Jejak sang Petarung: Warisan Macan Hitam

yooajh
Chapter #4

#4 Percikan di Tengah Api

Udara di antara mereka menjadi lebih berat, seolah gravitasi bertambah karena aura pertarungan yang semakin memanas. Pemuda dan gadis itu menajamkan pandangan, memperhitungkan setiap gerakan Ryo. Mereka tahu, jika Ryo mulai menyerang, pertarungan akan berada di level yang berbeda.


SWOOSH!


Dalam satu kedipan mata, Ryo sudah menghilang dari tempatnya. Pemuda itu nyaris tidak sempat bereaksi ketika sebuah tendangan keras menghantam lengannya, memaksa pedangnya terpental ke udara. Ia mundur dengan cepat, matanya melebar.


“Cepat…” desisnya.


Gadis di sisinya tidak mau membuang waktu. Ia menjejak tanah, melesat dengan kecepatan luar biasa, bilah pedangnya membentuk busur cahaya perak yang siap menebas Ryo.


CLANG!


Ryo menangkisnya dengan mudah, tetapi kali ini gadis itu sudah siap. Ia memutar tubuhnya di udara, menggunakan momentum untuk melancarkan serangan kedua, lebih cepat dan lebih tajam.


Ryo tersenyum tipis.


Dengan satu gerakan cepat, ia melompat ke belakang, menghindari tebasan itu. Namun, sebelum kakinya menyentuh tanah, pemuda tadi sudah melesat dengan tangan kosong, mencoba menangkap Ryo dalam posisi rentan.


Sebuah rencana yang bagus—


Jika lawan mereka bukanlah Macan Hitam.


Ryo menekuk tubuhnya di udara, lalu mendarat dengan satu tangan di tanah, berputar seperti badai sebelum melesat kembali ke depan.


Pemuda itu kaget. “Apa—”


DORR!


Sebuah pukulan keras menghantam perutnya, membuatnya terdorong ke belakang dengan napas tertahan. Gadis itu tidak sempat bereaksi sebelum Ryo sudah muncul di hadapannya.


Mata hijau terang itu menatapnya tajam.


“Masih terlalu banyak celah,” ujar Ryo.


CLANG!


Dalam satu gerakan, pedangnya menebas ke bawah—tetapi bukan untuk melukai. Ujung pedangnya hanya menggores tanah di depan kaki gadis itu, cukup untuk membuatnya membeku di tempat.


Sunyi.


Gadis itu tidak berkedip. Napasnya memburu. Ia tahu, jika Ryo menghendakinya, pertarungan sudah selesai beberapa detik lalu.


Pemuda yang tadi terjatuh kembali berdiri, memegang perutnya dengan satu tangan, tetapi tidak terlihat marah. Ia justru tersenyum kecil.


“…Jadi begini rasanya berada di hadapan Macan Hitam.”


Lihat selengkapnya