Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #34

Setelah Pintu Terbuka

CHAPTER 33

“Ada saatnya kita berhenti bertanya apakah kita mampu, lalu mulai bertanya: seberapa jauh kita berani melangkah setelah kesempatan itu datang?”

Beberapa hari telah berlalu sejak Innovation Open Day. Setelah seluruh booth dibongkar dan peralatan dikembalikan, kehidupan di University College London perlahan kembali seperti biasanya. Namun bagi Team Alpha, satu hal masih belum berubah.

Mereka masih menunggu.

Menunggu hasil evaluasi.

Menunggu keputusan juri.

Dan menunggu apakah semua kerja keras mereka selama beberapa minggu terakhir cukup untuk membawa mereka ke tahap berikutnya.

Beberapa hari kemudian....

Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar Kael. Kamar yang biasanya cukup rapi kini terlihat sedikit berantakan. Beberapa buku kuliah terbuka di atas meja. Headset tergeletak di samping laptop. Ada dua gelas kopi yang belum sempat dibawa ke dapur. Sementara di layar laptopnya, sebuah halaman yang sama masih terbuka sejak malam sebelumnya.

National Innovation Challenge 2026 — Results Pending.

Kael yang baru saja bangun duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap wajah. Ia menatap layar laptop. Kemudian mengambil ponselnya. Tidak ada notifikasi baru.

Ia menghela napas.

"Still nothing."

Kael berdiri dan berjalan menuju meja. Namun sebelum sempat membuka laptop lebih jauh, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Lucas.

Lucas:

"Bro, jangan bilang lo udah buka email lagi."

Kael tersenyum kecil. Tidak lama kemudian Ia mengetik balasan.

Kael:

"Belum."

Balasan datang hampir seketika.

Lucas:

"Bohong."

Kael tertawa pelan.

Kael:

"Oke. I checked once."

Lucas:

"Once?"

Kael:

"Maybe twice."

Lucas:

"Pagi-pagi udah denial."

Kael meletakkan ponselnya.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian... Ia kembali melihat laptop. Masih kosong. Tidak ada email.

Ia akhirnya menutupnya.

"Whatever."

"Kalau memang ada, nanti juga masuk."

Di tempat lain...

Elara sedang duduk di meja makan rumahnya. Laptop terbuka di hadapannya. Namun bukannya mengerjakan proyek, ia justru sedang mencoba menyelesaikan sarapan yang sejak tadi tidak disentuh.

Ibunya sudah beberapa kali mengingatkan agar ia tidak terus menatap layar.

"Elara, makan dulu."

"Iya."

"Kamu dari tadi bilang iya."

Elara akhirnya mengangkat wajah.

"Sorry ma'am."

Ia mengambil roti.

"Aku cuma lagi nunggu hasil lomba aja kok mah."

"Yang kemarin kamu ceritakan itu?"

Elara mengangguk.

"Iya."

"Emang hasilnya belum keluar?"

"Belum mah."

Ibunya tersenyum.

"Kalau belum keluar, kenapa kamu yang malah kelihatan tegang?"

Elara tertawa kecil.

"Karena kalau nunggu itu lebih bikin stres daripada ngerjain."

Ibunya mengangguk.

"Ya sudah. Kalau hasilnya bagus, syukurlah."

"Terus kalau belum sesuai harapan, gimana mah?"

Elara terdiam.

Ibunya menatapnya.

"Ya berarti kamu tahu harus berbuat apa setelahnya."

Elara tersenyum kecil.

"Mom always makes everything sound simple."

"Memang hidup nggak sesederhana itu."

"Terus?"

"Makanya jangan dibuat lebih rumit dari yang sebenarnya."

Elara tertawa.

"Okay."

Ia kemudian melihat jam.

"Astaga. Aku bisa telat."

Ia buru-buru berdiri, membawa tas, kemudian mengambil jaket. Sebelum keluar rumah, ia sempat membuka ponselnya.

Tidak ada email baru. Elara menghela napas.

"Still waiting.... "

Kemudian ia berangkat. Sementara itu, di apartemennya, Lucas justru mengalami situasi yang jauh lebih kacau.

Ia sedang berdiri di depan lemari sambil memegang dua jaket.

"Yang hitam.... "

Ia melihat jaket satunya.

"... atau yang abu?"

Ia menghela napas.

"Kenapa sih pergi ke kampus aja ribet?"

Ponselnya kembali berbunyi.

Grup Team Alpha.

Elara:

"Kalian udah jalan?"

Lucas mengetik cepat.

Lucas:

"Sebentar."

Kael:

"Aku sudah."

Elara:

"Of course."

Lucas:

"Kenapa 'of course'?"

Elara:

"Karena Kael pasti udah siap dari satu jam lalu."

Lucas tertawa.

Lucas:

"True."

Ia akhirnya mengambil jaket hitam.

"Okay."

"Let's go."

Namun ketika hendak membuka pintu... Lucas berhenti. Ia kembali ke meja. Membuka laptop. Mengecek email. Tidak ada.

"Seriously?"

Ia menutup laptop dengan sedikit kesal.

"Kenapa gue ikut-ikutan.... "

Lihat selengkapnya