Jejak Yang Dihapus

linda ulfianah
Chapter #1

Malam Yang Mengubah Segalanya

"Rumah bukan hanya tempat seseorang pulang. Kadang-kadang rumah adalah tempat seseorang belajar menerima bahwa tidak semua orang akan kembali lagi."

Hujan turun sejak menjelang Magrib. Bukan hujan yang deras, melainkan gerimis panjang yang membuat langit seolah lupa cara berhenti menangis. Di teras rumah sederhana bercat krem, aroma tanah basah bercampur dengan harum melati yang ditanam Nadira sejak mereka pertama kali menempati rumah itu tujuh belas tahun silam. Dari dapur terdengar bunyi kuah mendidih. Sop ayam kesukaan Ardiyan hampir matang. Nadira mengangkat tutup panci, mengaduk perlahan, lalu mencicipi sedikit kuahnya.

"Kurang sedikit garam," gumamnya sambil tersenyum.

Ia sudah bisa membayangkan komentar suaminya.

"Masakanmu selalu kurang garam, tapi entah kenapa aku selalu nambah dua piring."

Kalimat itu tak pernah berubah selama bertahun-tahun, dan entah mengapa, Nadira tak pernah bosan mendengarnya. Di ruang tengah, Rafi yang baru berusia sembilan tahun sedang menyusun balok-balok kayu menjadi sebuah benteng.

"Bu!" serunya penuh semangat. "Kalau Ayah pulang, suruh lihat ya. Ini benteng paling besar yang pernah aku buat."

"Tentu. Ayah pasti bangga." Nadira menoleh sambil tersenyum.

Di sudut ruang keluarga, Alya yang duduk di kelas sepuluh SMA belajar sambil mengenakan headset. Sesekali matanya melirik jam dinding.

"Jam segini Ayah belum pulang?"

Pukul tujuh lewat dua belas menit. Nadira ikut melihat ke arah jam.

"Masih lembur, mungkin." Jawaban itu terdengar biasa. Namun malam ini, bahkan Nadira sendiri tidak yakin pada kata-katanya.

Ardiyan bukan lelaki yang pandai merangkai kalimat romantis. Ia tidak pernah membawa bunga saat pulang kerja. Ia juga jarang mengucapkan "aku cinta kamu." Sebagai gantinya, ia menunjukkan kasih sayang lewat hal-hal kecil. Ia selalu memastikan tabung gas terisi sebelum habis, mengecek rem sepeda Rafi setiap Minggu pagi atau diam-diam mengganti lampu teras yang mati sebelum Nadira sempat mengeluh, dan setiap kali Nadira memasak sambil mengikat rambut seadanya, Ardiyan akan berdiri di belakangnya, merapikan ikatan rambut itu tanpa berkata apa pun.

"Kalau rambutmu rapi, masakmu juga tambah enak," candanya suatu hari.

Nadira selalu menggeleng sambil tertawa. Begitulah Ardiyan. Tidak pandai mengucapkan cinta. Tetapi pandai membuat keluarganya merasa dicintai. Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ardiyan.

"Maaf, Bu. Hari ini mungkin agak malam."

Hanya satu kalimat. Tidak ada penjelasan. Tidak ada emoji senyum seperti biasanya. Padahal hampir setiap kali lembur, ia selalu menambahkan,

"Jangan tunggu makan."

Entah mengapa, malam ini kalimat itu tidak ada. Nadira segera membalas.

"Baik. Hati-hati di jalan."

Pesan terkirim. Centang dua. Ia menunggu. Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Tanda centang itu tak pernah berubah menjadi biru. Di luar, hujan masih turun pelan. Udara semakin dingin. Nadira mematikan kompor agar sop tidak terlalu matang. Ia lalu menutup panci rapat-rapat, berharap kehangatannya tetap terjaga sampai suaminya pulang. Tanpa ia sadari, malam itu adalah malam terakhir ia memasak untuk keluarganya dalam keadaan lengkap. Ia belum tahu bahwa beberapa jam lagi sebuah telepon dari nomor tak dikenal akan mengubah hidup mereka selamanya. Dan ia sama sekali belum tahu bahwa sejak sore tadi, seseorang telah mulai memburu lelaki yang paling ia cintai.

Pukul 19.46. Di sebuah ruas jalan yang menghubungkan kawasan industri Ranuwijaya dengan pusat kota, hujan jatuh semakin rapat. Lampu-lampu kendaraan memantul di atas aspal yang basah, membentuk garis-garis cahaya yang bergetar seperti bayangan di permukaan air. Sebuah sedan hitam melaju dengan kecepatan sedang. Di balik kemudinya, Ardiyan Pramudya menggenggam setir lebih erat dari biasanya. Tatapannya beberapa kali berpindah dari jalan ke kaca spion. Sebuah mobil berwarna abu-abu masih berada di belakangnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Terlalu lama untuk disebut kebetulan. Ardiyan menarik napas pelan.

"Tetap tenang..." gumamnya dalam hati.

Ia sengaja membelok ke sebuah minimarket yang masih buka dua puluh empat jam. Mobil abu-abu itu terus melaju lurus. Ardiyan menunggu beberapa detik. Mungkin ia hanya terlalu curiga. Mungkin benar itu hanya pengendara lain. Ia mengembuskan napas lega. Namun baru saja hendak kembali menyalakan mesin, layar ponselnya menyala. Nomor tak dikenal. Ardiyan ragu sesaat, lalu mengangkatnya.

"Ya?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara napas. Lalu terdengar suara laki-laki yang berat, datar, dan tanpa emosi.

"Kamu seharusnya menyerahkan buku itu. Kalian salah orang." Ardiyan membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Lima belas tahun bekerja membuatmu lupa satu hal. Kami selalu tahu siapa yang menyimpan rahasia." Suara itu berhenti sejenak.

Sambungan telepon terputus. Ardiyan menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Tangannya perlahan mengepal.

Jadi... Mereka sudah tahu. Ia membuka laci kecil di samping kursi kemudi. Di dalamnya terdapat sebuah buku bersampul hitam tanpa judul. Sampulnya mulai kusam. Sudut-sudutnya terkelupas, seolah telah berpindah tangan berkali-kali. Ardiyan mengusap pelan permukaan buku itu. Di halaman pertama hanya tertulis satu kalimat dengan tinta hitam yang mulai memudar.

"Jika buku ini ditemukan, berarti seseorang telah gagal menjaga kebenaran."

Kalimat itu ditulis dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan tangan almarhum mertuanya. Ayah Nadira. Ardiyan menutup buku itu perlahan. Bayangan wajah Nadira, Alya, dan Rafi bergantian memenuhi pikirannya. Ia sadar, sejak memutuskan menyimpan buku itu bertahun-tahun lalu, ia bukan lagi mempertaruhkan nyawanya sendiri. Ia mempertaruhkan keluarganya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardiyan berharap ia tidak pernah mengetahui isi buku tersebut. Hujan di luar semakin deras. Tiba-tiba...

Brak!

Sebuah kendaraan menghantam bagian belakang mobilnya dengan keras. Tubuh Ardiyan terdorong ke depan. Sabuk pengaman menahan dadanya hingga terasa sesak. Belum sempat ia menoleh, dua pria berjaket hitam turun dari mobil yang menabraknya. Mereka tidak berteriak. Tidak marah. Tidak memeriksa kondisi kendaraan. Mereka berjalan pelan. Terlalu pelan. Menuju mobil Ardiyan. Salah seorang dari mereka mengangkat tangan kanannya. Di sana terlihat kilatan logam kecil yang memantulkan cahaya lampu jalan. Ardiyan tahu, mereka datang bukan untuk menyelesaikan urusan kecelakaan. Mereka datang untuk mengambil sesuatu. Atau memastikan tak ada lagi yang bisa menceritakan rahasia di dalam buku hitam itu.

Hujan semakin deras. Suara tetesannya memukul atap minimarket, bercampur dengan denting musik pelan dari pengeras suara di dalam toko. Ardiyan tidak langsung membuka pintu mobil. Tatapannya terkunci pada dua lelaki yang kini tinggal beberapa langkah lagi. Seorang bertubuh tinggi dengan payung hitam tetap terlipat di tangannya meski hujan mengguyur deras. Seolah ia tidak peduli tubuhnya basah. Lelaki satunya lebih pendek, mengenakan topi hitam yang menutupi sebagian wajah. Mereka berjalan tanpa tergesa. Tanpa ragu. Seperti orang yang sudah tahu persis siapa targetnya. Ardiyan meraih ponselnya. Layar masih menyala. Jari-jarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.

Maaf kalau akhir-akhir ini aku sering pulang malam. Kalau terjadi sesuatu... jangan percaya siapa pun.

Ia berhenti mengetik. Kalimat itu terasa terlalu menakutkan. Perlahan ia menghapusnya. Satu demi satu huruf menghilang dari layar. Akhirnya ia hanya menulis,

Maaf, Bu. Hari ini mungkin agak malam.

Pesan itu terkirim. Ia menatap foto keluarga yang menjadi gambar latar ponselnya. Foto itu diambil dua bulan lalu di pantai. Rafi tertawa sambil memegang layang-layang. Alya memasang wajah kesal karena rambutnya diterpa angin. Nadira tersenyum ke arah kamera. Sedangkan Ardiyan… Ia tidak melihat kamera. Ia justru sedang memandang keluarganya.

"Maafkan aku," bisiknya.

Bukan karena ia telah melakukan kejahatan. Tetapi karena selama bertahun-tahun ia memilih memikul semuanya sendirian.

Lihat selengkapnya