Jejak Yang Dihapus

linda ulfianah
Chapter #9

Rahasia Besar Yang Terkubur

"Tidak semua penjara dibangun dari besi. Sebagian dibangun dari rasa takut yang diwariskan begitu lama, hingga orang-orang lupa bahwa mereka sebenarnya masih bisa melarikan diri."

Keheningan kembali menguasai Ruang Pertama. Tak lagi terdengar suara langkah kaki. Tak lagi terdengar letusan dari atas Rumah Sunyi. Yang tersisa hanyalah bunyi pelan tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu, bergaung panjang di antara dinding-dinding tua yang telah menyimpan begitu banyak rahasia selama puluhan tahun. Lampu-lampu kristal yang tertanam di sela-sela batu kini memancarkan cahaya yang jauh lebih redup. 

Bayang-bayang rak arsip memanjang memenuhi ruangan. Ratusan map tua tersusun rapi tanpa pernah tersentuh waktu. Di atas punggung masing-masing map, tahun demi tahun berjajar seperti saksi bisu yang menunggu seseorang datang untuk membuka kisah mereka. Hingga tahun-tahun yang lebih baru. Masing-masing menyimpan nama.

Masing-masing menyimpan kehidupan. Dan mungkin masing-masing juga menyimpan seorang ibu yang tak pernah berhenti menunggu anaknya pulang.

Di tengah ruangan, mesin tik tua itu masih berdiri di atas meja batu. Sunyi. Diam. Namun seolah masih menyimpan gema ketukan jemari Achmad Prasetyo yang bertahun-tahun lalu pernah memenuhi ruang ini dengan suara logam yang beradu.

Tak… Tak… Tak… Nadira hampir dapat membayangkannya. Ayahnya duduk sendirian di ruangan itu setiap malam. Mengetik satu nama. Lalu satu nama lagi untuk mengumpulkan kepingan-kepingan kebenaran yang perlahan mengancam nyawanya sendiri.

Kini kursi itu kosong. Pemiliknya telah lama tiada. Namun perjuangannya masih memenuhi setiap sudut Ruang Pertama. Nadira berdiri tanpa bergerak. Jemarinya masih menggenggam foto kecil yang baru saja ia temukan di balik Laporan Terakhir.

Tangannya dingin. Bibirnya sedikit bergetar. Tatapannya tak sanggup lepas dari gambar seorang anak perempuan berkerudung merah yang sedang bermain di Pantai Kenanga.

Anak itu adalah dirinya. Usianya baru lima tahun. Terlalu kecil untuk memahami bahwa sejak saat itu hidupnya telah masuk ke dalam sebuah permainan yang bahkan tidak pernah ia ketahui. Matanya perlahan bergeser ke sosok lelaki yang berdiri jauh di belakang foto. Wajahnya tak terlihat. Hanya sebuah bayangan. Namun justru bayangan itulah yang membuat bulu kuduknya meremang.

Selama ini ia mengira sedang mengikuti jejak ayahnya. Ternyata selama ini pula ada seseorang yang mengikuti jejaknya. Bukan sehari. Bukan sebulan. Bukan setahun. Melainkan sepanjang hidupnya. Sebuah rasa dingin menjalar perlahan di tengkuknya.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki labirin itu Nadira tidak merasa sedang mencari jawaban. Ia merasa sedang menjadi bagian dari jawaban itu sendiri.

Tak jauh darinya, Pak Harun masih berdiri mematung. Tatapannya menyapu rak-rak arsip yang memenuhi ruangan. Mata lelaki tua itu tampak basah. Selama tiga puluh tahun ia menjaga tempat ini. Namun baru malam itu ia benar-benar memahami mengapa Achmad bersikeras mempertaruhkan segalanya demi menyembunyikan Ruang Pertama.

Sementara di sisi lain, Surya Mahendra tetap berdiri tanpa sepatah kata. Sorot matanya tidak lagi tertuju kepada Nadira. Melainkan pada foto kecil di tangan perempuan muda itu. Di wajahnya tersimpan penyesalan yang telah dipendam terlalu lama. Ia tau malam ini adalah titik yang selama puluhan tahun berusaha ia cegah.

Karena sejak foto itu terbuka tak ada lagi jalan untuk kembali. Rahasia yang selama ini hanya diketahui segelintir orang akhirnya telah menemukan pewarisnya.

Dan di saat yang sama di balik pintu batu yang memisahkan Ruang Pertama dari lorong labirin langkah-langkah itu kembali terdengar. Pelan. Teratur. Semakin dekat. Seolah seseorang sedang menghitung waktu sebelum rahasia yang terkubur selama tiga puluh tahun kembali mengubah nasib banyak orang.

Ruangan kembali sunyi. Tak satu pun dari mereka sanggup memecahkan keheningan itu. Hingga akhirnya Pak Harun mengembuskan napas panjang.

"Jadi, Achmad benar."

"Dia selalu benar." Surya menundukkan kepala.

Nadira perlahan mengangkat wajah. Tatapannya berpindah dari foto itu menuju Surya.

"Aku ingin tahu semuanya." ucap Nadira dengan raut wajah berapi-api.

Surya tidak langsung menjawab. Ia justru memandangi foto kecil itu dengan sorot mata yang dipenuhi penyesalan.

"Aku takut pada hari ini."

"Maksud Anda apa?" tanya Nadira kebingungan.

"Hari ketika kau mengetahui bahwa hidupmu sendiri juga bagian dari penyelidikan Achmad." terang Surya dengan nada lemah.

"Kalau Ayah sudah tahu aku diawasi kenapa beliau tidak pernah memberitahuku?" Nadira mengepalkan jemarinya.

"Karena kalau kau tau mungkin saja kau tidak akan pernah menjalani hidupmu dengan tenang layaknya manusia normal." Surya tersenyum pahit.

"Lagipula Achmad percaya satu hal." tambahnya.

"Apa?" tanya Nadira lagi.

"Anak-anak berhak tumbuh tanpa mewarisi ketakutan orang tuanya."

Kalimat itu membuat Nadira terdiam. Untuk pertama kalinya ia memahami mengapa ayahnya tidak pernah menceritakan apa pun. Bukan karena tidak percaya. Melainkan karena terlalu menyayanginya.

Di atas Ruang Pertama langkah kaki itu semakin dekat. Tok… Tok… Tok… Kini bukan hanya terdengar. Melainkan juga diiringi suara logam yang saling bergesekan. Seperti seseorang sedang menyeret sesuatu yang berat. Pak Harun memadamkan lampu minyak. Ruangan langsung tenggelam dalam cahaya redup kristal-kristal batu.

"Kenapa dipadamkan?" bisik Nadira.

"Supaya mereka mengira ruangan ini kosong." jawab Pak Harun.

"Percuma saja. Mereka sudah tahu kita ada di sini. Mereka hanya sedang menikmati ketakutan kita." Surya menggeleng pelan.

Tak lama kemudian langkah itu berhenti. Tepat di balik pintu batu. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang berbicara. Kemudian terdengar suara seseorang. Tenang. Datar. Namun cukup keras untuk menggema ke seluruh lorong.

"Surya..."

Pak Harun dan Nadira langsung menoleh. Wajah Surya seketika berubah pucat. Suara itu kembali terdengar.

"Sudah tiga puluh tahun. Berapa lama lagi kau ingin bersembunyi?"

Surya memejamkan mata. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. 

"Siapa dia?" Nadira memandangnya.

Surya membuka mata perlahan. Suaranya nyaris seperti bisikan.

"...orang yang seharusnya mati menggantikan Achmad."

Kalimat itu membuat udara di Ruang Pertama terasa membeku. Pak Harun menatap Surya dengan wajah tak percaya.

"Apa maksudmu?" Surya menarik napas panjang. Tatapannya pun kosong.

"Tiga puluh tahun yang lalu yang diburu sebenarnya bukan Achmad."

"Lalu siapa?" Nadira merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

Surya mengangkat wajah. Matanya dipenuhi rasa bersalah yang selama puluhan tahun ia simpan seorang diri. Dengan suara lirih ia berkata,

"Aku." tegas Surya dengan penuh penyesalan.

Dan untuk pertama kalinya Nadira menyadari bahwa kematian ayahnya mungkin bukan sekadar pembunuhan. Melainkan sebuah pengorbanan.

Tak ada seorang pun yang bergerak. Langkah kaki di balik pintu batu kembali terhenti. Kesunyian itu justru terasa lebih mencekam daripada suara apa pun. Nadira perlahan menurunkan foto kecil di tangannya. Tatapannya tak lagi dipenuhi keterkejutan. Kini yang tersisa hanyalah satu pertanyaan.

Mengapa ayahnya memilih memendam rahasia sebesar itu seorang diri?

Ia mengangkat wajah. Matanya menatap lurus ke arah Surya Mahendra.

"Mulai dari awal."

Suara Nadira tenang. Namun ketenangan itu justru membuat ruangan terasa semakin dingin.

"Aku tidak ingin lagi mendengar potongan-potongan cerita. Aku ingin tahu semuanya." Nadira menarik napas panjang.

Surya menundukkan kepala. Sudah lama ia membayangkan saat seperti ini. Tetapi ketika akhirnya tiba ia justru berharap waktu dapat berhenti sejenak. Pak Harun melangkah mendekat.

"Surya. Sudah cukup. Achmad sudah tiada. Nadira berhak mengetahui apa yang selama ini kita sembunyikan." suara lelaki tua itu terdengar berat.

Surya memejamkan mata. Lalu mengangguk perlahan.

"Baiklah." ucapnya.

Ia berjalan menuju meja batu. Tangannya menyentuh mesin tik tua peninggalan Achmad. Jari-jarinya mengusap salah satu tuts yang mulai berkarat.

"Mesin ini jauh lebih banyak mendengar tangis Achmad daripada siapa pun."

Nadira terdiam. Surya melanjutkan.

"Dulu, setiap kali kami menemukan seorang anak yang dinyatakan hilang Achmad selalu mengetik namanya sendiri."

"Kenapa?" tanya Nadira.

"Karena ia takut suatu hari tak ada lagi yang mengingat mereka."

Surya menarik salah satu laci kecil di bawah meja batu. Laci itu sempat tersangkut beberapa saat sebelum akhirnya terbuka. Di dalamnya hanya ada sebuah buku saku berwarna hitam. Sampulnya telah mengelupas. Tak ada judul. Tak ada nama pemilik. Hanya sebuah simbol kecil yang sama seperti simbol yang mereka temukan di dinding labirin. Surya memegang buku itu beberapa saat. Lalu menyerahkannya kepada Nadira.

"Bukalah."

Nadira menerimanya perlahan. Saat halaman pertama dibuka ia mengernyit. Seluruh isinya ditulis tangan. Rapi. Dengan tinta hitam. Namun bukan laporan. Bukan catatan penyelidikan. Melainkan nama. Hanya nama. Ratusan nama. Setiap nama disertai satu tanggal. Dan di sampingnya terdapat satu kata. Hilang. Halaman berikutnya. Nama lain. Hilang. Halaman berikutnya lagi. Hilang. Semuanya sama. Tak ada penjelasan.

Tak ada alamat. Tak ada identitas lain. Hanya nama. Dan satu kata yang berulang tanpa belas kasihan. Nadira membalik halaman demi halaman dengan napas yang mulai memburu.

"Semua ini...Siapa mereka?" tanya Nadira.

"Mereka adalah anak-anak yang bahkan tidak sempat masuk ke dalam arsip." Surya menjawab pelan.

Ruangan mendadak terasa semakin sunyi. Nadira berhenti membalik halaman.

"Achmad tidak pernah berhasil menemukan mereka." jelasnya.  

"Jadi apakah mereka benar-benar hilang?" tanya Nadira.

"Bahkan sebelum sempat meninggalkan jejak." Surya mengangguk.

Kalimat itu menghantam Nadira jauh lebih keras daripada yang ia bayangkan. Ia memandangi halaman-halaman buku itu sekali lagi. Begitu banyak nama. Begitu banyak kehidupan. Begitu banyak keluarga. Namun semuanya kini hanya tersisa dalam sebuah buku kecil yang tersembunyi di dasar laci. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Berapa jumlah mereka?" Suara Nadira hampir tak terdengar.

Surya tidak segera menjawab. Ia justru memandang rak-rak arsip yang mengelilingi ruangan.

"Achmad pernah berkata kepadaku setiap kali ia menemukan satu anak ia selalu terlambat untuk menemukan sepuluh lainnya."

Kalimat itu membuat Pak Harun menundukkan kepala. Selama bertahun-tahun mereka menganggap diri mereka sedang mengejar para pelaku. Padahal kenyataannya mereka selalu tertinggal. Selalu selangkah lebih lambat. Tepat saat itu...

Tok! Suara keras menggema dari balik pintu batu. Bukan langkah kaki. Melainkan seseorang mengetuknya. Hanya sekali. Namun cukup membuat seluruh tubuh mereka menegang. Tak lama kemudian terdengar suara yang berat dan tenang.

"Achmad selalu punya kebiasaan buruk."

Nadira langsung menoleh ke arah pintu batu. Suara itu terdengar begitu dekat. Seolah pemiliknya hanya berdiri beberapa langkah dari mereka.

"Dia terlalu percaya bahwa kebenaran akan selalu menang."

Pak Harun mengepalkan tangan. Wajahnya berubah pucat. Surya menundukkan kepala. Ia mengenali suara itu. Sangat mengenalinya. Kemudian suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan. Namun setiap katanya terasa seperti pisau.

"Kalau benar masih ada orang di dalam sampaikan salamku untuk putri Achmad Prasetyo."

Nadira membeku. Jantungnya berdetak semakin kencang. Orang itu bukan hanya tahu bahwa mereka berada di Ruang Pertama. Ia bahkan mengetahui siapa dirinya. Surya perlahan menutup mata. Lalu berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Dia tidak pernah salah. Selama tiga puluh tahun dia selalu selangkah lebih dulu daripada kami."

Dan untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai Nadira merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan takut. Melainkan kesadaran bahwa mereka sedang menghadapi seseorang yang mungkin telah mengetahui setiap langkah mereka bahkan sebelum mereka sendiri memutuskannya.

Suara itu menghilang. Namun gema setiap katanya masih bergantung di langit-langit Ruang Pertama. Tak seorang pun bergerak. Pak Harun menggenggam erat gagang lampu minyak yang telah padam. Sorot matanya tidak pernah lepas dari pintu batu. Surya berdiri membelakangi mereka. Bahu lelaki itu tampak menegang. Seolah ia sedang mengumpulkan keberanian untuk menghadapi masa lalu yang selama ini selalu berusaha ia hindari. Nadira memecah keheningan.

"Siapa dia?"

Tak ada jawaban.

"Pak Surya siapa orang di balik pintu itu?" nada suaranya kali ini lebih tegas.

 

Surya menarik napas panjang. Tangannya mengepal. Lalu perlahan ia berbalik.

"Namanya tidak penting."

"Tidak. Sudahlah kali ini tidak ada lagi yang perlu disembunyikan." Pak Harun langsung menggeleng.

"Kalau aku menyebut namanya berarti aku menghidupkan kembali sesuatu yang selama tiga puluh tahun ingin kami kubur." Surya memejamkan mata.

"Rahasia itu sudah tidak bisa dikubur lagi." Nadira menatapnya tanpa berkedip.

Ruangan kembali sunyi. Beberapa saat kemudian Surya mengangguk pelan.

"Baik. Tapi sebelum kalian mengenal siapa dia kalian harus mengenal apa yang sebenarnya kami lawan."

Ia melangkah menuju rak arsip paling ujung. Rak itu berbeda. Tidak ada penanda tahun. Tidak ada nomor. Hanya sebuah laci kayu kecil yang hampir menyatu dengan dinding. Surya mengeluarkan sebuah map berwarna cokelat tua. Map itu jauh lebih tipis dibandingkan arsip lainnya. Di bagian depan hanya tertulis dua kata.

IDENTITAS BARU

"Apa ini?" Nadira mengernyit.

"Silakan coba buka." Surya menyerahkan map itu kepadanya.

Perlahan Nadira membuka halaman pertama. Di sisi kiri terdapat foto seorang anak laki-laki. Usianya sekitar delapan tahun. Di bawah foto tertulis:

Nama Asli Bima Prakoso. Tempat lahir. Tanggal lahir. Nama ayah. Nama ibu. Semuanya lengkap. Namun halaman sebelahnya membuat Nadira tercekat. Foto anak yang sama. Wajah yang sama. Tetapi namanya berubah. Nama Daniel Hartono. Ayah.

Ibu. Tempat lahir. Semuanya berbeda. Seolah-olah ia adalah anak lain. Nadira membolak-balik halaman berikutnya. Ijazah. Akta kelahiran. Kartu keluarga. Paspor. Semuanya menggunakan identitas baru. Tidak ada satu pun yang tersisa dari nama Bima Prakoso.

"Ini semuanya palsu?" suara Nadira bergetar.

"Justru itulah yang paling mengerikan." Surya menggeleng pelan.

"Itu bukan dokumen palsu."

"Itu dokumen resmi."

Ruangan mendadak terasa semakin dingin.

"Resmi?" Nadira menatapnya bingung.

"Mereka tidak menculik anak-anak hanya untuk dijual. Mereka dengan sengaja menghapus kehidupan lamanya." Surya mengangguk.

"Setelah itu barulah mereka membuat kehidupan baru." Pak Harun menundukkan kepala.

"Nama baru. Keluarga baru. Kota baru. Bahkan negara baru." Surya melanjutkan.

Nadira menatap foto itu lagi. Anak itu masih hidup. Namun secara hukum Bima Prakoso sudah tidak pernah ada. Yang hidup hanyalah Daniel Hartono. Ia bukan lagi anak dari orang tua kandungnya. Ia bukan lagi cucu dari kakek dan neneknya. Ia bukan lagi kakak atau adik bagi saudara-saudaranya. Dalam selembar dokumen seluruh hidupnya dihapus. Nadira perlahan menutup map itu. Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan.

"Berarti orang tua mereka tidak akan pernah bisa menemukan mereka."

"Itulah tujuan mereka. Membuat anak-anak itu mustahil pulang." Surya mengangguk.

Kalimat itu menggantung lama di udara. Nadira mendadak teringat pada foto dirinya sendiri. Sejak kecil ia diawasi. Bagaimana jika tujuan mereka bukan hanya mengawasi. Bagaimana jika suatu hari ia juga seharusnya mengalami nasib yang sama?

Pikiran itu membuat tubuhnya merinding. 

"Kenapa aku masih di sini? Kenapa aku tidak pernah diculik?" tanya Nadira sembari memandang Surya tajam.

Pertanyaan itu membuat Surya dan Pak Harun saling berpandangan. Wajah keduanya berubah. Sangat berubah. Seolah pertanyaan itu adalah sesuatu yang paling mereka takutkan. Surya menelan ludah. Kemudian berkata lirih,

"Karena..."

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

DORR! Sebuah dentuman keras mengguncang pintu batu. Debu berjatuhan dari langit-langit. Rak-rak arsip bergetar hebat. Mesin tik tua di atas meja batu bergeser beberapa sentimeter. Nadira refleks memegang meja agar tidak terjatuh. Pak Harun langsung berdiri di depan rak arsip. Melindunginya.

DORR! Dentuman kedua. Kali ini jauh lebih keras. Retakan halus mulai menjalar di permukaan pintu batu. Suara dari balik pintu terdengar lagi. Tetap tenang. Tetap dingin. Namun kini disertai senyum yang seolah dapat mereka rasakan.

"Achmad membangun pintu ini dengan sangat baik..."

Ia berhenti sejenak. Lalu melanjutkan,

"...tapi tidak ada pintu yang mampu menyimpan rahasia untuk selamanya."

Surya memejamkan mata. Wajahnya pucat. Ia berbisik hampir tanpa suara,

"Dia tidak sedang mencoba masuk..."

"Lalu apa lagi?" Nadira menoleh cepat.

Surya menatap retakan yang mulai membelah pintu batu. Sorot matanya dipenuhi ketakutan.

"Dia sedang memastikan kita tidak punya jalan keluar."

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Ruang Pertama Nadira menyadari satu hal yang mengerikan. Labirin yang selama ini mereka anggap sebagai tempat perlindungan perlahan berubah menjadi perangkap.

Ruangan kembali bergetar. Bukan sekuat sebelumnya. Namun cukup membuat debu-debu halus berjatuhan dari sela-sela batu. Retakan pada pintu batu kini memanjang perlahan. Suara gesekan batu terdengar lirih. Seperti seseorang sedang mengikisnya sedikit demi sedikit. Pak Harun menghela napas panjang.

"Dia tau kita tidak mungkin keluar sebelum membuka pintu itu sendiri."

"Maksud Bapak?" Nadira menoleh.

"Achmad membuat Ruang Pertama bukan hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Tetapi untuk menahan siapa pun yang ada di dalam." Pak Harun menatap pintu batu yang mulai retak.

"Berarti kalau pintu itu tertutup dari luar kita juga tidak bisa keluar." Nadira membeku.

Kesunyian langsung menyelimuti ruangan. Nadira baru menyadari sesuatu. Sejak mereka masuk mereka sama sekali tidak pernah mencoba membuka pintu dari arah dalam. Mereka terlalu sibuk membaca arsip. Terlalu sibuk mengejar jawaban. Sementara labirin diam-diam telah berubah menjadi penjara.

Surya tiba-tiba berjalan cepat menuju salah satu rak. Bukan rak arsip. Melainkan dinding batu di belakangnya. Ia menggeser beberapa map tua. Lalu mengetuk permukaan batu dengan pola tertentu.

Tok…Tok…Tok-tok. Tak terjadi apa-apa. Ia mengulanginya.

Tok…Tok…Tok-tok. Masih sunyi. Wajah Surya perlahan berubah.

"Apa yang kau cari?" Pak Harun mendekat.

"Jalan kedua." bisiknya.

"Masih ada?" tanya Pak Harun.

"Dulu Achmad membuat dua jalur keluar. Supaya kalau satu diketahui yang lain tetap aman." Surya mengangguk.

 

Pak Harun ikut meraba dinding. Namun batu itu tetap terasa utuh. Tak ada celah. Tak ada engsel. Tak ada tanda bahwa di baliknya pernah ada lorong.

"Tidak mungkin. Achmad tidak mungkin menghilangkannya." gumam Surya.

Lihat selengkapnya