"Ada orang yang menyimpan rahasia karena takut. Ada pula yang menyimpannya karena tau bahwa kebenaran bisa membunuh orang yang belum siap menerimanya."
Nadira perlahan-lahan melangkah memasuki rumah tua itu. Daun pintu kayu yang baru saja didorongnya menutup kembali dengan bunyi pelan, meninggalkan keheningan yang terasa begitu pekat.
Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Rak-rak kayu tua berdiri memenuhi dinding. Puluhan map kusam tersusun rapi di dalamnya. Sebagian mulai menguning dimakan usia, sebagian lain diikat dengan tali rafia yang warnanya telah memudar. Debu tipis menggantung di udara, menari pelan diterpa cahaya matahari yang menyelinap melalui celah tirai.
Ruangan itu terasa seperti tempat di mana waktu memilih untuk berhenti. Lelaki tua itu masih membelakanginya. Kursi goyang yang didudukinya bergerak perlahan. Kriet… Kriet… Kriet...
Suara kayu yang bergesekan dengan lantai terdengar begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat bulu kuduk Nadira meremang. Tangannya tanpa sadar menggenggam erat tali tas yang disampirkannya di bahu. Ada sesuatu yang ganjil. Sangat ganjil.
Bagaimana mungkin lelaki itu mengetahui kedatangannya?
Alamat rumah ini baru ia terima kemarin sore. Bahkan petugas arsip yang bekerja bertahun-tahun bersama Pak Harun mengaku tidak mengetahui keberadaannya.
Kalau begitu, siapa yang memberi tahu lelaki tua itu?
Atau memang sejak awal...
Pak Harun telah mengetahui bahwa hari ini akan tiba?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala Nadira. Ia ingin mundur. Ingin keluar dari rumah tua itu. Menghirup udara pagi yang terasa jauh lebih aman daripada keheningan di dalam ruangan. Namun kedua kakinya seolah kehilangan tenaga. Tetap berdiri di tempat. Tetap memandang punggung lelaki tua yang belum juga menoleh.
Entah mengapa, Nadira merasa sedang berdiri di hadapan seseorang yang telah memikul beban rahasia selama puluhan tahun. Rahasia yang terlalu berat untuk diceritakan. Namun terlalu penting untuk dibawa mati.
Angin pagi berembus pelan melalui jendela yang sedikit terbuka. Membuat tirai putih di sudut ruangan bergoyang perlahan. Di saat yang sama, sebuah map tua di atas rak paling ujung terjatuh sendiri ke lantai.
Bruk.
Suara itu memecah kesunyian. Nadira refleks menoleh. Map berwarna cokelat itu terbuka. Beberapa lembar dokumen yang telah menguning berserakan di lantai.
Di antara tumpukan kertas itu, sekilas matanya menangkap sebuah foto hitam putih yang sebagian wajah seseorang telah dicoret dengan tinta hitam pekat. Sebelum Nadira sempat melihat lebih jelas, suara lelaki tua itu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan. Namun justru terasa lebih dalam.
"Masuklah. Ada terlalu banyak pertanyaan yang kau bawa."
Ia berhenti sejenak.
"Lagipula, kita tidak punya banyak waktu."
Kalimat terakhir itu membuat dada Nadira kembali berdegup keras.
Tidak punya banyak waktu. Maksudnya apa? Apakah seseorang sedang mengejar mereka? Apakah Pak Harun sedang sakit? Atau ada sesuatu yang akan terjadi pagi itu?
Perlahan kursi goyang itu berhenti bergerak. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Nadira merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan sekadar takut. Melainkan perasaan bahwa setiap langkah yang ia ambil sejak keluar dari rumah pagi ini telah membawanya ke ambang sebuah kebenaran yang selama hampir tiga puluh tahun dikubur begitu dalam.
Ia datang untuk mencari suaminya. Namun nalurinya mengatakan bahwa ia mungkin baru saja menemukan pintu menuju alasan mengapa ayahnya harus mati. Dan ketika sebuah rahasia yang dikubur puluhan tahun mulai mengetuk kembali, hampir selalu ada seseorang yang rela membunuh agar rahasia itu tetap terkubur.
Pak Harun akhirnya berdiri. Usianya mungkin telah melewati tujuh puluh tahun. Punggungnya sedikit membungkuk. Namun sorot matanya masih tajam. Tatapan seseorang yang terlalu banyak melihat kenyataan pahit. Ia berjalan pelan menuju sebuah meja kayu.
"Boleh tutup pintunya."
Nadira menurut. Begitu pintu benar-benar tertutup, Pak Harun memutar anak kunci dua kali. Klik. Klik. Gerakan sederhana itu membuat dada Nadira kembali berdebar.
"Kenapa dikunci, Pak?"
Pak Harun tidak segera menjawab. Ia justru berjalan ke arah jendela dan menyingkap sedikit tirainya. Tatapannya mengarah ke jalan di depan rumah. Beberapa detik.
Lalu ia menutup tirai kembali. Barulah ia menoleh.
"Karena sejak kau turun dari taksi… kau tidak datang sendirian."
Nadira pun membeku dan bertanya.
"Maksud Bapak?"
"Ada sedan hitam." Pak Harun menghela napas panjang.
"Berhenti sekitar lima puluh meter dari rumah ini. Lelaki yang duduk di dalamnya tidak turun. Tapi sejak lima menit lalu, dia belum mematikan mesin mobilnya."
Jantung Nadira berdegup semakin cepat. Ia spontan hendak membuka tirai. Namun Pak Harun menahan pergelangan tangannya.
"Jangan dibuka. Mereka tahu kau akan melihat. Terkadang, cara terbaik untuk menghadapi orang yang mengawasi kita adalah berpura-pura tidak menyadari keberadaan mereka." Suara Pak Harun tetap tenang.
Nadira perlahan menurunkan tangannya. Pikirannya kembali mengingat ancaman melalui telepon semalam.
"Kalau Ibu tetap mencari... anak-anak Ibu yang akan membayar harganya."
Kalimat itu kembali bergaung di dalam kepalanya. Berarti ancaman itu bukan gertakan. Seseorang benar-benar mengikuti setiap langkahnya. Begitu jelas. Begitu dingin. Seolah orang yang mengucapkannya masih berdiri tepat di belakangnya.
Nadira merasakan telapak tangannya mulai berkeringat. Dadanya sesak. Seseorang benar-benar mengikuti setiap langkahnya. Tanpa sadar, jemarinya meraih ponsel yang masih tersimpan di dalam tas. Layar itu masih gelap. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan baru.
Namun justru keheningan itulah yang membuatnya semakin takut. Pikirannya melayang kepada Alya dan Rafi.
Apakah mereka baik-baik saja? jangan-jangan seseorang sedang mengawasi rumahnya saat ini?
Jantung Nadira berdegup semakin cepat. Ia membayangkan halaman rumah yang pagi tadi ditinggalkannya dalam keadaan sepi. Membayangkan dua anaknya berdiri di depan pagar tanpa mengetahui bahwa bahaya mungkin sedang mengintai dari kejauhan. Bayangan itu membuat lututnya hampir kehilangan tenaga.
Untuk sesaat, keinginannya untuk mencari Ardiyan runtuh oleh satu pertanyaan yang terus menghantam pikirannya.
Bagaimana jika ancaman itu benar?
Bagaimana jika semua ini adalah jebakan untuk memancingnya keluar rumah?
Bagaimana jika orang-orang yang menculik Ardiyan sebenarnya tidak sedang menunggunya di sini, melainkan sedang menunggu anak-anaknya di sana?
Nadira memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi ia menahannya agar tidak jatuh.
Sebagai seorang ibu, tidak ada ketakutan yang lebih besar daripada membayangkan sesuatu terjadi pada anak-anaknya.
Ia rela kehilangan apa pun. Bahkan dirinya sendiri. Tetapi bukan Alya. Bukan Rafi pula. Dalam benaknya, wajah kedua anaknya muncul silih berganti. Tawa mereka semalam. Pelukan kecil Rafi sebelum tidur. Senyum Alya yang selalu berusaha terlihat kuat meski diam-diam menyimpan kecemasan sejak ayah mereka menghilang.
Nadira menggigit bibirnya pelan.
"Bertahanlah... Ibu akan pulang."
Kalimat itu hanya terucap di dalam hati. Namun sedetik kemudian, ia mengangkat kepalanya kembali.
Kalau ia menyerah sekarang dan berhenti mencari, maka Ardiyan mungkin tidak akan pernah pulang. Dan anak-anaknya akan tumbuh dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
"Ke mana Ayah pergi?"
Tarikan napasnya masih terasa berat, tetapi tatapannya mulai berubah. Rasa takut itu belum hilang. Tidak akan pernah hilang. Namun di balik ketakutan itu, tumbuh tekad yang perlahan mengalahkan keraguannya.
Ia harus menemukan Ardiyan. Sebelum orang-orang yang mengancam keluarganya bergerak lebih dulu.
Nadira menarik napas panjang, berusaha menenangkan debar jantungnya yang tak kunjung mereda. Jemarinya masih menggenggam erat tali tas hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya, tetapi napasnya yang tidak beraturan telah lebih dulu mengkhianatinya.
Pak Harun memperhatikan perempuan itu dalam diam. Tatapan mata tuanya begitu tenang, seolah ia telah melihat raut wajah yang sama puluhan tahun silam. Wajah seseorang yang dihadapkan pada pilihan yang sama sulitnya yakni melindungi keluarga atau mencari kebenaran.
"Ayahmu juga pernah seperti itu."
Ucapan Pak Harun membuat Nadira mengangkat wajah.
"Apa maksud Bapak?"
Lelaki tua itu tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.
"Setiap kali merasa keluarganya dalam bahaya, sorot matanya berubah. Persis seperti matamu sekarang."
Nadira terdiam. Untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu, ia merasa lelaki tua di hadapannya bukan sedang menilai dirinya, melainkan sedang mengenang seseorang yang pernah sangat dikenalnya.
Pak Harun kemudian melangkah perlahan menuju meja kayu di tengah ruangan. Langkahnya pelan, diiringi bunyi tongkat yang menyentuh lantai kayu tua. Tok… Tok… Tok...
Ia berhenti di sisi meja dan menggeser perlahan salah satu kursi yang menghadap ke arahnya.
"Silakan duduk, Nadira."
Nada suaranya terdengar hangat, hampir seperti seorang ayah yang sedang menyambut anaknya pulang setelah perjalanan panjang.
"Percakapan ini tidak bisa diselesaikan sambil berdiri." Pak Harun tersenyum tipis.
Nadira mengangguk pelan. Ia menarik kursi itu, lalu duduk dengan tubuh yang masih tegang. Pandangannya segera tertuju pada meja di hadapannya.
Di atas meja telah tersedia dua cangkir teh hangat. Uapnya masih mengepul. Nadira mengernyit.
"Bapak sudah menyiapkan teh?"
"Sudah kubilang. Aku menunggumu sejak kemarin."
Kalimat itu kembali membuat bulu kuduk Nadira meremang. Ia duduk perlahan.
Tangannya belum menyentuh cangkir.
"Bapak mengenal ayah saya?"
Pak Harun tidak langsung menjawab. Ia justru mengajukan pertanyaan.
"Berapa umurmu saat Achmad Prasetyo meninggal?"
"Delapan tahun."
"Apa yang paling kau ingat tentang beliau?"
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba. Nadira memandang meja beberapa saat. Ingatan masa kecil yang selama bertahun-tahun terkubur perlahan muncul kembali.
"Ayah jarang ada di rumah."
"Lalu?" Pak Harun mengangguk kecil.
"Kalau pulang beliau selalu membawa buku. Kadang beliau membacakannya untuk saya. Beliau bilang…"Kalau ingin mengenal dunia, belajarlah mendengar cerita orang lain." Nadira tersenyum tipis mengenang masa lalu.
Pak Harun memejamkan mata. Senyum tipis muncul di wajah tuanya.
"Itu memang Achmad."
Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Hanya suara jam bandul yang terus berdetak. Lalu Pak Harun membuka matanya kembali.
"Nadira. Jawab satu pertanyaanku. Kalau setelah keluar dari rumah ini, hidupmu tidak akan pernah sama lagi. Apakah kau masih ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada suamimu?"
Nadira mengangkat wajah. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak menjawab dengan tergesa. Pikirannya melayang kepada Ardiyan. Kepada Alya. Kepada Rafi. Kepada ancaman yang kini mengintai keluarganya. Lalu ia menarik napas panjang.
"Aku tidak datang sejauh ini untuk pulang membawa lebih banyak pertanyaan." jawabnya tegas.
Pak Harun menatapnya lama. Sangat lama. Seolah sedang mencari keraguan di dalam mata perempuan itu. Namun yang ia temukan justru sesuatu yang dahulu pernah ia lihat pada diri Achmad Prasetyo. Keberanian. Keberanian yang sering kali menjadi awal dari sebuah petaka.
Lelaki tua itu akhirnya berdiri. Gerakannya lambat, seolah setiap langkah membawa beban yang tak terlihat. Tongkat kayunya menyentuh lantai dengan irama yang teratur.
Tok…Tok…Tok...
Ia berjalan menuju sebuah lemari kayu tua di sudut ruangan. Lemari itu tidak besar. Tingginya hanya sebatas dada orang dewasa. Cat cokelatnya telah memudar, memperlihatkan serat-serat kayu yang mulai retak dimakan usia.
Di sudut pintunya tergantung sebuah gembok kuningan kecil yang warnanya berubah kusam oleh waktu. Pak Harun berhenti tepat di depannya. Tangannya yang dipenuhi keriput perlahan terangkat. Namun jemarinya tidak langsung menyentuh anak kunci. Ia hanya diam. Memandang lemari itu begitu lama. Seolah benda sederhana di hadapannya bukan sekadar tempat penyimpanan, melainkan makam bagi kenangan yang tak pernah sempat dikuburkan.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara jam bandul yang terus berdetak dari sudut ruangan. Tik… Tak… Tik… Tak. Setiap detiknya terasa lebih lambat daripada sebelumnya. Nadira memperhatikan lelaki tua itu tanpa berkedip. Ada sesuatu yang berubah pada wajah Pak Harun. Tatapan yang semula tenang kini dipenuhi keraguan.
Bukan keraguan untuk membuka lemari itu. Melainkan keraguan terhadap apa yang akan terjadi setelahnya.
"Ada beberapa pintu yang seharusnya tetap tertutup." ujar Pak Harun lirih, tanpa menoleh.
Ia mengusap perlahan permukaan kayu yang telah menghitam dimakan usia.
"Selama bertahun-tahun aku meyakinkan diriku bahwa diam adalah cara terbaik melindungi banyak orang. Ternyata aku keliru." Ia tersenyum pahit.
Nadira tidak menyela. Ia tahu, ada luka yang hanya bisa keluar jika dibiarkan menemukan waktunya sendiri. Pak Harun menarik napas panjang.
"Achmad pernah datang ke rumah ini. Tiga hari sebelum ia meninggal. Itu terakhir kalinya aku melihat ayahmu." Suara lelaki tua itu hampir berbisik.
Nadira menegang. Pak Harun memejamkan mata.
"Aku masih mengingat setiap kata yang ia ucapkan. Kalau suatu hari anakku datang mencarimu, jangan berikan apa pun sebelum kau yakin ia datang karena keberanian, bukan karena rasa ingin tahu." suara Pak Harun bergetar.
Lelaki tua itu membuka matanya kembali. Perlahan ia menoleh ke arah Nadira. Tatapan mereka bertemu.
"Aku menunggu hampir tiga puluh tahun untuk memastikan perbedaan itu."
Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Nadira merasakan tenggorokannya mengering. Ia ingin bertanya. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan ayahnya. Namun nalurinya mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu akan segera menemukan jawabannya sendiri.
Pak Harun mengangguk pelan.
"Kurasa Achmad tidak salah memilih."
Tangannya akhirnya meraih gantungan kunci tua yang tergantung di pinggangnya. Bukan satu. Melainkan serangkaian anak kunci dengan ukuran yang berbeda-beda. Satu demi satu ia memperhatikannya. Seolah sedang mencari kunci yang telah puluhan tahun tidak pernah digunakan. Akhirnya ia berhenti pada sebuah kunci kecil berwarna kehitaman. Kunci itu tampak lebih aus dibanding yang lain. Bekas-bekas gesekan di permukaannya menjadi saksi bahwa dahulu ia pernah sering dipakai.
Namun sudah sangat lama tidak lagi menyentuh lubang kunci mana pun. Pak Harun menggenggamnya erat. Tangannya sedikit bergetar. Entah karena usia. Entah karena kenangan. Atau mungkin karena ia sadar, setelah kunci itu diputar, tidak akan ada lagi jalan untuk mengembalikan semuanya seperti semula.
"Kalau begitu, sudah waktunya aku memenuhi janji kepada ayahmu." ucapnya lirih.
Perlahan ia memasukkan anak kunci ke dalam lubang gembok. Sesaat ia terdiam. Lalu memutarnya. Klik. Suara itu terdengar begitu pelan. Namun di telinga Nadira, bunyinya terasa seperti sesuatu yang telah menunggu untuk terdengar selama hampir tiga puluh tahun. Pak Harun melepaskan gembok itu. Tangannya berhenti di gagang pintu lemari. Ia kembali memejamkan mata, seolah sedang memohon maaf kepada seseorang yang tak lagi ada.
Kemudian, dengan satu tarikan napas yang panjang. Ia membuka pintu lemari itu perlahan. Engsel tua berderit pelan. Kriiieeet… Dan bersama bunyi itu, masa lalu yang selama puluhan tahun terkunci akhirnya mulai membuka dirinya sedikit demi sedikit.
Bukan hanya untuk Nadira. Melainkan juga bagi orang-orang yang selama ini rela membunuh agar rahasia itu tetap terkubur.
Nadira tanpa sadar menahan napas. Ia membayangkan akan menemukan tumpukan dokumen rahasia. Berkas-berkas penyelidikan. Atau mungkin bukti yang selama ini dicari ayahnya.
Namun yang pertama kali dilihatnya justru sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu diletakkan tepat di tengah lemari. Ukurannya tak lebih besar dari kotak sepatu. Kayunya berwarna cokelat tua, dipenuhi goresan-goresan halus yang dibuat oleh usia. Di bagian atasnya tidak terdapat ukiran apa pun. Hanya sebuah pengait besi kecil yang mulai dipenuhi karat. Di sekeliling kotak itu tersusun rapi beberapa map lusuh yang dibungkus kain putih. Kain itu telah menguning. Tetapi lipatannya masih sangat rapi. Seolah seseorang dengan sengaja tidak pernah membiarkan debu menyentuhnya.
Pak Harun tidak langsung mengambil apa pun. Ia hanya berdiri memandang isi lemari itu. Lama. Sangat lama. Tatapan matanya perlahan berubah.
Nadira melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Penyesalan. Begitu dalam. Begitu sunyi. Seolah lelaki tua itu sedang kembali menjadi seseorang yang hidup tiga puluh tahun lalu.
"Aku pernah berjanji bahwa benda-benda ini hanya akan keluar jika orang yang tepat datang mencarinya."gumamnya pelan.