Jejak Yang Dihapus

linda ulfianah
Chapter #6

Permainan Belum Selesai

"Manusia dapat meninggalkan rumah, keluarga, harta, bahkan namanya sendiri. Namun seseorang yang benar-benar mampu memahami waktu akan meninggalkan jejak. Sebab ia tahu, suatu hari akan ada orang yang cukup berani untuk melanjutkan langkahnya."

Tidak semua pelarian dimulai dengan berlari. Sebagian dimulai dengan keberanian untuk terus melangkah, meski tidak mengetahui ke mana lorong itu akan berakhir. Nadira berjalan perlahan di belakang Pak Harun. 

Setiap langkah mereka menggema pelan di sepanjang lorong sempit yang dipenuhi bau tanah basah dan kayu lapuk. Udara terasa semakin dingin. Dinding-dinding batu yang mengapit lorong dipenuhi lumut, sementara tetesan air jatuh dari langit-langit dengan irama yang nyaris teratur. Tik… Tik… Tik… Suara itu terdengar sederhana. Namun dalam kesunyian yang nyaris sempurna, setiap tetes air seolah menjadi penanda bahwa waktu terus bergerak.

Di atas sana rumah tua Pak Harun mungkin sudah porak-poranda. Lemari yang selama puluhan tahun menyimpan rahasia barangkali telah dirobohkan. Lantai kayunya dicungkil. Dinding-dindingnya dibongkar. Tetapi semua itu tidak lagi penting. Karena orang-orang yang mengepung rumah tersebut terlambat tiga puluh tahun.

Pak Harun tidak pernah menyimpan rahasia itu. Ia hanya menjaganya. Rahasia itu sesungguhnya telah meninggalkan rumah itu jauh sebelum siapa pun datang mencarinya.

Nadira mengeratkan genggaman tangannya pada amplop tua bertuliskan Untuk Nadira. Kertasnya mulai lembap terkena embun lorong. Tanpa sadar ia mengusap permukaannya dengan ibu jari. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu. Seolah hanya dengan menyentuh amplop tersebut, ia bisa merasakan kehadiran ayahnya. Ayah yang selama bertahun-tahun ia kenang sebagai korban sebuah kecelakaan. Ayah yang ternyata selama ini hidup dalam begitu banyak rahasia.

"Ayah. Kalau semua ini benar berarti selama ini ia tidak pernah benar-benar mengenal laki-laki yang membesarkannya." gumamnya lirih.

Pak Harun tiba-tiba menghentikan langkah.

"Nadira. Jangan pernah menganggap ayahmu orang yang sempurna. Ayahmu juga pernah takut. Pernah ragu. Bahkan pernah hampir menyerah."

Nadira terdiam sambil menatap punggung lelaki tua tersebut.

"Kalau begitu... kenapa beliau tetap melanjutkan semuanya?"

"Ayahmu pernah berkata kepadaku. Kalau aku berhenti karena takut, anakku mungkin akan hidup lebih tenang. Tapi kalau aku diam karena takut, anakku akan hidup di dunia yang dibangun oleh kebohongan." Pak Harun tersenyum tipis.

Langkah Nadira terhenti. Kalimat itu menghantam dadanya lebih keras daripada suara tembakan yang tadi menggema di atas rumah. Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa ayahnya tidak sedang berusaha menjadi pahlawan. Ia hanya tidak ingin mewariskan ketakutan kepada anaknya.

Lorong mulai melebar. Di depan mereka tampak sebuah ruangan bawah tanah yang jauh lebih luas. Langit-langitnya disangga balok-balok kayu tua yang telah menghitam dimakan usia. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja batu sederhana. Kosong. Tak ada peti. Tak ada dokumen. Tak ada emas. Tak ada benda berharga seperti yang dibayangkan Nadira.

"Hanya ini?" tanya Nadira.

"Ya." Pak Harun mengangguk pelan.

"Tapi Bapak bilang ayah meninggalkan sesuatu." Nadira mengernyit.

Pak Harun tidak langsung menjawab. Ia mendekati meja batu itu. Tangannya yang renta perlahan menyapu debu tebal yang menutupi permukaannya. Sedikit demi sedikit muncul sebuah ukiran. Bukan tulisan. Bukan gambar. Melainkan pola lingkaran-lingkaran yang saling terhubung. Di tengahnya terdapat satu simbol yang membuat Nadira membeku. Simbol itu persis sama. Dengan simbol yang pernah ia lihat pada halaman terakhir buku catatan ayahnya ketika masih kecil. Sebuah kenangan yang selama ini ia anggap sekadar coretan iseng.

"Mustahil..." bisiknya.

"Kau pernah melihatnya?" Pak Harun menoleh.

"Waktu aku kecil. Ayah pernah menggambar simbol ini. Aku bertanya artinya. Beliau hanya tersenyum. Lalu berkata kalau suatu hari kamu melihat simbol ini lagi berarti Ayah berhasil." Ia menarik napas panjang dan mengangguk perlahan. Air matanya mulai menggenang. Kalimat itu terhenti di ujung bibirnya. Ia menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak oleh kenangan yang selama ini terkubur begitu dalam. Air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya.

Selama bertahun-tahun, ia mengira kalimat itu hanyalah cara seorang ayah menghibur anak kecil yang terlalu banyak bertanya. Kini ia mengerti. Ayah tidak sedang bercanda. Ia sedang menitipkan masa depan.

Pak Harun memejamkan mata. Sudah tiga puluh tahun ia menunggu seseorang mengucapkan kembali kalimat itu. Dan akhirnya hari yang selama ini hanya hidup dalam doanya benar-benar datang.

"Dulu setiap kali Achmad menemui jalan buntu, ia selalu menggambar simbol ini. Bukan untuk mengingat sesuatu. Tetapi untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa tujuan akhirnya bukan menyelamatkan dirinya melainkan menyelamatkan seseorang yang bahkan saat itu belum cukup dewasa untuk memahami apa pun." Pak Harun tersenyum tipis.

"Berarti semua ini memang untukku?" tatapan Nadira mulai berkabut.

"Bukan hanya untukmu." Pak Harun mengangguk perlahan.

"Lalu?" tanya Nadira.

"Untuk anak-anakmu."

Jawaban itu membuat Nadira membeku.

"Achmad pernah berkata kalau rahasia ini berhenti di tanganku, semuanya akan sia-sia. Tapi kalau suatu hari rahasia ini sampai kepada Nadira berarti keluargaku masih punya harapan."

"Apakah Ayah sudah tahu kalau semua ini akan terjadi?"

Pak Harun tidak segera menjawab. Ia terus berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah lengkungan batu yang lebih rendah dari lorong sebelumnya.

"Kalau kau bertanya apakah Achmad bisa melihat masa depan. Jawabannya jelas tidak bisa." lelaki tua itu tersenyum tipis.

"Lalu bagaimana beliau bisa menyiapkan semuanya?" tanya Nadira keheranan.

Pak Harun menoleh. Sorot matanya terlihat begitu tenang.

"Karena ayahmu tidak pernah menebak manusia. Ia mempelajari manusia."

Nadira terdiam. Pak Harun kembali melanjutkan.

"Selama bertahun-tahun ia mempelajari satu hal. Keserakahan. Lalu ketakutan. Dan yang terakhir ambisi. Tiga hal itu tidak pernah berubah. Siapa pun orangnya. Zamannya boleh berganti. Pemerintah boleh berganti. Teknologi boleh berubah. Tetapi manusia tetap mudah dikendalikan oleh tiga hal itu." ia menatap Nadira dalam-dalam.

Kalimat itu menggantung lama di kepala Nadira. Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa ayahnya bukan sekadar menyembunyikan sesuatu. Ia sedang menyusun sebuah strategi yang mungkin bahkan masih bekerja hingga hari ini.

Suasana kembali sunyi. Tidak ada lagi yang berbicara. Hanya nyala lampu minyak yang bergoyang pelan, membuat bayangan mereka menari di dinding batu. Nadira menatap simbol itu sekali lagi. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.

"Pak Harun. Simbol ini tidak lengkap."

"Apa maksudmu?" Pak Harun mengernyit.

"Lihat. Di sini seharusnya ada satu garis lagi." Nadira menunjuk salah satu sisi ukiran.

"Kau benar." Pak Harun mendekat. Untuk pertama kalinya sejak Nadira mengenalnya, wajah lelaki tua itu memperlihatkan keterkejutan yang begitu jelas.

"Achmad sengaja menghilangkannya. Bukan karena lupa. Bukan pula karena belum selesai. Ia memang ingin satu bagian itu tidak pernah berada di tempat ini." tatapannya tidak lepas dari ukiran itu.

"Maksud Bapak?" Nadira mengerutkan dahi.

"Achmad selalu percaya, sebuah rahasia tidak boleh disimpan di satu tempat. Kalau semua petunjuk berada di lokasi yang sama, siapa pun bisa menemukannya. Ia memecahnya. Sebagian disimpan. Sebagian diingat. Sebagian lagi dititipkan kepada orang yang bahkan tidak sadar sedang membawanya." Pak Harun mengembuskan napas perlahan sambil menatap Nadira..

Nadira terdiam. Tanpa sadar jemarinya kembali menyentuh bagian ukiran yang hilang. Permukaannya terasa jauh lebih halus dibandingkan bagian lain. Bukan seperti batu yang terkikis usia. Melainkan seperti sebuah cekungan yang memang dibuat untuk melengkapi sesuatu. Seketika sebuah pertanyaan muncul di benaknya.

"Kalau simbol ini belum lengkap berarti bagian yang hilang masih ada?"

"Dan seseorang masih menyimpannya." Pak Harun mengangguk pelan.

"Siapa?" tanya Nadira penasaran.

"Itulah yang selama ini dicari orang-orang itu." Pak Harun tersenyum tipis.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan bawah tanah. Nyala lampu minyak bergoyang pelan, membuat bayangan ukiran di atas meja batu tampak hidup. Nadira mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Ruangan itu ternyata tidak sebesar yang ia bayangkan. Tak ada lemari. Tak ada peti. Tak ada dokumen. Hanya meja batu tua, beberapa balok kayu penyangga, dan lorong sempit yang kembali memanjang ke arah depan. Pak Harun mengambil lampu minyak dari atas meja.

"Ayo. Kita belum selesai."

"Mau ke mana?" tanya Nadira.

"Tempat ini hanya pemberhentian. Bukan tujuan."

Mereka kembali melangkah meninggalkan ruangan itu. Suara langkah kaki mereka menggema pelan di sepanjang lorong batu yang semakin menyempit. Semakin jauh mereka berjalan, udara terasa semakin dingin. Sesekali tetesan air jatuh dari langit-langit dan memecah kesunyian yang sejak tadi menemani perjalanan mereka.

Beberapa menit kemudian lorong yang semula lurus mulai melebar. Pak Harun memperlambat langkahnya. Lampu minyak di tangannya terangkat sedikit lebih tinggi.

Cahayanya menyapu dinding batu yang mulai dipenuhi guratan-guratan kecil. Tak lama kemudian lorong itu berakhir pada sebuah persimpangan. Lorong kembali bercabang. Kali ini menjadi tiga arah.

Pak Harun berhenti. Tangannya mengangkat lampu minyak sedikit lebih tinggi. Cahayanya memperlihatkan tanda-tanda kecil di dinding. Bukan tulisan. Melainkan goresan tipis berbentuk garis-garis pendek. Satu garis. Dua garis. Tiga garis. Nadira memperhatikannya dengan saksama.

"Itu tanda apa?"

"Kode." Pak Harun mengusap salah satunya dengan ibu jari.

"Achmad tidak pernah menuliskan petunjuk. Ia meninggalkan pola. Orang yang tidak mengenalnya akan menganggap ini hanya bekas pahat. Tetapi bagi kami ini adalah bahasa."

"Apa artinya?" Nadira mendekat.

Pak Harun menunjuk tiga goresan yang berbeda.

"Satu garis. Jalan aman. Dua garis. Jalan buntu. Tiga garis."

Ia berhenti. Wajahnya berubah serius.

"Itu berarti jangan pernah masuk."

Nadira refleks menatap lorong ketiga. Gelap. Lebih gelap daripada dua lorong lainnya.

Seolah cahaya lampu minyak pun enggan menjangkaunya.

"Kenapa?"

"Aku sendiri tidak pernah masuk ke sana." Pak Harun menggeleng pelan.

"Achmad melarangku. Beliau hanya berkata kalau suatu hari aku tidak kembali jangan ada seorang pun membuka lorong itu." Pak Harun menarik napas dalam.

Jantung Nadira berdegup lebih cepat.

"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Nadira.

Pak Harun memandang lorong gelap tersebut cukup lama.

"Aku mulai berpikir mungkin saatnya larangan itu berakhir."

Tiba-tiba lampu minyak di tangan Pak Harun bergoyang pelan. Bukan karena angin. Melainkan karena lantai batu di bawah kaki mereka bergetar sangat halus. Pak Harun langsung mengangkat wajah. Ekspresinya berubah.

"Nadira. Jangan bergerak."

Perempuan itu spontan menahan napas. Seluruh lorong kembali tenggelam dalam kesunyian. Beberapa detik berlalu. Lalu Duk...

Suara pelan terdengar dari balik dinding batu. Pak Harun perlahan mengangkat telapak tangannya, memberi isyarat agar Nadira tetap diam. Keduanya membeku. Tak satu pun berani mengembuskan napas terlalu keras. Lima detik. Sepuluh detik. Kesunyian kembali memenuhi lorong. Kemudian...Duk...

Sekali lagi. Lebih jelas. Bukan suara batu yang bergeser. Bukan tetesan air. Melainkan langkah seseorang. Pelan. Teratur. Datang dari balik dinding sebelah kanan. Pak Harun memalingkan lampu minyak ke arah datangnya suara. Cahaya redup itu hanya menerangi dinding batu yang tampak utuh. Tak ada pintu. Tak ada celah. Tak ada lorong. Namun suara langkah itu terus mendekat. Satu langkah. Lalu satu langkah lagi.

Seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di lorong lain. Lorong yang seharusnya tidak pernah diketahui siapa pun. Pak Harun menatap dinding itu tanpa berkedip. Wajahnya yang selama ini tenang perlahan kehilangan warna. Untuk pertama kalinya sejak Nadira bertemu dengannya lelaki tua itu tampak benar-benar terkejut. Ia berbisik nyaris tanpa suara.

"Tidak mungkin. Lorong itu seharusnya sudah ditutup tiga puluh tahun yang lalu." bisik Pak Harun.

"Bapak mengenali suara itu?" Nadira menoleh cepat.

"Bukan suaranya." Pak Harun menggeleng perlahan.

"Lalu apa?" tanya Nadira.

"Irama langkahnya." lelaki tua itu memejamkan mata.

Selama beberapa detik ia tidak bergerak sedikit pun. Kepalanya sedikit menunduk, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tidak dapat didengar orang lain. Langkah itu kembali terdengar.

Duk… Hening. Duk...

Jaraknya tetap. Tenangnya tetap. Orang yang berjalan di balik dinding itu sama sekali tidak terburu-buru. Seolah ia tahu tidak ada seorang pun yang mampu mengejarnya. Pak Harun membuka mata. Sorot matanya berubah.

"Dia sedang menghitung. Setiap lima langkah ia berhenti."

Nadira ikut menajamkan pendengarannya. Benar. Setelah lima kali langkah terdengar kesunyian kembali mengambil alih. Beberapa detik kemudian langkah itu dimulai lagi. Dengan irama yang sama. Lima langkah. Berhenti. Lima langkah. Berhenti.

"Kenapa dia melakukan itu?" tanya Nadira.

"Itu bukan kebiasaan. Itu sandi." Pak Harun menarik napas panjang.

"Sandi apa?" tanya Nadira.

Pak Harun mengangguk.

"Dulu Achmad pernah membuat cara berkomunikasi tanpa suara. Melalui langkah kaki."

"Berarti orang itu mengenal Ayah?" jantung Nadira berdegup semakin cepat.

Pak Harun tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku ke dinding batu. Kerutan di dahinya semakin dalam.

"Tidak. Ada yang salah." gumamnya lirih.

""Apanya yang salah?" Nadira kembali bertanya kebingungan.

"Achmad hanya mengajarkan sandi itu kepada tiga orang. Satu. Diriku. Dua. Achmad sendiri. Dan yang ketiga sudah meninggal." Wajah Pak Harun mendadak pucat.

Keheningan kembali memenuhi lorong. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara napas mereka yang terdengar semakin jelas. Kalau begitu siapa yang sedang berjalan di balik dinding itu?

Nadira perlahan mendekati dinding batu. Permukaannya dingin. Kasar. Tidak ada celah sedikit pun. Namun setiap kali suara langkah terdengar ia merasakan getaran yang sangat halus di telapak tangannya. Seolah di balik sana memang ada lorong lain. Lorong yang selama ini tersembunyi.

"Pak Harun. Kalau memang ada lorong lain mengapa tidak pernah Bapak ceritakan?"

"Karena aku tidak pernah tahu lorong itu benar-benar ada." Pak Harun menggeleng pelan.

"Apa maksud Bapak?" tanya Nadira keheranan.

"Selama ini aku mengira itu hanya cerita yang dibuat Achmad. Dulu ia pernah berkata kalau suatu hari kau mendengar langkah dari balik dinding jangan pernah mencarinya.'' tegasnya.

"Kenapa begitu?" Nadira menelan ludah.

Pak Harun memandang lorong gelap di hadapan mereka. Lelaki tua itu memejamkan mata. Seolah mengulang percakapan yang telah berusia puluhan tahun.

'Karena orang yang berjalan di sana belum tentu masih menjadi orang yang sama ketika keluar.' Ia menarik napas dalam.

Bulu kuduk Nadira langsung meremang. Belum sempat ia bertanya lagi. Langkah itu berhenti. Benar-benar berhenti. Keheningan kali ini terasa berbeda. Lebih berat. Lebih mencekam. Pak Harun spontan memadamkan lampu minyak. Lorong seketika tenggelam dalam gelap gulita.

"Dia sedang berdiri tepat di balik dinding ini." suara Pak Harun terdengar hampir seperti bisikan.

 

Nadira refleks menutup mulutnya. Dalam gelap ia bahkan dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Lalu untuk pertama kalinya bukan suara langkah yang terdengar. Melainkan tiga ketukan pelan. Tok… Tok… Tok...

Pak Harun membeku. Wajahnya kehilangan seluruh warna. Air matanya perlahan jatuh tanpa ia sadari. Dengan suara yang bergetar ia berbisik.

"Itu bukan sandi. Itu cara Achmad memanggilku."

Pak Harun masih membeku. Lampu minyak yang telah dipadamkan membuat lorong berubah menjadi lautan hitam. Tak ada lagi cahaya. Tak ada lagi bayangan. Hanya suara napas dua orang yang berusaha setenang mungkin. Nadira dapat merasakan telapak tangannya mulai dingin.

"Pak Harun. Sebenarnya itu siapa?" ia hampir berbisik.

Pak Harun tidak menjawab. Ia justru mengangkat telapak tangannya perlahan, meminta Nadira tetap diam. Beberapa detik berlalu. Tak ada lagi ketukan. Tak ada langkah. Keheningan yang tercipta justru terasa lebih menyesakkan dibandingkan suara apa pun.

Lalu Pak Harun mengambil napas panjang. Dengan jemari yang mulai bergetar karena usia, ia mengangkat kepalan tangan kanannya. Nadira memperhatikannya dengan bingung.

"Apa yang Bapak lakukan?"

Pak Harun tidak menjawab. Ia mengetukkan jarinya ke dinding batu. Tok… Ia berhenti sejenak. Kemudian dua ketukan berikutnya menyusul dengan jeda yang berbeda. Tok... Tok...

Setelah itu kesunyian kembali turun. Nadira menatap Pak Harun tanpa berkedip.

"Itu sandi?" tanya Nadira memastikan.

"Jawaban." jawabnya.

"Jawaban untuk apa?" tanyanya kembali.

Lihat selengkapnya