"Ada orang yang mengubur masa lalu di dalam tanah. Ada pula yang menguncinya di balik kebohongan. Namun waktu selalu memiliki caranya sendiri untuk menggali kembali apa yang seharusnya tidak tersembunyi."
Ombak memecah kesunyian Pantai Kenanga. Suaranya datang silih berganti, menghantam tiang-tiang kayu tua yang menopang sebuah gudang reyot di tepi pantai. Cat dindingnya telah mengelupas. Atap seng berkarat berderit setiap kali angin laut bertiup lebih kencang. Udara dipenuhi aroma garam dan kayu yang mulai lapuk.
Di sudut gudang itu seorang lelaki perlahan membuka matanya. Pandangannya masih kabur. Kepalanya berdenyut hebat. Darah yang mengering di pelipis kirinya terasa kaku ketika ia mencoba menggerakkan wajah. Tangannya masih terikat ke sebuah kursi besi. Kakinya pun demikian. Setiap kali ia bergerak, rantai yang membelenggunya mengeluarkan bunyi beradu pelan.
Klek… Klek… Ia menarik napas panjang. Rasa asin memenuhi bibirnya. Entah darah atau air laut yang terbawa angin. Butuh beberapa detik sebelum ingatannya kembali sedikit demi sedikit. Jalan raya. Seseorang yang menghantam kepalanya dari belakang.
Suara pintu mobil ditutup. Lalu gelap. "Argh..." Erangan pelan keluar dari bibirnya.
Di hadapannya, sebuah radio komunikasi tua yang sejak tadi hanya mengeluarkan suara desis mendadak berbunyi. Krrrttt… Suara seseorang terdengar dari balik gangguan frekuensi.
"Mereka sudah menemukan labirin."
Hening beberapa detik. Lalu suara lain menjawab.
"Harun juga bersama perempuan itu?"
"Ya."
"Biarkan mereka."
Ardiyan mengangkat kepalanya perlahan. Matanya masih setengah tertutup. Namun pendengarannya mulai kembali tajam. Suara pertama terdengar lagi.
"Bagaimana kalau mereka menemukan ruang utama?"
Jawaban yang muncul setelahnya membuat darah Ardiyan serasa membeku.
"Tidak masalah."
"Apa pun yang mereka temukan akan membawa mereka kembali ke Pantai Kenanga."
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar gudang. Tok… Tok… Tok… Ardiyan segera memejamkan mata. Mengatur napasnya. Berpura-pura masih tidak sadarkan diri. Pintu gudang berderit pelan. Creeeek...
Seseorang masuk. Tidak tergesa. Langkahnya tenang. Terukur. Orang itu berhenti tepat di depan Ardiyan. Tak ada sepatah kata pun. Hanya suara korek api yang dinyalakan. Cekrek...
Sesaat kemudian aroma tembakau memenuhi ruangan. Lelaki itu mengembuskan asap rokok perlahan. Lalu berkata dengan suara datar.
"Kalau kau pintar tetaplah berpura-pura tidur."
Ardiyan tetap tidak bergerak. Setetes keringat mengalir dari pelipisnya. Lelaki itu tertawa pelan.
"Kau memang keras kepala. Tidak heran Achmad memilihmu."
Kalimat itu membuat jantung Ardiyan nyaris berhenti berdetak. Lelaki itu kemudian membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Ardiyan. Dengan suara yang nyaris seperti bisikan, ia berkata.
"Salamku untuk Nadira kalau kalian sempat bertemu lagi."
Radio tua itu kembali dipenuhi suara desis. Krrrtttt… Gelombang frekuensi yang putus-putus memenuhi ruangan, bercampur dengan deru ombak yang terus menghantam tiang-tiang kayu gudang tua. Setiap kali angin laut bertiup, dinding seng yang mulai berkarat bergetar pelan, mengeluarkan bunyi panjang yang terdengar seperti keluhan seseorang yang telah terlalu lama menunggu.
Ardiyan tetap memejamkan mata. Ia tidak berani mengubah posisi tubuhnya sedikit pun. Napasnya dijaga tetap berat. Teratur. Seperti orang yang masih belum sadar. Namun di balik kelopak matanya yang tertutup, pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada detak jantungnya.
"Jangan bergerak."
Itu adalah nasihat yang pernah diberikan ayahnya ketika mengajarinya bertahan hidup saat kecil.
"Orang yang panik selalu ingin segera melarikan diri. Orang yang ingin selamat akan lebih dulu mengamati."
Ardiyan menelan ludah. Ia memilih menjadi orang kedua. Langkah kaki itu kembali terdengar. Perlahan. Tidak terburu-buru. Orang yang baru saja masuk ke gudang itu berjalan mengelilinginya. Sekali. Lalu sekali lagi. Seolah sedang memastikan bahwa tawanan di depannya benar-benar belum sadar. Ardiyan mencium aroma tembakau yang semakin pekat. Bersamaan dengan itu, terdengar suara logam ringan saling beradu.
Ting… Kunci. Orang itu membawa banyak anak kunci. Lalu terdengar suara benda diletakkan di atas meja kayu. Tok. Kemudian satu lagi. Tok. Ardiyan mencoba mengingat jumlahnya. Satu. Dua. Tiga benda. Ia belum tahu apa. Namun setiap informasi sekecil apa pun mungkin akan menyelamatkan hidupnya nanti.
"Bos benar."
Suara lain tiba-tiba terdengar dari luar pintu. Lebih muda.
"Nadira benar-benar masuk ke labirin."
Lelaki yang merokok itu mengembuskan asap perlahan.
"Aku sudah bilang. Mereka akan menemukan jalannya. Tapi bagaimana kalau mereka menemukan benda itu?"
Ruangan kembali hening. Beberapa detik berlalu sebelum lelaki itu menjawab.
"Benda?"
Ia tertawa pelan. Tawa yang datar. Tanpa emosi.
"Kalian semua selalu membuat kesalahan yang sama. Menganggap Achmad menyembunyikan benda."
Ia berhenti. Lalu menepuk pelan meja kayu. Tok... Tok...
"Achmad tidak pernah melindungi benda. Yang ia lindungi adalah seseorang."
Kalimat itu menghantam kesadaran Ardiyan. Dadanya berdegup keras. Seseorang. Kalau bukan benda berarti selama ini semua orang memburu manusia. Lelaki muda di luar tampak bingung.
"Maksud Bapak?"
"Asal kau tahu. Kalau orang itu ditemukan seluruh cerita yang kita bangun selama tiga puluh tahun akan runtuh."
Ardiyan berusaha mengingat setiap kata. Tiga puluh tahun. Angka itu terus muncul. Persis seperti yang berkali-kali disebut Pak Harun dalam berkas-berkas yang pernah ia baca. Berarti semua memang bermula dari tiga puluh tahun silam.
Keheningan kembali menyelimuti gudang. Tak lama kemudian terdengar bunyi korek api dimatikan. Langkah kaki mulai menjauh. Namun sebelum mencapai pintu lelaki itu berhenti.
"Aku tahu kau mendengar semuanya."
Kalimat itu diucapkan tenang. Tanpa meninggikan suara. Ardiyan tetap memejamkan mata. Tak bereaksi. Lelaki itu tersenyum kecil. Terlihat dari nada bicaranya.
"Kalau aku jadi kau aku juga akan berpura-pura tidur."
Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar suara yang jauh lebih pelan. Hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri.
"Persis seperti Achmad dulu."
Jantung Ardiyan seolah berhenti berdetak. Nama itu kembali disebut. Bukan dengan kebencian. Bukan pula dengan kemarahan. Melainkan dengan rasa hormat. Aneh sekali. Mengapa. Pertanyaan itu terus berputar di kepala Ardiyan. Hingga suara pintu kayu perlahan menutup.
Kreeek… Bruk. Sunyi kembali memenuhi gudang. Namun Ardiyan belum membuka mata. Ia menghitung dalam hati. Satu… Dua… Tiga puluh… Enam puluh… Baru setelah yakin tak ada lagi langkah kaki yang terdengar, ia perlahan membuka matanya.
Cahaya matahari sore menembus celah-celah papan kayu, membentuk garis-garis tipis yang memanjang di lantai.
Pandangannya menyapu ruangan. Meja kayu. Radio tua. Tumpukan jaring nelayan. Tong-tong berkarat. Lalu sesuatu menarik perhatiannya. Di bawah meja, hampir tertutup bayangan, tergeletak selembar kertas kecil yang tadi dijatuhkan tanpa sengaja oleh lelaki itu. Letaknya terlalu jauh untuk diraih. Namun cukup dekat untuk dibaca jika ia bisa bergerak sedikit.
Ardiyan menarik napas panjang. Kemudian, perlahan ia mulai menggeser kursi besi tempat dirinya terikat. Kreeet… Suaranya sangat pelan. Nyaris tenggelam oleh debur ombak. Ia berhenti. Mendengarkan. Tak ada respons. Ia menggeser lagi. Beberapa senti. Sedikit lagi. Ardiyan memicingkan mata. Jarak antara dirinya dan lembar kertas itu masih terlalu jauh. Huruf-hurufnya terlihat kabur. Namun satu nama di baris pertama begitu jelas hingga membuat tenggorokannya tercekat. Achmad Prasetyo.
"Tidak mungkin..." Ia menggeleng pelan.
Nadira sendiri telah melihat makam ayahnya. Bahkan laporan kematiannya tercatat resmi. Lalu mengapa nama itu berada dalam daftar yang berjudul Saksi yang Masih Hidup. Apakah daftar itu salah. Atau selama ini ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kematian yang dipalsukan.
Ardiyan memaksa tubuhnya bergeser beberapa senti lagi. Kursi besi itu berdecit lirih.
Kreeeet… Ia langsung menghentikan gerakannya. Debur ombak. Suara burung camar. Angin yang menghantam seng. Tak ada langkah kaki. Ia kembali bergerak. Sedikit lagi. Kini sebagian besar isi kertas mulai terbaca. Di bawah nama Achmad Prasetyo terdapat tiga baris lain. Namun seseorang sengaja mencoret semuanya dengan tinta hitam tebal. Bukan sekadar dicoret.
Nama-nama itu dihapus berkali-kali hingga kertasnya hampir robek. Seolah orang yang melakukannya tidak ingin siapa pun mengetahui siapa mereka. Hanya satu nama di bagian paling bawah yang masih terlihat utuh. Namun belum sempat Ardiyan membacanya. Suara radio tua kembali menyala.
Krrrttt… Ardiyan buru-buru memejamkan mata. Radio itu mengeluarkan suara desis panjang sebelum akhirnya terdengar percakapan.
"Target sudah sadar."
Suara itu datar. Tidak terburu-buru. Beberapa detik kemudian suara lain menjawab.
"Biarkan."
"Dia memang harus sadar."
Ardiyan menahan napas. Mereka tahu. Sejak tadi mereka tahu ia telah membuka mata.
Namun mengapa mereka membiarkannya. Radio kembali berbunyi.
"Kalau dia melihat daftar itu berarti tahap kedua bisa dimulai."
Tahap kedua. Ardiyan merasakan bulu kuduknya berdiri. Sejak awal mereka memang sengaja meninggalkan kertas itu. Bukan karena ceroboh. Melainkan agar ia membacanya. Ia tidak sedang menemukan petunjuk. Ia sedang diberi petunjuk.
Perlahan Ardiyan membuka matanya lagi. Bukan ke arah kertas. Melainkan ke seluruh ruangan. Kini ia mulai melihat banyak hal yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Gudang itu tampak tua. Namun beberapa bekas di lantai menunjukkan aktivitas yang masih baru. Ada jejak roda troli. Bekas ban kendaraan. Kotak-kotak kayu yang masih bersih.
Artinya tempat ini bukan gudang kosong. Melainkan markas yang masih digunakan. Pandangannya berhenti pada jendela kecil di sisi timur. Cahayanya berubah jingga. Matahari mulai turun. Melalui celah papan kayu, Ardiyan dapat melihat gulungan ombak Pantai Kenanga.
Lalu sesuatu menarik perhatiannya. Di kejauhan. Sekitar tiga ratus meter dari gudang.
Berdiri sebuah mercusuar tua. Cat putihnya telah mengelupas. Sebagian dindingnya dipenuhi lumut. Namun di bagian puncaknya lampu mercusuar itu tidak menyala. Padahal hari mulai gelap.
"Mengapa mercusuar dimatikan?" Ardiyan mengernyit.
Ia pernah membaca bahwa mercusuar tua di Pantai Kenanga sudah tidak lagi digunakan sejak puluhan tahun lalu. Tetapi entah mengapa pandangannya sulit melepaskan bangunan itu. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Sangat ganjil. Tiba-tiba sinar matahari sore memantul pada salah satu jendelanya. Pantulan itu hanya berlangsung sesaat.
Namun cukup membuat Ardiyan melihat siluet seseorang berdiri di balik kaca mercusuar. Seseorang sedang mengawasi gudang tempat dirinya disekap. Bukan penjaga. Karena beberapa detik kemudian siluet itu menghilang begitu saja. Seolah tidak ingin terlihat terlalu lama.Ardiyan menarik napas perlahan.
Pikirannya mulai menyusun kepingan-kepingan yang ia miliki. Labirin.Pantai Kenanga. Gudang tua. Mercusuar. Daftar saksi. Semuanya saling terhubung. Namun hubungan itu masih tersembunyi di balik satu nama yang terus berulang sejak awal penyelidikan. Achmad Prasetyo.
Di saat yang sama. Jauh di bawah tanah. Pak Harun menghentikan langkahnya. Lorong sempit itu akhirnya berakhir pada sebuah pintu kayu tua yang hampir tertutup akar-akar pohon. Ia memadamkan lampu minyak. Lalu berbisik kepada Nadira.
"Di balik pintu ini bukan lagi labirin."
Nadira mengangguk pelan. Pak Harun mendorong pintu itu perlahan. Kreeeek… Udara laut langsung menerpa wajah mereka. Aroma garam. Suara ombak. Dan desir angin yang membawa suara burung camar. Nadira memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, wajahnya berubah. Di hadapan mereka, senja mulai turun. Dan di kejauhan berdiri sebuah mercusuar tua yang menjulang di atas tebing Pantai Kenanga.
Pak Harun memandang bangunan itu tanpa berkedip. Lalu, dengan nada yang sarat kenangan, ia berbisik.
"Achmad... ternyata kau menyembunyikan pintu keluarnya tepat di tempat semuanya dimulai."
Senja perlahan menelan langit Pantai Kenanga. Warna jingga yang semula menyelimuti cakrawala berubah menjadi merah tembaga. Ombak datang silih berganti, memecah karang dengan suara berat yang menggema hingga ke kaki tebing. Angin laut berembus lebih kencang, membawa aroma garam dan lumut yang menempel pada bebatuan tua.
Pak Harun berdiri beberapa saat di depan pintu rahasia yang baru saja mereka lewati. Tangannya masih menggenggam lampu minyak yang kini telah padam. Ia tidak segera melangkah. Tatapannya justru menyapu garis pantai di hadapan mereka. Seolah sedang memastikan sesuatu. Nadira memperhatikan lelaki tua itu.
"Pak Harun..."
Pak Harun tidak menjawab. Ia perlahan berjongkok. Tangannya menyentuh pasir yang mulai lembap diterpa ombak. Butiran-butiran halus itu mengalir di sela jemarinya. Lalu ia berkata lirih.
"Masih sama..."
"Apa yang sama?" Nadira ikut berjongkok.
"Dulu Achmad sering bilang kalau pasir di Pantai Kenanga punya cara sendiri untuk menyimpan jejak." Pak Harun tersenyum tipis.
"Jejak?" tanya Nadira.
"Orang boleh menghapus bekas langkah di atasnya. Tapi laut selalu ingat siapa yang pernah datang."
Nadira terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa, ia merasa Pak Harun tidak sedang berbicara tentang pasir. Melainkan tentang manusia.
Mereka mulai berjalan menyusuri kaki tebing. Pak Harun tidak memilih jalur menuju jalan raya. Ia justru menghindari area yang terbuka. Sesekali ia berhenti. Mengamati bekas-bekas di atas tanah. Cabang yang patah. Rumput yang rebah. Bahkan batu kecil yang posisinya bergeser.
"Bapak sedang mencari apa?"
"Lihat." Pak Harun menunjuk tanah di depan mereka.
Nadira mendekat. Awalnya ia tidak melihat apa-apa. Namun setelah memperhatikan lebih saksama terdapat jejak ban kendaraan. Masih baru. Alur rodanya belum tersapu angin.
"Mobil?"
Pak Harun mengangguk.
"Bukan satu. Sedikitnya tiga kendaraan." gumamnya.
Ia menyusuri bekas roda itu dengan pandangan tajam.
"Dan mereka datang dari arah mercusuar."
Nadira spontan menoleh. Bangunan tua itu kini tampak semakin jelas. Menjulang sunyi di atas tebing. Jendelanya gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Namun justru kesunyian itulah yang terasa mencurigakan.
Di waktu yang hampir bersamaan. Ardiyan berhasil menggeser kursinya beberapa senti lagi. Keringat membasahi pelipisnya. Tetapi usahanya tidak sia-sia. Kini ia berhasil meraih ujung kertas yang tadi terjatuh. Dengan susah payah, ia menariknya menggunakan ujung jari. Kertas itu akhirnya berada tepat di pangkuannya. Ia membacanya cepat-cepat. Bagian bawah daftar ternyata tidak berisi nama. Melainkan sebuah koordinat. Di bawahnya hanya ada satu kalimat pendek.
"Apabila saksi terakhir ditemukan, buka arsip di Menara Kenanga."
"Menara Kenanga..." Ardiyan mengulang kalimat itu dalam hati.
Ia kembali menoleh ke arah mercusuar yang terlihat melalui celah papan gudang. Bentuknya tinggi. Sepi. Dan kini terasa jauh lebih penting daripada sebelumnya. Bukan sekadar mercusuar tua. Mungkin itulah Menara Kenanga yang dimaksud.
Tiba-tiba suara mesin kendaraan terdengar dari kejauhan. Brmmm...Semakin lama semakin dekat. Ardiyan segera menyelipkan kertas itu ke balik lipatan bajunya. Ia kembali memejamkan mata. Pintu gudang terbuka kasar. Tiga orang masuk. Namun kali ini mereka tidak berbicara. Yang terdengar hanya suara sepatu menghantam lantai kayu. Lalu suara seseorang yang baru datang berkata pelan.
"Bos ingin memindahkan dia malam ini."
Salah seorang bertanya,
"Ke mana?"
Jawaban itu hanya terdiri dari dua kata.
"Menara Kenanga."
Di luar gudang sekitar lima ratus meter dari tempat Ardiyan disekap. Pak Harun mendadak menghentikan langkah. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat kepada Nadira agar merunduk. Di balik semak-semak, tampak tiga mobil berwarna gelap terparkir tanpa lampu. Beberapa lelaki berseragam hitam berdiri berjaga. Tak ada logo.
Tak ada identitas. Mereka tampak seperti bayangan yang sengaja menyatu dengan gelapnya senja. Pak Harun mengamati mereka cukup lama. Lalu berbisik.
"Mereka bukan polisi. Bukan juga tentara. Lalu siapa mereka?" tanya Nadira.
Pak Harun tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada mercusuar tua. Di puncaknya untuk sesaat muncul kilatan cahaya. Hanya satu kali. Pendek. Lalu menghilang. Seolah seseorang sedang mengirimkan sebuah sandi. Pak Harun menarik napas pelan. Wajahnya berubah tegang.
"Aku terlambat menyadarinya. Apa?"
Ia menatap mercusuar itu dengan sorot mata yang dipenuhi penyesalan.
"Mercusuar itu bukan penunjuk jalan bagi kapal..."
Ia berhenti sejenak.
Kemudian melanjutkan dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"...melainkan penunjuk jalan bagi mereka yang memburu rahasia Achmad."
Nadira mengikuti arah pandangnya. Mercusuar itu berdiri membisu. Tetapi untuk pertama kalinya ia merasa bangunan tua itu bukan sekadar latar. Melainkan jantung dari seluruh misteri yang selama ini membayangi hidup keluarganya.
Pak Harun tidak segera beranjak dari balik semak. Tatapannya masih terpaku pada mercusuar tua yang berdiri angkuh di atas tebing. Bangunan itu tampak lengang. Tidak ada cahaya. Tidak ada bayangan yang bergerak. Namun justru kesunyian itulah yang membuatnya terasa hidup.
"Tempat itu berubah..." gumam Pak Harun.
"Maksud Bapak apa?" Nadira menoleh.
"Dulu mercusuar itu dibangun untuk menuntun kapal-kapal yang kehilangan arah. Sekarang ia dipakai untuk membuat manusia kehilangan arah." Ia menarik napas panjang.
Angin laut berembus lebih kencang. Daun-daun pandan bergesekan, menimbulkan suara lirih yang terdengar seperti bisikan panjang. Pak Harun memandang garis pantai yang mulai diselimuti gelap.
"Kita tidak boleh mendekat dari jalan utama."
"Kenapa?" tanya Nadira.
"Karena mereka ingin kita melihat apa yang mereka siapkan."
"Lalu?" tanyanya kembali.
"Kita akan melihat apa yang mereka sembunyikan."
Mereka berbelok menyusuri tepian tebing. Jalur itu nyaris tak terlihat. Semak belukar tumbuh rapat menutupi jalan setapak yang dahulu biasa dilewati para nelayan. Pak Harun berjalan tanpa ragu. Seolah setiap batu dan setiap pohon masih tersimpan utuh di dalam ingatannya. Nadira mulai menyadari sesuatu.
"Pak Harun sering ke sini dulu?"
"Bukan sering." Pak Harun tersenyum tipis. Ia berhenti sejenak.