Jejak Yang Dihapus

linda ulfianah
Chapter #2

Pagi Yang Tak Lagi sama

"Ada pagi yang tidak membangunkan manusia dengan sinar matahari, melainkan dengan kenyataan bahwa mulai hari itu, tidak ada lagi yang akan benar-benar sama."

Nadira tidak bisa tidur malam itu. Ia duduk di kursi ruang makan hingga adzan Subuh berkumandang dari musala di ujung gang. Semangkuk sop ayam di hadapan kursi Ardiyan masih utuh. Kuahnya telah dingin. Minyak di permukaannya membeku menjadi lapisan tipis kekuningan. Nadira menatapnya lama. Tiba-tiba terlintas sebuah kenangan. Beberapa bulan lalu. Malam itu juga hujan. Ardiyan pulang hampir pukul sepuluh. Bajunya basah. Sepatunya penuh lumpur. Begitu membuka pintu rumah, Rafi langsung berlari memeluk kakinya.

"Ayah!"

"Eh, belum mandi. Nanti Rafi ikut kotor." Ardiyan tertawa kecil.

"Aku nggak peduli."

"Ayah lapar?"

"Lapar sekali."

"Aku sudah tahu." Nadira menggeleng sambil tersenyum.

Ia menghangatkan sop ayam. Ardiyan mencicipi satu sendok. Lalu pura-pura memasang wajah serius.

"Nadira..."

"Iya?"

"Masakanmu..."

Nadira menunggu.

"...tetap kurang garam."

Mereka tertawa bersama. Rafi ikut tertawa meski tidak mengerti apa yang lucu. Alya yang sedang belajar dari ruang tengah hanya menggeleng.

"Ayah sama Ibu memang nggak pernah bosan bercanda."

Tak seorang pun tahu bahwa kenangan sederhana itu kelak menjadi salah satu hal yang paling dirindukan Nadira. Suara azan membuyarkan lamunannya. Tanpa sadar, air mata telah membasahi pipinya. Ia cepat-cepat mengusapnya. Ia tidak ingin Alya melihatnya menangis. Seorang ibu, pikirnya, harus tetap kuat. Meski sesungguhnya tidak ada sekolah yang pernah mengajarkan bagaimana caranya menjadi kuat ketika orang yang paling kita percaya tiba-tiba menghilang.

Pukul tujuh pagi. Alya keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah yang sudah rapi. Namun wajahnya tampak pucat.

"Bu..."

"Iya."

"Kalau Ayah nggak pulang lagi bagaimana?"

Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti. Nadira menarik napas panjang. Lalu memeluk putrinya.

"Selama belum ada yang mengatakan sebaliknya… Kita percaya Ayah akan pulang." Suaranya bergetar.

Alya akhirnya mengangguk. Namun Nadira dapat merasakan tubuh putrinya ikut bergetar dalam pelukannya. Nadira selalu berharap bahwa ia masih bisa mempertahankan keyakinan itu. Pukul delapan lewat lima belas menit. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan rumah. Bukan mobil polisi. Tidak ada lampu rotator. Hanya sebuah sedan tua yang tampak biasa. Dua orang turun. Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun mengenakan kemeja putih lengan panjang. Di sampingnya, seorang perempuan muda membawa map berwarna cokelat. Mereka berdiri beberapa saat di depan pagar rumah Nadira. Lelaki itu mengembuskan napas panjang. Seolah apa yang akan disampaikannya bukan kabar yang mudah.

Lalu...

Bel berbunyi.

Ting... tong...

Nadira yang sedang membereskan meja makan menoleh ke arah pintu. Entah mengapa, jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Ia melangkah menuju pintu. Saat membuka pintu. Lelaki itu memperlihatkan kartu identitas.

"Selamat pagi, Bu."

"Saya Inspektur Fajar. Kami mendapat izin untuk berbicara dengan Ibu mengenai Saudara Ardiyan Pramudya."

Nadira memandang kedua tamunya bergantian. Ia merasa sejak semalam hidupnya berubah menjadi lorong panjang yang gelap. Dan setiap pintu yang terbuka selalu membawa kabar yang lebih menakutkan daripada sebelumnya. Nadira membuka pagar lebih lebar.

"Silakan masuk, Pak."

"Terima kasih, Bu." Inspektur Fajar mengangguk sopan.

Mereka melewati halaman kecil yang dipenuhi pot bunga. Beberapa bunga bugenvil merah muda berguguran setelah semalaman diguyur hujan. Di sudut halaman, sepeda kecil milik Rafi masih berdiri dengan roda yang dipenuhi percikan lumpur. Inspektur Fajar memperhatikan rumah itu sekilas. Rumah sederhana. Bersih. Hangat. Sangat sulit membayangkan keluarga yang tinggal di dalamnya sedang berada di ambang kehancuran. Begitu memasuki ruang tamu, pandangan Inspektur tertuju pada dinding yang dipenuhi foto keluarga. Ada foto ulang tahun Alya. Foto Rafi saat lomba mewarnai. Foto Nadira dan Ardiyan yang saling tersenyum di pantai. Inspektur Fajar menarik napas pelan. Sudah hampir dua puluh tahun menjadi polisi. Ia belajar satu hal. Semakin bahagia sebuah foto keluarga semakin menyakitkan kenyataan ketika salah satu orang di dalamnya tiba-tiba menghilang.

"Silakan duduk, Pak."

Nadira meletakkan dua gelas teh hangat di atas meja. Tangannya tampak tenang. Namun jemari kirinya terus meremas ujung lengan baju. Kebiasaan itu muncul setiap kali ia sedang cemas. Inspektur Fajar memperhatikannya. Lalu ia membuka map cokelat yang sejak tadi dibawa oleh rekan perempuannya.

"Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan kepada Ibu."

"Silakan." Nadira mengangguk pelan.

"Kapan terakhir kali Ibu bertemu dengan Saudara Ardiyan?"

"Kemarin pagi."

"Beliau berangkat kerja seperti biasa?"

"Iya."

"Ada sesuatu yang berbeda?"

Pertanyaan itu membuat Nadira berpikir cukup lama. Semalam, pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya. Apa ada yang berbeda? Apakah Ardiyan tampak gelisah? Apakah ia sedang menyembunyikan sesuatu? Perlahan, sebuah kenangan muncul.

Kemarin pagi. Ardiyan berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya. Nadira sedang menyiapkan bekal makan siang. Seperti biasa, Ardiyan menghampirinya dari belakang. Tanpa berkata apa-apa, ia menyelipkan sehelai rambut Nadira ke balik telinganya.

"Rambutmu selalu lepas. Makanya beli jepit rambut yang bagus."

"Buat apa? Ada kamu yang selalu merapikannya." Nadira tertawa kecil.

Ardiyan hanya tersenyum. Namun pagi itu senyumnya berbeda. Lebih tipis. Lebih berat. Sebelum keluar rumah, ia memeluk Alya. Sedikit lebih lama daripada biasanya. Kemudian mengacak rambut Rafi.

"Jadi anak laki-laki yang menjaga Ibu, ya."

"Iya, Ayah!" Rafi tertawa.

Tak ada yang menganggap kalimat itu aneh. Semua mengira Ardiyan hanya sedang bercanda. Kini, setiap kata itu terdengar seperti pesan perpisahan. Nadira menundukkan kepala.

"Ada..."

"Apa itu, Bu?" Inspektur mengangkat pandangan.

"Suami saya lebih banyak diam." Ia menarik napas panjang.

Ruangan pun mendadak sunyi.

"Apakah beliau pernah bercerita mengenai pekerjaannya?"

"Sangat jarang."

"Musuh?" Inspektur mencatat sesuatu di buku kecilnya.

"Tidak pernah."

"Ancaman?"

"Tidak." Nadira menggeleng.

Inspektur menutup bukunya. Ia saling berpandangan dengan rekan perempuannya. Ada sesuatu yang belum ia sampaikan. Sesuatu yang sejak tadi ia timbang-timbang. Sebagai penyidik, ia membutuhkan jawaban. Namun sebagai seorang ayah, ia tahu kalimat berikutnya bisa menghancurkan seseorang.

"Bu Nadira… Tadi dini hari kami menemukan mobil milik Saudara Ardiyan." Suara Inspektur berubah lebih pelan.

"Di mana?" Nadira spontan berdiri.

"Di area parkir sebuah minimarket."

"Suami saya ada di sana?"

"Tidak." Fajar menggeleng perlahan.

"Di dalam mobil kami menemukan bercak darah..."

Ruangan terasa membeku. Cangkir teh di tangan Nadira terlepas. Prang! Pecahannya berserakan di lantai. Teh hangat mengalir pelan, membasahi keramik putih. Namun Nadira tidak bergerak. Tatapannya kosong. Satu kalimat terus bergema di kepalanya. Bercak darah. Bukan Ardiyan. Bukan suamiku. Bukan… Di luar rumah, angin pagi kembali berembus. Menggoyangkan lonceng bambu yang tergantung di teras. Suara nyaringnya terdengar lirih. Seolah rumah itu sendiri sedang mencoba membangunkan penghuninya dari mimpi buruk yang ternyata adalah kenyataan.

Nadira masih berdiri mematung. Pecahan cangkir berserakan di bawah kakinya. Aroma teh melati memenuhi ruang tamu, bercampur dengan keheningan yang terasa semakin menyesakkan. Alya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu segera menghampiri.

"Bu..."

Suaranya lirih. Nadira tidak menjawab. Tatapannya masih kosong, seolah pikirannya tertinggal jauh di tempat yang bahkan ia sendiri tak mampu menjangkaunya. Inspektur Fajar berdiri dari kursinya.

"Maaf, Bu." Saya tidak bermaksud membuat Ibu semakin terpukul."

Baru kali itu Nadira mengangkat wajah. Matanya memerah. Namun tidak ada air mata. Justru itulah yang membuat Inspektur merasa lebih khawatir. Orang yang masih menangis biasanya masih bisa meluapkan kesedihan. Justru yang berbahaya adalah mereka yang terlalu diam. Karena sering kali, diam adalah cara seseorang menahan dirinya agar tidak hancur.

Beberapa menit kemudian. Setelah Alya membersihkan pecahan cangkir, mereka kembali duduk. Fajar mengeluarkan sebuah plastik bening dari dalam map. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan. Jam tangan kulit berwarna cokelat. Tali kulitnya mulai retak karena sering dipakai.

"Apakah Ibu mengenali benda ini?" Begitu melihatnya, napas Nadira tercekat.

"Itu jam tangan suami saya." Tangannya perlahan terulur.

Jam itu bukan barang mahal. Ardiyan membelinya bertahun-tahun lalu, saat gaji pertamanya sebagai auditor. Nadira bahkan masih ingat perkataan suaminya waktu itu.

"Aku tidak butuh jam mahal yang penting cukup kuat mengingatkanku kapan harus pulang."

Kalimat itu kini terasa seperti ironi yang menyakitkan. Karena justru jam itulah yang pulang lebih dulu. Sedangkan pemiliknya… masih belum pulang.

"Ada satu hal lagi." Fajar membuka halaman lain dari mapnya.

"Kami menemukan ini di dalam mobil." Ia menggeser sebuah kantong plastik kecil.

Isinya hanya selembar kertas. Sudah basah. Sebagian tintanya luntur. Namun masih ada satu kalimat yang bisa dibaca. "...jangan percaya siapa pun." Nadira mengernyit.

"Tulisan tangan siapa ini?"

Lihat selengkapnya