Jejak sang Petarung: Warisan Macan Hitam

yooajh
Chapter #3

#3 Api yang Tak Padam

Langit mulai diselimuti awan gelap. Angin bertiup lebih kencang, membawa udara dingin yang menusuk. Ryo tetap berdiri tegak, matanya menatap kedua sosok di hadapannya dengan penuh ketenangan. Sasa, yang berdiri di sampingnya, mulai merapatkan genggamannya pada pedang warisannya, siap menghadapi segala kemungkinan.


Pemuda berambut hitam sebahu itu melangkah maju sedikit, seolah ingin menantang Ryo lebih dekat. “Aku masih tidak percaya… Kau benar-benar masih hidup.”


Ryo hanya diam, membiarkan mereka berbicara.


Gadis berambut pendek di samping pemuda itu menyipitkan matanya. “Jika kau masih hidup, lalu kenapa menghilang begitu lama? Apa kau benar-benar berniat membiarkan dunia melupakan Macan Hitam?”


Sasa melirik Ryo, tetapi suaminya tetap tak menunjukkan reaksi apa pun. Hanya tatapannya yang sedikit berubah—tajam dan dingin.


Pemuda itu tersenyum kecil, namun ada kepedihan di balik senyumnya. “Kami menunggu, kau tahu? Kami berharap, setidaknya sekali saja, kau muncul kembali. Tapi kau memilih pergi. Begitu saja.”


Angin membawa keheningan yang berat.


Lalu, gadis itu melangkah maju, suaranya terdengar lebih penuh emosi. “Kau bilang kau tidak mudah mati, tapi kau meninggalkan segalanya seolah-olah Macan Hitam sudah mati! Apa kau tahu betapa banyak orang yang masih berharap padamu?! Apa kau pikir dunia ini akan baik-baik saja tanpamu?!”


Sasa mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan amarah yang tertahan dalam suara gadis itu, juga kekecewaan yang mendalam.


Namun, sebelum Sasa sempat berbicara, Ryo akhirnya membuka mulutnya.


“Aku tidak pernah meminta siapa pun untuk menungguku.”


Suaranya tenang, tetapi tegas.


Mata pemuda itu sedikit membelalak, sementara gadis itu tampak menggigit bibirnya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Tapi… kau mengajari kami untuk tidak menyerah! Kau mengajarkan bahwa kekuatan bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk melindungi! Lalu sekarang… kau bilang semua itu tidak berarti apa-apa?” suara gadis itu bergetar, matanya mulai dipenuhi emosi yang bercampur aduk.

Lihat selengkapnya