"ada rahasia yang disimpan di balik dinding batu. Ada pula rahasia yang disimpan di dalam dada manusia. Yang pertama dapat ditemukan oleh siapa pun yang sabar mencari. Yang kedua hanya akan terbuka ketika seseorang berani mempertanyakan semua yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran."
Malam semakin larut. Pantai Kenanga perlahan kehilangan warna. Debur ombak terdengar lebih pelan daripada detak jantung Nadira. Ia masih menggenggam foto lusuh yang baru saja diberikan sosok misterius itu. Empat orang. Lima bayangan. Satu kebohongan. Semuanya bercampur menjadi teka-teki yang tak lagi mampu ia susun dengan logika.
Di sampingnya, Pak Harun berdiri memandang laut. Lelaki tua itu tidak mengatakan apa pun. Namun dari sorot matanya, Nadira tahu. Ada sesuatu yang sedang ia putuskan. Keputusan yang mungkin telah ia hindari selama tiga puluh tahun.
"Aku lelah bersembunyi." kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Pak Harun.
"Pak Harun baik-baik saja?" Nadira menoleh.
"Selama ini aku selalu mengikuti pesan Achmad. Untuk diam. Untuk bertahan hidup. Tapi malam ini aku mulai bertanya apakah diam masih berarti melindungi?" Pak Harun tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan.
Angin laut bertiup lebih kencang. Lampu mercusuar berputar perlahan. Cahayanya menyapu permukaan ombak seperti mata raksasa yang tak pernah tidur. Pak Harun menarik napas panjang.
"Nadira. Ada satu tempat yang belum pernah kuceritakan kepadamu."
"Tempat apa?" Nadira mengangkat wajah.
Pak Harun memandang ke arah hutan cemara yang membentang di sisi timur Pantai Kenanga. Bukan ke mercusuar. Bukan pula ke laut. Melainkan ke deretan pepohonan yang selama ini luput dari perhatian mereka.
"Dulu Achmad menyebutnya Rumah Sunyi."
"Rumah Sunyi?" tanya Nadira keheranan.
"Itu bukan nama sebenarnya."
"Lalu?" tanyanya kembali.
"Itu nama yang kami berikan."
Pak Harun terdiam beberapa saat. Karena ketika sampai di sana tak seorang pun diizinkan berbicara. Nadira merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Apa yang ada di sana?"
Pak Harun tidak segera menjawab. Ia justru mengambil kaset pita yang mereka temukan. Lalu menatapnya cukup lama.
"Dulu Achmad pernah berkata kepadaku kalau suatu hari aku gagal kembali, jangan simpan jawabannya di kepalamu.'
Nadira menunggu. Pak Harun melanjutkan,
'Simpanlah di tempat yang bahkan tidak diketahui oleh ingatanmu sendiri.'
"Aku tidak mengerti." Nadira menggeleng.
"Aku juga tidak mengerti. Sampai malam ini. Kurasa aku tahu ke mana kita harus membawa kaset ini." ia menoleh ke arah hutan.
Jauh di atas mercusuar lelaki tua itu masih berdiri di balik jendela. Ia melihat dua bayangan kecil mulai bergerak meninggalkan pantai. Namun kali ini ia tidak memerintahkan siapa pun untuk mengejar. Ia hanya berkata kepada pria berjubah hitam di sampingnya,
"Mereka akhirnya memilih jalan yang benar."
"Tuan… Bukankah itu berarti mereka semakin dekat?" Pria itu tampak heran.
"Benar." Lelaki tua itu tersenyum.
"Lalu kenapa kita membiarkan mereka?"
Ia memandang laut yang gelap.
"Karena jawaban pertama selalu merupakan jebakan yang disiapkan Achmad."
Pria itu terdiam.
"Tapi jebakan kedua adalah milik kita." lelaki tua itu menutup mata perlahan.
Sementara itu, di ruang arsip bawah mercusuar. Ardiyan akhirnya berhasil memutus seluruh tali yang mengikat kedua tangannya. Ia mengusap pergelangan yang penuh luka. Namun ia tidak langsung melarikan diri. Tatapannya justru tertuju pada sebuah lemari arsip tua yang sejak tadi sedikit terbuka. Di sela pintunya terselip satu map cokelat. Tanpa nomor. Tanpa label. Hanya ada satu tulisan tangan di sudut kanan bawah. "N-17."
Ardiyan mengernyit. Perlahan ia menarik map itu keluar. Belum sempat membukanya langkah kaki terdengar dari koridor. Ia segera menyembunyikan map itu di balik bajunya. Lalu kembali berpura-pura masih terikat. Pintu mulai terbuka.
Kreeek… Dan orang pertama yang masuk ke ruangan itu bukan lelaki tua. Bukan pula penjaga berpakaian hitam. Melainkan seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun. Rambutnya telah dipenuhi uban. Tatapannya tenang. Saat melihat Ardiyan, ia hanya berkata satu kalimat.
"Kalau kau benar-benar ingin menyelamatkan Nadira... jangan pernah biarkan ia menemukan surat terakhir Achmad."
Ardiyan membeku. Perempuan itu sudah berbalik pergi. Namun kalimatnya masih menggema di dalam kepala. Surat terakhir. Selama ini Nadira hanya menemukan satu amplop. Kalau memang ada surat terakhir berarti masih ada pesan yang sengaja belum diwariskan. Dan mungkin itulah jawaban yang selama ini dicari semua orang.
Malam menelan Pantai Kenanga sedikit demi sedikit. Langit yang sejak senja diselimuti awan kini hanya menyisakan sepotong bulan pucat. Ombak terus datang memecah karang, lalu kembali ke laut seolah membawa bisikan yang tak pernah selesai diucapkan.
Pak Harun berjalan lebih dahulu. Tangannya menggenggam kaset pita yang mereka temukan dari ruang rahasia. Tak sekali pun ia menoleh. Ia berjalan seperti seseorang yang sedang mengikuti ingatan, bukan jalan setapak.
Nadira mengikutinya dalam diam. Semakin jauh mereka meninggalkan mercusuar, semakin rapat pepohonan cemara mengurung jalan. Angin laut perlahan menghilang. Digantikan aroma tanah basah dan dedaunan tua. Tak lama kemudian. Pak Harun berhenti. Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah kayu kecil. Atapnya telah dipenuhi lumut. Dindingnya mulai lapuk dimakan usia. Tak ada pagar. Tak ada jendela yang terbuka. Tak ada tanda bahwa rumah itu pernah dihuni. Namun halaman depannya bersih. Terlalu bersih. Seolah ada seseorang yang diam-diam masih merawatnya.
"Itukah Rumah Sunyi?"
"Betul. Tak pernah ada orang kampung yang berani mendekat." Pak Harun mengangguk.
"Kenapa?" tanya Nadira.
"Mereka percaya rumah ini membawa kutukan."
Nadira memandang bangunan tua itu. Entah mengapa ia tidak merasakan kutukan. Yang ia rasakan justru kesepian. Rumah itu tampak seperti seseorang yang terlalu lama menunggu.
Pak Harun melangkah menuju pintu. Anehnya pintu itu tidak terkunci. Ia mendorongnya perlahan.
Kreeeek… Suara engsel tua memecah keheningan. Debu tipis beterbangan. Namun tidak sebanyak yang seharusnya. Sekali lagi ada tanda-tanda bahwa rumah ini tidak benar-benar ditinggalkan.
Ruangan di dalam hampir kosong. Hanya ada sebuah meja. Dua kursi kayu. Rak buku. Dan sebuah jam dinding tua. Jarumnya berhenti tepat di angka 09.17. Nadira menatap jam itu beberapa saat.
"Lagi..." gumamnya.
"Kenapa?" Pak Harun menoleh.
"Angka."
"Memangnya kenapa?"
"Di kalender tadi juga ada tanggal. Di kunci ada angka Romawi."
Ia berhenti sejenak. Belum tentu itu memang bernomor. Tetapi firasatnya mengatakan semuanya saling berkaitan. Pak Harun mengangguk perlahan.
"Achmad menyukai angka. Bukan karena matematika. Tapi karena angka tidak pernah berbohong." ia mengusap permukaan meja.
Tiba-tiba Nadira memperhatikan sesuatu. Di atas rak buku terdapat belasan buku dengan sampul polos. Tak ada judul. Tak ada nama penulis. Semuanya berwarna cokelat tua. Ia mengambil salah satunya. Saat dibuka halaman-halamannya kosong. Tidak ada satu huruf pun.
"Buku kosong?"
"Justru itu yang aneh." Pak Harun tersenyum tipis.
Ia mengambil buku lain. Membukanya. Kosong. Buku ketiga. Kosong. Buku keempat. Masih kosong.
"Kalau semuanya kosong untuk apa disimpan?"bisik Nadira.
Pak Harun memandang rak itu cukup lama. Lalu perlahan berkata,
"Karena yang disimpan bukan tulisannya."
Belum selesai kalimatnya. Terdengar suara lembut. Tik… Jam dinding yang selama ini mati… bergerak satu detik. Nadira spontan mendongak. Jarum panjang berpindah sendiri. Tik… Lalu sekali lagi. Tik… Padahal tak ada baterai. Tak ada bandul. Tak ada mekanisme yang terlihat masih berfungsi. Pak Harun perlahan memucat.
"Mustahil..."
Jam itu kini berdetak perlahan. Satu detik. Satu detik lagi. Lalu berhenti tepat di pukul 09.30. Dan bersamaan dengan itu dari balik rak buku terdengar suara logam tua berputar.
Krrrkkkk… Rak tersebut bergeser beberapa sentimeter. Membuka sebuah ruang sempit di belakangnya. Namun bukan lorong. Bukan pula tangga. Melainkan sebuah ruangan kecil yang dindingnya dipenuhi ratusan kartu indeks. Masing-masing disusun rapi dalam laci-laci kayu. Setiap kartu hanya memuat tiga hal. Satu nama. Satu tanggal. Satu lokasi. Nadira mengambil kartu paling depan. Tangannya mendadak gemetar. Nama yang tertulis di sana bukanlah nama ayahnya. Bukan pula namanya Pak Harun. Melainkan NADIRA AZZAHRA. Dan pada bagian paling bawah terdapat satu kalimat pendek. "Dipilih sebagai Pewaris."
"Apa maksudnya ini?" Napas Nadira tercekat.
Pak Harun tidak menjawab. Karena pandangannya tertuju pada laci paling bawah. Laci itu berbeda. Lebih besar. Tanpa nama. Hanya ada sebuah simbol labirin. Dengan tangan yang mulai bergetar, ia menariknya perlahan. Di dalamnya hanya terdapat satu benda. Sebuah buku harian tua. Sampul kulitnya telah retak dimakan usia. Di sudut kanan bawah tertulis dengan tinta hitam yang mulai pudar. "Catatan yang Tidak Pernah Kutulis."
"Bagaimana mungkin ada catatan yang tidak pernah ditulis?" Nadira mengernyit.
Pak Harun memejamkan mata. Lalu berbisik pelan, seolah sedang berbicara kepada sahabatnya yang telah lama hilang.
"Achmad akhirnya aku mengerti. Kau tidak menyembunyikan kebenaran." ia mengangkat buku itu dengan kedua tangan. Tatapannya dipenuhi rasa takjub.
"Kau menyembunyikan cara agar kebenaran tidak bisa diubah."
Dan tepat ketika Nadira hendak membuka halaman pertama buku itu dari luar rumah terdengar bunyi ranting patah. Krek… Lalu satu lagi. Krek… Bukan angin. Bukan binatang. Seseorang sedang berjalan perlahan mengelilingi Rumah Sunyi. Dan dari balik jendela yang berdebu sesaat terlihat bayangan seseorang berhenti memandangi mereka. Bayangan di balik jendela itu lalu lenyap begitu saja ke dalam gelap secepat ia muncul.
Pak Harun spontan memadamkan lampu minyak. Rumah Sunyi kembali tenggelam dalam kegelapan. Tak ada satu pun yang berbicara. Mereka hanya mendengarkan. Angin. Dedaunan. Lalu… Krek… Ranting lain patah. Kali ini lebih dekat. Sangat dekat. Seolah seseorang sedang mengitari rumah sambil menghitung setiap jendela.
Pak Harun memberi isyarat agar Nadira tetap diam. Tangannya perlahan meraih buku harian tua itu, lalu menyelipkannya ke balik mantel lusuhnya.
"Nadira. Apa pun yang terjadi. Jangan biarkan buku ini jatuh ke tangan mereka." suara lelaki tua itu nyaris tak terdengar.
"Tapi kita belum membacanya." Nadira mengangguk pelan.
"Itulah sebabnya mereka menginginkannya." ucap Pak Harun lirih.
Tiba-tiba… Tok… Suara ketukan terdengar dari pintu depan. Satu kali. Pelan. Bukan ketukan orang yang ingin masuk. Melainkan ketukan seseorang yang tahu rumah itu tidak kosong. Tak ada jawaban. Lima detik berlalu. Tok... Tok... Tok… Tiga ketukan. Dengan jeda yang teratur.
Pak Harun membeku.
Matanya membelalak.
"Pak Harun apakah mengenalinya?" Nadira menatapnya.
"Itu kode. Achmad selalu mengetuk pintu seperti itu." Pak Harun mengangguk perlahan.
"Tapi. Ayah sudah..." Nadira menahan napas.
"Aku tahu." Pak Harun mengangguk.
Keheningan kembali turun. Tak lama kemudian terdengar suara dari balik pintu. Tenang. Berat. Sulit ditebak usianya.
"Harun. Aku tahu kau ada di dalam."
"Itu suara yang sama..." Nadira menggenggam lengan Pak Harun.
Pak Harun tidak menjawab. Tatapannya lurus ke arah pintu. Lalu suara itu kembali terdengar.
"Kalau kau masih mengingat janji kita jangan buka pintu."
Nadira tertegun. Mereka saling berpandangan. Kalimat itu terdengar aneh. Kalau memang orang di luar ingin masuk mengapa ia justru meminta pintunya tidak dibuka. Beberapa detik berlalu. Tak ada lagi suara. Hanya langkah kaki yang perlahan menjauh.
Tap… Tap… Tap… Sampai akhirnya menghilang di balik pepohonan. Pak Harun masih belum bergerak. Lima menit. Sepuluh menit. Barulah ia mengembuskan napas panjang.
"Syukurlah..." gumamnya.
"Apa maksud Bapak?" tanya Nadira.
"Itu ujian. Dulu Achmad pernah berkata… 'Kalau suatu hari ada orang yang datang memakai suaraku maka ingatlah satu hal. Aku tidak akan pernah meminta pintu dibuka.' jelas Pak Harun sembari duduk perlahan di kursi kayu.
"Kenapa?" tanya Nadira kebingungan.
"Karena orang yang benar-benar membawa kebenaran tidak akan memaksamu mempercayainya." jelasnya.
Kalimat itu membuat Nadira terdiam. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa ayahnya bukan hanya meninggalkan petunjuk. Ia juga meninggalkan cara membedakan antara kebenaran dan kebohongan.
Pak Harun akhirnya mengeluarkan buku harian tua itu. Sampul kulitnya retak. Sudut-sudutnya aus. Namun pengait kuningannya masih utuh. Ia membukanya perlahan. Halaman pertama kosong. Halaman kedua kosong. Halaman ketiga masih kosong.
"Kosong semua." Nadira mengernyit.
Pak Harun terus membalik. Sepuluh halaman. Dua puluh halaman. Lima puluh halaman. Tak satu pun berisi tulisan.
"Apa ini buku kosong?"
Pak Harun tidak menjawab. Ia justru membalik halaman paling akhir. Di sana akhirnya ada satu kalimat. Ditulis dengan tinta hitam yang mulai pudar.
"Kalau kau membaca halaman terakhir lebih dahulu berarti kau masih mengenalku."
"Itu benar-benar tulisan Achmad..." air mata Pak Harun perlahan jatuh. Di bawah kalimat itu terdapat petunjuk lain.
"Jangan membaca buku ini."
"Lalu maksudnya apa?" Nadira mengernyit.
"Achmad tidak pernah menulis sesuatu secara harfiah." Pak Harun tersenyum tipis.
Ia memperhatikan setiap halaman. Lalu mengangkat buku itu ke arah cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Mendadak Nadira melihat sesuatu. Di sela-serat kertas muncul guratan-guratan samar. Bukan tulisan. Melainkan gambar. Peta. Puluhan garis tipis saling bersilangan membentuk pola yang rumit. Pak Harun menahan napas.
"Bukan buku harian. Ini adalah lapisan terakhir dari peta." bisiknya.
Nadira memandang lembar demi lembar. Setiap halaman menyimpan potongan berbeda. Jika seluruh halaman ditumpuk barulah terbentuk satu gambar utuh. Sebuah jaringan lorong. Mercusuar. Pantai. Rumah Sunyi. Dan di bagian paling tengah ada satu tempat yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di atasnya hanya tertulis dua kata. Ruang Pertama
"Ruang pertama? Bukankah kita sudah menemukan banyak ruang rahasia?" Nadira mengernyit.
"Tidak. Kita baru menemukan jalan masuknya." Pak Harun menggeleng perlahan. Wajahnya kali ini benar-benar pucat.
Ia menatap peta itu tanpa berkedip. Lalu berkata dengan suara yang hampir hilang.
"Selama ini kita mengira semua lorong dibuat untuk menyembunyikan sesuatu. Padahal semua lorong ini dibuat untuk melindungi satu ruangan yang belum pernah dimasuki siapa pun selama tiga puluh tahun." ia mengangkat halaman transparan itu perlahan.
Di saat yang sama jauh di mercusuar lelaki tua itu berdiri di depan papan catur. Seorang bawahannya berlari tergesa-gesa.
"Tuan! Mereka memasuki Rumah Sunyi."
"Biarkan." lelaki tua itu tetap tenang.
"Tapi mereka akan menemukan Ruang Pertama."
Untuk pertama kalinya senyumnya memudar. Ia memandangi bidak raja yang berada di tengah papan. Lalu berbisik,
"Tidak. Yang kutakutkan bukan mereka menemukan Ruang Pertama."
Ia mengangkat bidak raja itu perlahan.
"Yang kutakutkan adalah jika Nadira mulai memahami alasan mengapa ayahnya memilih dirinya." matanya menatap ke arah hutan di kejauhan.
Di tempat lain, Pak Harun masih memandangi lembar-lembar tipis buku itu. Cahaya bulan yang menembus jendela membuat garis-garis samar di setiap halaman semakin jelas. Nadira mengambil napas panjang.
"Lapisan..." gumamnya.
"Apa?" Pak Harun menoleh.
"Bukan hanya peta." ucap Nadira.
Perempuan itu perlahan menumpuk beberapa halaman di atas meja. Satu. Dua. Tiga. Empat. Garis-garis yang semula tampak acak mulai saling bertemu. Membentuk satu pola yang lebih utuh. Pak Harun membeku.
"Kau. Bagaimana kau bisa berpikir sejauh itu?" ia memandang Nadira dengan takjub.
Nadira tidak menjawab. Tatapannya tak lepas dari pola yang mulai terbentuk.
"Ayah sepertinya tidak pernah membuat petunjuk untuk dibaca satu per satu." bisiknya lirih.
Ia mengambil halaman kelima. Meletakkannya di atas tumpukan. Pola itu kembali berubah. Kini tampak seperti akar pohon yang menjalar ke segala arah. Namun jika diperhatikan lebih lama akar-akar itu justru membentuk satu gambar lain. Seekor burung. Sayapnya terbentang lebar. Kepalanya menghadap ke arah timur.
"Aku ingat. Dulu Achmad sering berkata kalau manusia kehilangan arah, lihatlah burung yang selalu pulang sebelum malam.' Pak Harun perlahan tersenyum.
"Timur..." Nadira mengangkat wajah.
Pak Harun pun mengangguk.
"Bukan mercusuar. Bukan labirin. Bukan pula pantai."
Tatapan mereka berdua perlahan beralih ke arah hutan cemara yang terbentang di belakang Rumah Sunyi. Di sanalah kepala burung itu menunjuk. Namun perhatian Nadira tiba-tiba terhenti pada sesuatu yang lain.
Di sudut paling bawah pola tersebut terdapat sederet titik kecil. Jumlahnya tujuh.
Enam titik berwarna hitam. Satu titik berwarna merah.
"Pak Harun."
"Ya?"
"Menurut Bapak kenapa hanya satu yang berwarna merah?"
"Aku tidak tahu." Pak Harun menggeleng.
"Itu bukan penanda tempat. Itu penanda waktu." Nadira justru tersenyum kecil.
"Waktu?" Pak Harun mengernyit.
Nadira menunjuk keenam titik hitam.
"Kalau ini lokasi. Kenapa bentuknya sama persis? Tapi yang satu dibuat berbeda?"
Ia menarik kaset pita dari saku Pak Harun. Kemudian meletakkannya tepat di atas titik merah. Mendadak ukuran kaset itu pas. Seolah memang dibuat untuk menutupi titik tersebut. Pak Harun menahan napas.
"Achmad. Kau benar-benar sudah memperhitungkan semuanya." gumamnya.
Tiba-tiba terdengar suara berdengung pelan. Hmmm… Kaset itu bergetar. Sangat halus. Lalu di bagian tengahnya keluar sepotong logam tipis yang sebelumnya tersembunyi.
"Itu..." Nadira terkejut.
Pak Harun mengambilnya. Bukan pita. Bukan pula kunci. Melainkan sebuah keping film transparan. Ukurannya tak lebih besar dari telapak tangan. Jika dilihat sekilas tak ada apa-apa. Namun ketika Pak Harun meletakkannya di atas halaman buku garis-garis yang semula acak mendadak berubah menjadi tulisan.
"Ternyata bukunya memang tidak kosong." Nadira membelalak.
Tulisan itu perlahan muncul. Seolah tinta tak terlihat sedang disinari cahaya. Baris pertama berbunyi,
"Jika kau dapat membaca ini..."
Baris kedua,
"Berarti aku telah gagal melindungimu."
Nadira merasakan tenggorokannya tercekat. Tulisan itu bukan ditujukan kepada Pak Harun. Bukan kepada siapa pun. Melainkan langsung kepada dirinya. Ia melanjutkan membaca.