Jejak Yang Dihapus

linda ulfianah
Chapter #3

Masih Dibiarkan Hidup

"Ada rahasia yang tidak dikubur di dalam tanah. Ia disimpan di dalam ingatan, menunggu seseorang cukup berani untuk mengingatnya."

Malam turun lebih cepat. Hujan belum juga datang. Udara terasa pengap. Nadira menutup jendela ruang kerja Ardiyan satu per satu. Tangannya berhenti ketika melihat kalender meja. Tanggal kemarin masih dilingkari tinta merah. Tidak ada catatan. Tidak ada janji. Hanya sebuah lingkaran kecil yang dibuat sangat rapi.

"Aneh..." gumamnya.

Selama bertahun-tahun menikah, Ardiyan hanya melingkari tanggal-tanggal penting. Ulang tahun anak-anak. Hari jadi pernikahan. Jadwal rapat besar. Atau… sesuatu yang tidak boleh ia lupakan. Namun tanggal itu bukan salah satunya. Mengapa harus dilingkari. Nadira membuka laci meja sekali lagi. Kosong. Ia menggeser map-map yang tersusun rapi. Masih tidak ada apa pun. Tatapannya kemudian berhenti pada sebuah pena hitam yang terselip di tempat pensil. Pena itu tampak biasa. Namun Nadira mengenalinya. Itu pena favorit Ardiyan. Ia selalu berkata,

"Kalau menulis dengan pena ini, pikiranku lebih rapi."

"Lelaki aneh...". Nadira berbisik sembari tersenyum kecil.

Ia mengambil pena itu. Saat hendak meletakkannya kembali, tanpa sengaja ujung penanya mengenai meja. Tok. Bunyinya berbeda. Nadira mengernyit. Ia mengetukkan pena itu sekali lagi. Tok... tok… Suara itu menggema pelan. Seolah bagian bawah meja tidak padat. Ia berlutut. Tangannya meraba sisi bawah meja. Jemarinya menyentuh sesuatu. Sebuah tonjolan kecil. Hampir tak terlihat. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menekan tonjolan itu. Tidak terjadi apa-apa. Ia mencobanya sekali lagi. Masih tidak bergerak.

"Mas...apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" bisiknya lirih.

Di ruang tamu… Rafi sedang menggambar. Ayah, Ibu, Kak Alya, dan dirinya sendiri. Empat orang berdiri bergandengan tangan. Di sudut gambar, ia menggambar sebuah rumah dengan cerobong asap yang mengepul.

"Bagus sekali." kata Alya.

"Tapi kalau Ayah belum pulang gambar ini jadi bohong ya?" Rafi menghapus gambar ayahnya perlahan. Ia menunduk.

Alya tidak mampu menjawab. Ia hanya memeluk adiknya. Untuk pertama kalinya sejak Ayah mereka menghilang. Alya ikut menangis. Tangisan yang selama ini ia tahan agar ibunya tidak semakin sedih. Dari balik pintu ruang kerja, Nadira mendengar isak kedua anaknya. Ia memejamkan mata. Hatinya terasa seperti diremas. Ia ingin berlari keluar. Memeluk mereka. Mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, Nadira sendiri tidak yakin apakah kalimat itu masih benar. Ponsel Nadira bergetar. Layar menunjukkan satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Isi pesannya singkat.

"Kalau ingin menemukan suamimu, berhentilah percaya kepada polisi."

Nadira membeku. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa mendengarnya sendiri. Ia membaca pesan itu sekali lagi. Lalu untuk ketiga kalinya. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada foto profil. Hanya satu kalimat. Tangannya refleks menekan tombol panggil. Nomor itu tidak aktif. Seolah baru saja dibuang setelah pesan dikirim. Nadira memandang layar ponselnya cukup lama. Lalu, perlahan menghapus air mata yang masih tersisa di pipinya. Untuk pertama kalinya sejak Ardiyan menghilang. Sebuah pikiran muncul di kepalanya.

"Kalau aku hanya menunggu. Aku mungkin tidak akan pernah menemukan Mas Ardiyan." Ia menarik napas panjang. Lalu berdiri.

Matanya kembali menatap foto lama yang tadi dibawa pulang oleh polisi setelah difoto untuk keperluan penyelidikan. Di belakang foto itu tertulis:

Pantai Kenanga. 17 Juli 1998.

"Pantai Kenanga..." Nadira mengulang nama itu pelan.

Ia tidak ingat tempat itu. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan jawaban pertama ada di sana. Malam itu untuk pertama kalinya, Nadira memutuskan melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Ia akan mencari masa lalu keluarganya sendiri. Dan ia belum tahu bahwa keputusan itu akan menyeretnya ke dalam rahasia yang telah dikubur hampir tiga puluh tahun.

Malam semakin larut. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh tujuh menit. Alya dan Rafi akhirnya tertidur setelah lama menunggu kabar yang tak kunjung datang. Rumah itu kembali tenggelam dalam kesunyian. Nadira masih duduk di ruang kerja Ardiyan. Di hadapannya tergeletak secarik kertas berisi satu nama. Pantai Kenanga. Ia sudah mengetik nama itu berkali-kali di ponselnya. Hasilnya nihil. Tidak ada pantai dengan nama itu. Tidak ada berita. Tidak ada alamat. Seolah tempat itu memang tidak pernah ada. Nadira memejamkan mata.

"Lalu harus mulai dari mana, Mas..." 

Pertanyaan itu menggantung di udara. Tak ada yang menjawab. Matanya lalu beralih ke rak buku. Di sudut paling atas terdapat sebuah album foto keluarga yang sudah lama tidak dibuka. Ia menariknya perlahan. Debu tipis beterbangan. Halaman demi halaman ia balik dengan hati-hati. Foto ulang tahun Alya. Liburan ke Yogyakarta. Rafi yang baru belajar berjalan. Ardiyan yang sedang memanggang ikan sambil wajahnya penuh asap. Nadira tersenyum tipis. Untuk sesaat, ia lupa bahwa suaminya sedang menghilang. Namun senyum itu segera memudar ketika sebuah foto kecil terselip dan jatuh ke lantai. Foto itu memperlihatkan Ardiyan sedang berjabat tangan dengan seorang lelaki berambut putih. Keduanya berdiri di depan sebuah gedung tua yang papan namanya sudah kusam. Di belakang foto terdapat tulisan tangan Ardiyan.

"Kalau suatu hari aku kehilangan arah, temuilah Pak Harun." Nadira membaca tulisan itu berkali-kali.

Nama itu asing. Namun Ardiyan bukan tipe orang yang menulis sesuatu tanpa alasan. Ia mengambil ponselnya dan memperbesar foto tersebut. Di dada lelaki tua itu tergantung sebuah kartu identitas. Tulisan pada kartu itu buram. Tetapi masih tampak satu kata. ARSIP. Nadira mengernyit.

"Arsip apa?" Ia memperbesar lagi.

Gambar mulai pecah. Tak bisa dibaca. Keesokan paginya. Pukul enam. Untuk pertama kalinya sejak Ardiyan menghilang, Nadira berdandan bukan untuk menghadiri acara keluarga atau mengantar anak sekolah. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan jilbab abu-abu. Di cermin, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Namun sorot matanya berubah. Ada sesuatu yang baru. Tekad. Alya keluar dari kamar.

"Ibu mau ke mana?" tanya Alya penasaran.

"Ibu mau mencari seseorang." Nadira menoleh.

"Siapa?" tanyanya lagi.

"Orang yang mungkin bisa membawa kita kepada Ayah." Nadira memandang foto di tangannya.

"Bu… Aku ikut." Alya menggigit bibirnya.

"Kamu di rumah sama Rafi." Nadira menggeleng pelan.

"Tapi..." Alya berusaha merayu.

"Kalau Ayah pulang harus ada yang membukakan pintu." Nadira berusaha tersenyum.

Kalimat itu membuat Alya menunduk. Ia tahu ibunya sedang berusaha kuat. Maka ia pun memilih mengangguk. Sebelum keluar rumah, Nadira berhenti di teras. Tatapannya tertuju pada sandal Ardiyan. Masih tersusun rapi di rak. Ia sempat ingin membereskannya ke dalam lemari. Namun urung.

"Kalau Mas pulang aku ingin semuanya tetap seperti kemarin." bisiknya lirih.

Ia menutup pintu perlahan. Lalu melangkah keluar. Tanpa ia sadari. Dari balik kaca sebuah warung kopi di ujung gang, seseorang sedang mengamatinya. Pria itu mengenakan topi lusuh dan jaket ojek daring. Di tangannya ada secangkir kopi yang hampir tak disentuh. Ia menunggu hingga Nadira menaiki angkutan online. Kemudian mengeluarkan ponsel. Satu pesan singkat dikirim. Target mulai bergerak. Tak sampai lima detik. Balasan datang.

"Jangan hentikan. Ikuti saja. Dia harus menemukan apa yang memang perlu dia temukan." Pria itu tersenyum tipis.

Di bawah meja warung, tergeletak sebuah map hijau tua. Pada sudut kanannya tertulis sebuah angka kecil dengan tinta merah. 17/1998. Pria itu memasukkan map tersebut ke dalam tas selempangnya. Kemudian berjalan pelan mengikuti mobil yang membawa Nadira. Pagi itu tanpa disadari Nadira. Ia bukan hanya sedang mencari seseorang bernama Pak Harun. Ia sedang memasuki lorong masa lalu yang sejak lama dijaga oleh orang-orang yang tidak menginginkan kebenaran terungkap.

Di tempat lain, ada orang-orang yang tetap hidup bukan karena mereka bebas, melainkan karena kematian mereka belum diizinkan. Ardiyan perlahan membuka mata. Gelap. Yang pertama ia rasakan bukan rasa sakit. Melainkan dingin. Dingin yang merambat dari lantai semen hingga ke tulang punggungnya. Kedua tangannya terikat di belakang kursi. Pergelangan tangannya mulai lecet. Ia mencoba mengingat. Hujan. Mobil. Dua lelaki. Benturan keras di bagian belakang kepala. Sebuah lampu menyala. Cahayanya menyilaukan. Ardiyan memicingkan mata. Di balik cahaya itu, seorang lelaki duduk dengan tenang. Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya memutih. Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika sangat rapi. Di depannya hanya ada secangkir teh yang masih mengepulkan uap. Seolah-olah mereka bukan sedang berada di ruang penyekapan. Melainkan di ruang tamu yang nyaman. Lelaki tua itu mengangkat cangkirnya.

"Mereka bilang teh paling nikmat diminum ketika hujan." Ia menyeruput pelan.

"Sayang sekali hari ini tidak hujan..." Tatapannya berpindah kepada Ardiyan.

"Aku tidak mengenalmu." jawab Ardiyan pelan.

"Benarkah?" Tatapannya tetap tajam.

"Padahal selama enam bulan terakhir kamu sibuk mencari namaku."

Jantung Ardiyan berdegup lebih cepat. Lelaki tua itu mengetahui semuanya. Ia meletakkan cangkirnya.

"Bagaimana keadaan Nadira?" Pertanyaan itu membuat Ardiyan spontan menegakkan tubuh.

"Apa yang kalian lakukan kepada istriku?" Lelaki tua itu tidak langsung menjawab.

Ia mengambil sebuah foto dari atas meja. Foto Nadira. Sedang berdiri di depan rumah pagi tadi. Diambil dari kejauhan. Ardiyan mengepalkan tangannya sekuat mungkin.

"Kalian mengawasinya."

"Bukan. Kami menjaganya" lelaki itu menggeleng pelan.

"Jangan permainkan kata-kata." Ardiyan tertawa pendek. Tawa yang penuh kemarahan.

"Kalau ingin membunuhku. Bunuh saja. Tapi jangan sentuh keluargaku." jawab Ardiyan dipenuhi amarah.

Ruangan kembali sunyi. Lelaki tua itu berdiri. Ia berjalan mendekati Ardiyan. Lalu membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Dengar baik-baik." Suaranya sangat pelan. Namun justru terdengar mengancam.

"Kamu masih hidup bukan karena kami baik." Ia menatap lurus mata Ardiyan.

"Kamu masih hidup, karena hanya kamu yang tahu di mana dokumen itu."

Pada saat yang sama, mobil yang ditumpangi Nadira berhenti di depan sebuah bangunan tua. Cat temboknya mengelupas. Papan namanya hampir tidak terbaca. Di atas pintu masuk hanya tersisa beberapa huruf yang masih utuh. ...sip Daerah. Nadira mengangkat ponselnya. Ia kembali melihat foto Ardiyan bersama lelaki tua itu. Bangunannya sama. Ia menarik napas panjang. Lalu melangkah masuk. Udara di dalam gedung berbau kertas tua dan kayu lembap. Rak-rak besi berjajar hingga ke ujung ruangan. Ribuan map tersusun berdasarkan tahun. Seorang petugas perempuan paruh baya mengangkat wajah dari balik meja.

"Selamat pagi. Bisa saya bantu?"

"Saya mencari seseorang. Namanya Pak Harun." Nadira tersenyum gugup.

"Pak Harun?" Perempuan itu tampak berpikir keras.

"Beliau sudah pensiun. Empat tahun yang lalu." jawabnya sembari kembali mengingat.

"Lalu, apakah saya bisa bertemu beliau?" Harapan Nadira seketika meredup.

Lihat selengkapnya