Kilatan petir membelah langit, menerangi siluet tiga sosok yang berdiri di tengah hujan. Percakapan sebelumnya masih mengendap dalam benak Nayla. Ia menatap dua bekas murid Ryo di depannya—pemuda yang penuh tekad dan gadis yang masih ragu-ragu.
“Mengapa kalian masih berpegang pada sesuatu yang telah berlalu?” tanya Nayla akhirnya.
Si pemuda menatapnya tajam. “Karena Macan Hitam bukan hanya sekadar nama. Dia adalah simbol. Tanpa dia, dunia ini kehilangan keseimbangan.”
“Dan menurut kalian, itu berarti dia harus kembali?” Nayla menyilangkan tangan di dada. “Kalian tidak tahu apa yang telah dia lalui. Kalian hanya melihat sosoknya di masa lalu, bukan dirinya yang sekarang.”
Si gadis, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Mungkin begitu. Tapi apa kau tidak merasakan hal yang sama, Nayla? Kita semua tumbuh dengan ajaran Ryo. Jika dia benar-benar melepaskan semua itu, lalu apa artinya bagi kita?”
Nayla terdiam. Ada kebenaran dalam kata-kata itu. Ia sendiri pernah bertanya-tanya, apakah Ryo yang sekarang masih sama dengan Ryo yang dulu?
“Aku tak menyangkal bahwa aku merindukan sosoknya,” jawab Nayla pelan. “Tapi itu bukan berarti kita harus memaksanya kembali ke jalur yang telah ia tinggalkan.”
Si pemuda menghela napas berat, lalu menatap Nayla dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kami tidak berniat memaksanya. Tapi jika keadaan dunia memerlukan Macan Hitam untuk kembali, maka kami akan melakukan apa pun yang dibutuhkan untuk itu.”
Hening menggantung di antara mereka bertiga. Hujan yang deras seolah menjadi latar belakang dari konflik batin yang sedang mereka hadapi.