"Rahasia tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tangan, menunggu seseorang yang cukup berani untuk membukanya. Dan sejak saat itu, siapa pun yang menggenggamnya tak lagi sedang menjalani hidupnya sendiri melainkan hidup yang diwariskan oleh masa lalu."
Rumah tua itu kembali tenggelam dalam kesunyian. Namun kali ini, sunyi bukan lagi pertanda kedamaian. Sunyi adalah cara ketakutan bekerja. Ia tidak berteriak. Ia tidak berlari. Ia hanya duduk diam di sudut ruangan, membuat setiap detik terasa lebih panjang daripada seharusnya.
Di luar, suara mesin kendaraan masih terdengar pelan. Tidak mendekat, tetapi juga tidak menjauh. Seolah mereka sengaja membiarkan rumah tua itu mengetahui bahwa pengepungan telah dimulai.
Tak seorang pun berbicara. Tak seorang pun berani mendekati jendela. Yang terdengar hanyalah detak jam bandul tua yang terus bergerak tanpa peduli bahwa hidup seseorang mungkin akan berubah dalam hitungan menit.
Tik… Tak… Tik...
Di tengah keheningan itulah pandangan Nadira jatuh pada sebuah benda yang tergeletak di atas meja. Sebuah pistol tua. Nadira memandangi pistol tua itu. Logam hitamnya tampak kusam. Beberapa bagian mulai dipenuhi bercak karat. Gagang kayunya telah memudar, memperlihatkan retakan-retakan halus akibat usia.
Sulit membayangkan benda itu pernah digunakan. Lebih sulit lagi membayangkan seorang lelaki setua Pak Harun masih menyimpannya selama puluhan tahun.
"Bapak. Apakah Bapak benar-benar akan menggunakan itu?" suara Nadira nyaris berbisik.
Pak Harun tidak langsung menjawab. Ia membuka silinder pistol perlahan. Kosong. Tak ada satu peluru pun di dalamnya. Ia tersenyum tipis.
"Sudah lama tidak. Benda ini tidak lagi berguna untuk melukai siapa pun."
Ia menutup kembali pistol itu, lalu meletakkannya di atas meja.
""Lalu kenapa masih disimpan?"
"Untuk mengingatkanku bahwa rasa takut pernah membuatku mengangkat senjata kepada orang yang salah." Pak Harun mengusap gagang kayunya dengan ibu jari.
"Maksud Bapak?" Nadira mengernyit.
"Tiga puluh tahun lalu, aku hampir menembak Achmad." Pak Harun menarik napas panjang.
"Ayah saya?" jantung Nadira seolah berhenti.
Pak Harun mengangguk pelan.
"Malam itu ia datang ke rumahku. Bajunya penuh lumpur. Wajahnya penuh luka.
Ia mengetuk pintu berkali-kali. Aku mengira orang-orang itu sudah menemukanku. Jadi aku mengambil pistol ini."
Ruangan mendadak terasa semakin sunyi. Ia menatap kosong ke arah dinding kemudian lanjut berkata.
"Ketika kubuka pintu laras pistol ini sudah mengarah tepat ke dada sahabatku sendiri."
"Ayah berkata apa?" tanya Nadira.
"Hanya satu kalimat. Kalau kau ingin menembak, tembak sekarang. Besok mungkin mereka yang akan melakukannya." Pak Harun tersenyum getir sembari menutup mata.
"Kalimat itu menghantuiku sampai hari ini." tegasnya.
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Jam bandul tua masih berdetak. Tik… Tak… Tik...
Nadira perlahan menatap amplop bertuliskan Untuk Nadira. Ia merasa seluruh hidupnya selama ini dibangun di atas potongan-potongan cerita yang tidak pernah utuh. Ayahnya. Ardiyan. Pak Harun. Ancaman. Foto rumah. Semuanya saling terhubung. Tetapi benang yang mengikat semuanya masih belum terlihat.
Tiba-tiba Pak Harun berdiri. Ia berjalan menuju rak buku paling tinggi. Tangannya meraih sebuah buku tebal yang sampulnya sudah hampir terlepas. Ketika buku itu ditarik terdengar bunyi pelan dari balik dinding. Klik...
"Apa itu?" tanya Nadira kemudian spontan berdiri.
Pak Harun tidak menjawab. Rak buku itu perlahan bergeser beberapa sentimeter. Di baliknya muncul sebuah ruang sempit yang sebelumnya sama sekali tidak terlihat. Nadira membelalak.
"Ini ruangan penyimpanan."
Pak Harun mengambil sebuah senter kecil dari dalam laci. Cahayanya menerobos kegelapan. Ruangan itu hanya selebar dua meter. Namun dindingnya dipenuhi rak-rak besi. Di atas rak itu tersusun puluhan kotak arsip. Setiap kotak diberi nomor. Tidak ada nama. Tidak ada keterangan. Hanya angka. Hingga nomor yang paling ujung. 027. Pak Harun mengarahkan senter ke kotak paling bawah. Nomor itu berbeda. Tidak ditulis dengan tinta hitam. Melainkan tinta merah. 028. Pak Harun terdiam cukup lama. Tangannya tidak bergerak.
"Itu kotak terakhir yang ditinggalkan ayahmu." Pak Harun menelan ludah.
"Kenapa diberi warna merah?" tanya Nadira keheranan.
"Karena Achmad sendiri yang memintanya. Beliau berkata...kalau suatu hari kotak ini dibuka. Berarti aku gagal menghentikan mereka.' kata Pak Harun sembari menggeleng perlahan.
Nadira merasakan tengkuknya meremang. Pak Harun mengangkat kotak itu dengan kedua tangan. Kotak itu ternyata jauh lebih berat daripada yang terlihat. Ia meletakkannya perlahan di atas meja. Debu beterbangan memenuhi udara. Di bagian atas kotak terdapat secarik label kecil. Tulisan tangan Achmad Prasetyo. Masih jelas. Masih rapi. Masih penuh ketegasan.
Nadira mendekat. Jantungnya berdebar semakin keras. Perlahan ia membaca tulisan itu.
"Jangan buka kotak ini... kecuali mereka mulai memburu keluargaku."
Ruangan mendadak hening. Pak Harun menutup mata. Sementara Nadira tidak sanggup mengalihkan pandangannya dari kalimat itu. Selama ini… ia mengira dirinya sedang mengejar masa lalu. Kini ia sadar. Ayahnya telah mengetahui bahwa suatu hari nanti masa lalulah yang akan datang mengejar keluarganya.
Di luar rumh angin tiba-tiba berhenti bertiup. Tidak ada suara daun. Tidak ada suara burung. Keheningan yang ganjil menyelimuti seluruh halaman. Lalu, terdengar bunyi mesin mobil dinyalakan. Bukan satu. Melainkan dua. Pak Harun menoleh perlahan ke arah jendela. Wajahnya yang sejak tadi berusaha tetap tenang akhirnya berubah.
"Sudah dimulai..." bisiknya.
"Apa yang dimulai?" Nadira menatapnya keheranan.
Pak Harun menatap lurus ke mata Nadira. Dengan suara yang begitu pelan hingga hampir tak terdengar, ia berkata:
"Perburuan yang dulu gagal mereka selesaikan. Kini dilanjutkan kepada generasi berikutnya."
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, Nadira menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar seorang istri yang mencari suaminya. Ia telah menjadi pewaris sebuah rahasia yang membuat banyak orang rela membunuh demi menguburnya kembali.
"Baiklah, Nadira. Kita akan membuka Kotak Dua Puluh Delapan sekarang." dengan sengaja Pak Harun mengeraskan suaranya.
Nadira menatapnya bingung. Namun hanya sesaat. Dari sorot mata lelaki tua itu, ia menangkap sesuatu. Ada ketenangan yang tidak sejalan dengan kalimat yang baru saja diucapkan. Pak Harun sedang bermain. Ia sengaja memberi makan orang-orang yang sedang menguping.
Pak Harun kemudian melangkah ke meja. Tangannya menyentuh kotak kayu bernomor 028. Ia mengusap permukaannya perlahan, seolah benar-benar akan membukanya. Namun tangan kirinya diam-diam menyelipkan secarik kertas kecil ke bawah telapak tangan Nadira.
Gerakannya begitu halus hingga nyaris tak terlihat. Nadira merasakan ada sesuatu menyentuh jemarinya. Jangan lihat sekarang. Tulisan itu sangat kecil. Ia langsung menggenggam kertas tersebut tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Pak Harun kembali berbicara dengan suara keras.
"Kalau mereka memang ingin isi kotak ini, biarlah mereka tahu semuanya hari ini."
Kalimat itu terdengar meyakinkan. Begitu meyakinkan hingga siapa pun yang mendengarnya pasti percaya. Namun di balik meja, tangan Pak Harun perlahan mengetuk permukaan kayu dengan irama tertentu. Tok… Tok… Tok
Nadira memperhatikannya sekilas. Irama itu terasa aneh. Bukan ketukan sembarangan.
Melainkan seperti sebuah sandi.
"Pak. Apakah benar semua bukti ada di dalam kotak itu?" ucap Nadira mengikuti permainan itu.
"Semuanya." Pak Harun mengangguk. Lalu ia menambahkan dengan penekanan yang sengaja dibuat jelas.
"Tidak ada salinan. Kalau kotak ini hilang semuanya selesai."
Di luar rumah suasana tetap sunyi. Namun Pak Harun justru tersenyum tipis.
"Kalau mereka percaya sebentar lagi mereka bergerak." gumamnya hampir tanpa suara.
Belum sampai satu menit. Terdengar langkah kaki tergesa-gesa di halaman. Berbeda dengan sebelumnya. Kali ini bukan satu orang. Melainkan beberapa orang. Kerikil di halaman berderak diinjak sepatu. Seseorang berlari ke sisi rumah. Yang lain berhenti di dekat jendela. Mereka terpancing. Pak Harun mengangguk pelan.
"Tepat seperti yang kuduga."
Nadira mulai mengerti. Mereka tidak sedang menunggu. Mereka sedang memastikan apakah isi Kotak 028 benar-benar masih berada di dalam rumah. Lalu...
Brak!
Sebuah batu menghantam kaca jendela ruang tamu. Kaca retak membentuk pola seperti jaring laba-laba. Belum pecah. Tetapi satu benturan lagi akan membuatnya hancur. Nadira refleks mundur. Pak Harun tetap tenang.
"Bereskan meja. Cepat." perintah Pak Harun.
Nadira buru-buru mengangkat map-map tua. Namun saat itulah ia melihat sesuatu. Kotak 028 terasa jauh lebih ringan daripada yang seharusnya. Ia mengangkatnya dengan kedua tangan.
"Pak. Kenapa ini ringan sekali?"
"Itu karena yang mereka incar bukan lagi ada di dalam kotak." Pak Harun tersenyum.
"Apa maksud Bapak?" Nadira menoleh cepat.
Pak Harun membuka tutup kotak itu. Perlahan. Sangat perlahan. Di dalamnya tidak ada tumpukan dokumen. Tidak ada buku. Tidak ada berkas rahasia. Hanya selembar kain putih yang telah menguning. Di tengah kain itu terdapat sebuah ruang kosong berbentuk persegi panjang. Bekas tempat menyimpan sesuatu. Sesuatu yang sudah tidak ada. Nadira membeku.
"Kosong?" tanya Nadira.
"Sudah kosong sejak dua puluh sembilan tahun yang lalu." Pak Harun mengangguk.
"Ayah saya mengambil isinya?" tanya Nadira kembali.
"Bukan." Pak Harun menggeleng.
"Achmad tidak pernah sempat mengambilnya. Karena ia menitipkannya kepadaku pada malam terakhir kami bertemu." Pak Harun menarik napas panjang.
"Kalau begitu sekarang benda itu ada di mana?" tanya Nadira semakin bingung.
Pak Harun menatap amplop bertuliskan Untuk Nadira yang masih berada dalam genggaman perempuan itu. Lalu perlahan ia berkata,
"Selama ini kau mengira surat itu adalah warisan ayahmu. Sebenarnya surat itu hanyalah petunjuk. Petunjuk menuju benda yang sesungguhnya."
"Benda apa?" jantung Nadira berdetak semakin cepat.
Pak Harun menatapnya dalam-dalam. Dengan suara pelan ia menjawab,
"Satu-satunya barang yang tidak pernah berhasil ditemukan oleh mereka. Barang yang membuat ayahmu diburu sampai akhir hayatnya."
Pak Harun belum sempat menyelesaikan kalimatnya. DOR!
Suara letusan keras menggema dari luar. Bukan mengarah ke dalam rumah. Melainkan ke udara. Peringatan. Sesaat kemudian terdengar suara seorang lelaki melalui pengeras suara.
"Pak Harun! Ini kesempatan terakhir. Serahkan perempuan itu. Atau kami akan masuk."
Pak Harun menatap pintu dengan wajah tenang. Namun untuk pertama kalinya, Nadira melihat sesuatu di matanya. Bukan rasa takut. Melainkan keyakinan bahwa pengepungan ini bukan kebetulan. Mereka tidak datang hanya untuk menangkap Nadira. Mereka datang karena mereka yakin benda yang selama tiga puluh tahun hilang akhirnya telah menemukan pewarisnya.
Suara dari pengeras suara itu menghilang. Yang tersisa hanyalah dengung mesin kendaraan dan desir angin yang menyapu pepohonan di halaman rumah tua. Tak seorang pun bergerak.
Pak Harun berdiri tegak di depan meja kayu. Wajahnya tetap tenang, seolah ancaman barusan hanyalah suara hujan yang datang terlalu cepat. Sementara di seberangnya, Nadira berdiri mematung dengan amplop bertuliskan "Untuk Nadira" yang masih ia genggam erat.
Tangannya mulai berkeringat. Ia belum pernah sedekat ini dengan jawaban yang selama ini dicarinya. Namun anehnya, setiap langkah menuju kebenaran justru terasa seperti satu langkah menuju jurang yang tak terlihat dasarnya.
"Pak. Mereka sebenarnya siapa?" suara Nadira pecah-pelan.
Pak Harun mengembuskan napas panjang. Pertanyaan itu begitu sederhana. Namun justru itulah pertanyaan yang selama tiga puluh tahun gagal dijawab oleh begitu banyak orang.
"Aku tidak pernah tahu nama organisasi mereka. Tapi aku tahu cara mereka bekerja."
Pak Harun melangkah menuju jendela. Bukan untuk mengintip keluar, melainkan sekadar berdiri di sampingnya.
"Mereka tidak pernah muncul di halaman depan sejarah. Mereka selalu berada di balik orang-orang yang membuat keputusan. Kalau ada dokumen yang hilang. Kalau ada saksi yang berubah pikiran. Kalau ada penyelidikan yang tiba-tiba dihentikan biasanya mereka sudah bekerja jauh sebelum semua orang menyadarinya."
Nadira memandang lelaki tua itu tanpa berkedip.
"Berarti selama ini Ayah melawan mereka seorang diri?"
"Tidak. Ayahmu tidak pernah melawan seorang diri." Pak Harun tersenyum pahit.
"Lalu?" tanya Nadira kembali.
"Masalahnya orang-orang yang berdiri di sampingnya, satu per satu menghilang."
Tatapan Pak Harun perlahan jatuh pada bingkai foto Achmad Prasetyo yang sejak tadi berada di atas meja. Kalimat itu terasa jauh lebih menyeramkan daripada ancaman apa pun. Menghilang. Bukan kalah. Bukan menyerah. Tetapi menghilang. Seolah mereka tidak pernah ada.
Tiba-tiba terdengar suara gesekan ban di halaman. Bukan satu kendaraan. Melainkan beberapa. Mereka berpindah posisi. Pak Harun memejamkan mata.
"Mereka sedang menutup semua jalan keluar."
Nadira refleks menoleh ke arah pintu belakang.
"Kalau kita lewat belakang… Tidak." Pak Harun menggeleng.
"Jangan pernah melakukan sesuatu yang sudah mereka perkirakan."
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Nadira kebingungan.
Pak Harun menatap rumah itu perlahan. Dinding kayu. Langit-langit tua. Jam bandul. Rak buku. Semua sudut rumah itu seolah ia hafal di luar kepala. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Rumah itu adalah saksi. Tempat di mana begitu banyak rahasia pernah disembunyikan. Tempat Achmad Prasetyo terakhir kali datang sebelum menghilang. Tempat surat itu dititipkan. Dan mungkin tempat terakhir seseorang masih berani melawan.
Pak Harun kemudian menoleh kepada Nadira.
"Kalau aku tidak salah menghitung mereka tidak akan masuk sekarang."
"Kenapa Pak?"
"Mereka sedang menunggu seseorang."
"Seseorang?" Nadira mengernyit.
"Pemimpin mereka tidak pernah datang lebih dulu. Dia selalu memastikan anak buahnya menguasai keadaan. Baru setelah itu ia muncul mengambil apa yang diinginkannya." Pak Harun mengangguk.
"Berarti kita masih punya banyak waktu?" Nadira menelan ludah.
"Bukan banyak. Tapi cukup." Pak Harun tersenyum tipis.
Ia melangkah menuju meja, lalu menarik sebuah laci yang selama ini belum pernah dibuka. Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan kulit berwarna cokelat tua. Sampulnya retak di beberapa bagian, namun masih terawat dengan baik. Pak Harun mengangkatnya dengan kedua tangan. Seolah sedang mengangkat sesuatu yang jauh lebih berat daripada ukurannya.
"Buku ini lebih berbahaya daripada pistol tua itu."
"Kenapa?" Nadira kembali mengernyit.
Pak Harun meletakkan buku itu di meja. Lalu membuka halaman pertamanya. Tulisan tangan yang rapi memenuhi hampir seluruh halaman. Bukan catatan harian. Bukan jurnal. Melainkan daftar. Nama. Tanggal. Lokasi. Angka. Simbol-simbol yang tidak dipahami Nadira. Ia membalik satu halaman lagi. Lalu halaman berikutnya. Semakin dibuka, isi buku itu semakin membuat napasnya tercekat. Puluhan nama. Sebagian diberi tanda silang merah. Sebagian lagi diberi lingkaran. Sebagian bahkan hanya menyisakan inisial.
"Selama hampir tiga puluh tahun aku tidak berani menyerahkannya kepada siapa pun."
"Daftar apa ini?" tanya Nadira keheranan.
"Daftar orang-orang yang pernah membantu ayahmu." Pak Harun memejamkan matanya sesaat.
"Tanda silang merah apa artinya?" suara Nadira nyaris tak terdengar.
Pak Harun tidak segera menjawab. Ada jeda yang panjang. Begitu panjang hingga Nadira berharap jawabannya berbeda dari apa yang mulai ia duga. Namun harapan itu pupus ketika lelaki tua itu berkata pelan,
"Mereka semua sudah meninggal."
Ruangan mendadak terasa membeku. Nadira membalik halaman berikutnya dengan tangan gemetar. Masih ada beberapa nama yang tidak diberi tanda apa pun.
"Kalau yang ini?" tanya Nadira kembali.
"Itulah orang-orang yang belum ditemukan." Pak Harun menatap daftar itu cukup lama.
"Masih hidup?" Nadira menarik napas panjang.
"Mungkin. Atau mereka hanya lebih pandai bersembunyi."
Nadira berhenti pada sebuah nama yang ditulis dengan tinta hitam, tanpa tanda silang maupun lingkaran. Nama itu terasa asing. Namun tepat di sampingnya, Achmad Prasetyo menulis satu kalimat kecil.
"Jangan hubungi sebelum waktunya."
Belum sempat Nadira membacanya lebih jelas. Suara mesin di luar mendadak berhenti. Seketika. Hening. Tidak ada lagi dengung kendaraan. Tidak ada lagi suara langkah kaki. Kesunyian itu terasa ganjil. Terlalu ganjil. Pak Harun langsung berdiri.
Wajahnya yang sejak tadi tenang perlahan berubah tegang.
"Tidak. Mereka tidak mungkin pergi." bisiknya lirih.
Nadira ikut memandang ke arah jendela. Halaman rumah benar-benar sunyi. Kosong. Seolah tak pernah ada siapa pun. Namun justru itulah yang membuat bulu kuduk Pak Harun berdiri. Ia memandang langit-langit. Lalu pintu belakang. Kemudian dapur. Seolah sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya. Tiba-tiba ia menoleh cepat ke arah Nadira. Matanya membesar.
"Nadira! Jangan bergerak!"
Suara Pak Harun menggema memenuhi ruangan. Tidak lagi pelan seperti biasanya. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang belum pernah didengar Nadira sebelumnya. Bukan kepanikan. Melainkan naluri. Naluri seseorang yang terlalu sering hidup berdampingan dengan bahaya.
Tubuh Nadira membeku. Ia bahkan tidak berani menoleh. Napasnya terasa tertahan di tenggorokan.
"Ada apa, Pak...?"