
"Wah... cepat juga."
Aurora terkekeh.
"Aku kepikiran terus semalam. Nggak bisa tidur sebelum selesai."
Ia membentangkan beberapa desain. Ada rancangan banner. Mockup meja pameran. Desain brosur. Sampai alur pengunjung ketika mencoba prototype. Kemudian Celeste memperhatikan semuanya cukup lama. Ia tidak langsung berkomentar.
Aurora meliriknya.
"Gimana hasilnya bagus atau engga?"
Celeste masih diam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Hmmm... bagus."
Aurora mengangkat sebelah alis.
"Cuma bagus?"
Celeste tertawa pelan.
"Maksud aku.... "
"... ini lebih rapi daripada yang aku bayangin."
Aurora menyilangkan tangan sambil pura-pura menghela napas.
"Kirain bakal dikritik habis-habisan wkwk."
"Aku udah siap padahal haha."
Celeste menggeleng.
"Nggak."
"Justru.... "
"... kamu berhasil bikin semuanya punya identitas."
Ia menunjuk salah satu desain.
"Orang yang datang nanti bakal langsung ngerti kita lagi ngerjain apa."
Aurora tersenyum puas.
"Itu memang targetnya."
Lucas yang sedari tadi melihat mereka hanya melirik Kael sambil tersenyum kecil.
"Kayaknya.... "
"... komunikasi mereka udah mulai nyambung."
Kael ikut tersenyum.
"Dan itu bagus buat tim."
Tak lama kemudian, Claire menghampiri meja mereka sambil membawa laptop.
"Aku udah selesai bersihin data survei yang kemarin."
Elara langsung mendekat.
"Gimana hasilnya?"