"Malam tidak pernah benar-benar menyembunyikan kebenaran. Ia hanya membungkusnya dengan bayang-bayang, membiarkan manusia mengira bahwa gelap adalah tempat paling aman untuk menyimpan dosa. Padahal, setiap rahasia yang terlalu lama dikubur akan menemukan jalannya sendiri menuju cahaya. Dan ketika saat itu tiba, bukan hanya mereka yang bersalah yang akan gemetar, tetapi juga mereka yang selama ini memilih diam."
Malam turun perlahan di Pantai Kenanga. Langit kehilangan semburat jingganya, berganti menjadi hamparan kelam yang hanya dihiasi cahaya bulan separuh. Angin laut bertiup lebih dingin daripada biasanya, membawa aroma garam yang bercampur dengan bau kayu lapuk dari gudang-gudang tua di sepanjang pesisir.
Debur ombak terdengar berulang-ulang memecah kesunyian. Namun malam itu, suara laut bukan lagi bunyi paling keras di Pantai Kenanga. Yang paling nyaring justru keheningan. Keheningan orang-orang yang sedang menunggu.
Di balik semak dan batu karang tempat mereka bersembunyi, Nadira memandangi bibir pantai tanpa berkedip. Jarak antara dirinya dan Ardiyan hanya puluhan meter, tetapi terasa seperti dipisahkan oleh jurang yang tak mungkin diseberangi. Ia menggenggam kompas kuningan peninggalan Achmad begitu erat hingga ruas-ruas jarinya memutih.
Kompas itu kembali bergetar pelan. Jarumnya bergerak perlahan. Bukan mengarah ke laut. Bukan pula ke Rumah Sunyi. Melainkan ke arah mercusuar tua yang berdiri membisu di ujung Pantai Kenanga.
"Pak Harun..." Nadira mengernyit.
"Kenapa?" Pak Harun yang sejak tadi mengamati pergerakan orang-orang berpakaian hitam segera menoleh.
"Kompas ini bergerak lagi." katanya keheranan.
Pak Harun mendekat. Surya ikut memperhatikan. Jarum kompas berputar sekali, lalu berhenti dengan mantap mengarah ke mercusuar. Surya menarik napas panjang.
"Achmad. Kita salah sejak awal." Surya tersenyum tipis, seolah baru memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun luput dari pikirannya.
"Salah bagaimana?" Nadira mengangkat wajah.
"Selama ini kita mengira Rumah Sunyi adalah pusat dari semua rahasia." ia menggeleng pelan.
"Lalu apa?" tanya Nadira.
"Mercusuar itulah pusatnya." Surya mengalihkan pandangannya ke mercusuar yang siluetnya tampak menjulang di bawah cahaya bulan.
"Jadi selama ini Rumah Sunyi hanya pengalih perhatian?" Pak Harun membeku.
"Achmad sengaja membangun labirin di bawah Rumah Sunyi agar siapa pun yang menemukannya akan berhenti di sana."
"Padahal tempat yang benar-benar ingin ia lindungi berada tepat di depan mata semua orang." Surya mengangguk pelan.
Nadira memandangi mercusuar tua itu. Bangunan yang sejak kecil ia anggap hanya penanda bagi para nelayan ternyata mungkin menyimpan jawaban terakhir dari seluruh perjalanan ayahnya.
Di bawah sana, lelaki berambut memutih kembali melangkah keluar dari gudang tua. Ia memandang ke arah laut beberapa saat. Kemudian mengangkat tangan kanannya. Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara mesin kapal memecah malam. Sebuah kapal kayu berukuran sedang perlahan muncul dari balik gelapnya lautan. Lampunya sengaja dipadamkan. Ia bergerak tanpa suara, seolah telah berkali-kali melakukan perjalanan yang sama.
"Itu kapal apa?" tanya Nadira dan Pak Harun mengikuti arah pandangnya.
"Dulu kami menyebutnya kapal yang tak pernah tercatat." Surya mengepalkan tangan.
"Maksudnya bagaimana?" Nadira menoleh cepat.
Surya tidak segera menjawab. Sorot matanya melekat pada kapal yang perlahan merapat ke dermaga kecil di sisi timur pantai. Lalu, dengan suara yang nyaris tenggelam oleh debur ombak, ia berkata,
"Achmad pernah mengatakan kepadaku selama kapal itu masih berlayar, anak-anak akan terus menghilang.'"
Kalimat itu menggantung di udara. Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai, Nadira menyadari bahwa malam itu bukan sekadar malam penyergapan. Malam itu adalah malam ketika jaringan yang selama puluhan tahun bergerak dalam bayang-bayang akan kembali menjalankan pengiriman berikutnya.
Dermaga kecil di sisi timur Pantai Kenanga mulai hidup. Beberapa lelaki berpakaian gelap bergerak cepat tanpa banyak bicara. Mereka menurunkan peti-peti kayu dari gudang tua, lalu menyusunnya di atas kapal dengan ketelitian yang nyaris mekanis. Tak ada teriakan. Tak ada aba-aba. Setiap orang seolah telah menghafal perannya masing-masing.
Dari kejauhan, kegiatan itu tampak seperti aktivitas nelayan yang hendak berlayar sebelum fajar. Namun Nadira tahu semuanya hanyalah penyamaran. Di sela-sela debur ombak, kembali terdengar suara lirih. Tangisan. Sangat pelan. Nyaris tenggelam oleh angin laut.
Nadira memejamkan mata. Suara itu kembali mengingatkannya pada Rafi. Ia teringat malam ketika putra kecilnya selalu meminta dipeluk sebelum tidur. Teringat bagaimana Rafi sering bertanya kapan ayahnya pulang. Dan Alya, yang meski berusaha tegar di depan adiknya, diam-diam menangis setiap kali kamar Ardiyan terbuka tanpa ada siapa pun yang masuk.
Bayangan kedua anaknya memenuhi pikirannya. Entah bagaimana keadaan mereka sekarang. Apakah Alya masih mampu menenangkan Rafi? Apakah Rafi masih menunggu di depan pintu setiap sore, berharap ayah dan ibunya pulang bersamaan?
Dadanya terasa sesak. Untuk sesaat ia ingin meninggalkan semua ini. Pulang. Memeluk kedua anaknya. Mengakhiri semuanya. Namun suara tangisan dari arah truk kembali terdengar. Kali ini lebih jelas. Nadira membuka matanya. Di balik pintu besi truk yang tertutup rapat, ada anak-anak yang malam itu mungkin juga sedang memanggil ibu mereka. Anak-anak yang mungkin tak akan pernah lagi melihat rumah jika kapal itu berhasil berangkat. Perlahan, keraguan di dalam dirinya berubah menjadi tekad.
"Aku tidak akan membiarkan kapal itu berlayar." ucap Nadira sembari mengepalkan tangan.
"Kau tahu risikonya?" Pak Harun menatapnya.
"Kalau malam ini kita gagal besok akan ada keluarga lain yang kehilangan anak." Nadira mengangguk.
"Ayahmu pernah mengatakan sesuatu kepadaku." Surya tersenyum tipis. Senyum yang dipenuhi rasa bangga.
"Apa?" tanya Nadira.
"Keberanian bukan ketika seseorang tidak merasa takut. Keberanian adalah ketika seseorang tetap melangkah meski ketakutan itu tidak pernah pergi.'' ucap Surya sembari memandang Nadira lekat-lekat.
Nadira menundukkan kepala. Kalimat itu terasa begitu akrab. Seolah Achmad sedang berdiri di sampingnya. Menguatkannya. Di bawah sana, suasana mulai berubah. Lelaki berambut memutih kembali mengangkat tangannya.
Dua pria menyeret Ardiyan keluar dari gudang tua. Langkah Ardiyan masih sempoyongan. Namun kali ini Nadira menyadari sesuatu. Ardiyan sengaja memperlambat langkahnya. Ia beberapa kali menjatuhkan tubuhnya ke pasir. Orang-orang itu tampak kesal dan kembali menariknya berdiri.
"Itu bukan karena dia lemah." Pak Harun mempersempit pandangannya.
"Dia sedang menghitung." Surya mengangguk.
"Menghitung apa?" tanya Nadira.
"Menghitung banyaknya orang disana." ucap Surya.
Nadira kembali memperhatikan. Benar. Setiap kali Ardiyan terjatuh, matanya justru bergerak cepat. Mengamati. Menghitung jumlah penjaga. Mencatat posisi mereka. Menghafal jalur menuju dermaga. Tanpa membawa buku. Tanpa pena. Semuanya disimpan di dalam ingatannya.
"Kau tahu? Kau sedang menghadapi masalah dia selalu menghafal keadaan di sekelilingnya." Pak Harun menatapnya.
"Itu kebiasaannya sejak dulu." Nadira tersenyum tipis.
"Berarti selama disekap ia tidak hanya menunggu diselamatkan. Ia sedang mengumpulkan informasi."
Belum sempat mereka menyusun rencana sesuatu terjadi. Seorang penjaga berlari tergesa-gesa menuju lelaki berambut memutih. Ia membisikkan sesuatu. Raut wajah pemimpin itu berubah. Tanpa banyak bicara, ia segera membuka map hitam yang sejak tadi dibawanya. Beberapa lembar dokumen dikeluarkan. Ia membolak-balik halaman dengan cepat. Lalu berhenti pada satu lembar foto. Sorot matanya mengeras. Ia menoleh ke arah mercusuar. Tatapannya lama. Sangat lama. Seolah baru saja menyadari sesuatu yang seharusnya sudah ia pahami sejak awal.
"Celaka..." Surya langsung menegang.
"Ada apa?" Pak Harun memandangnya.
"Dia juga mulai mengerti." Surya berbicara dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Mengerti apa?" tanya Pak Harun.
"Bahwa yang dicari Achmad selama ini bukan untuk disembunyikan di Rumah Sunyi melainkan di mercusuar." Surya tidak mengalihkan pandangannya dari lelaki itu.
Kalimat itu baru saja selesai terucap ketika lelaki berambut memutih mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Ubah rencana. Separuh pasukan ke mercusuar. Yang lain tetap mengawal kapal." suaranya terdengar jelas hingga ke atas tebing.
Nadira, Pak Harun, dan Surya saling berpandangan. Waktu mereka habis. Kalau orang-orang itu lebih dahulu mencapai mercusuar maka rahasia terakhir yang ditinggalkan Achmad mungkin akan lenyap untuk selamanya. Dan malam itu untuk pertama kalinya. Nadira harus memilih. Menyelamatkan Ardiyan. Atau berlari menuju mercusuar demi menjaga warisan terakhir ayahnya.
Keputusan itu hanya memiliki waktu beberapa detik. Di bawah sana, orang-orang berpakaian hitam mulai bergerak. Sebagian berlari menuju mercusuar, sebagian lagi tetap berjaga di sekitar dermaga dan kapal yang perlahan bersiap meninggalkan pantai.
Malam yang semula tenang berubah menjadi panggung bagi sebuah perlombaan.
Siapa yang lebih dahulu mencapai tujuan. Nadira memejamkan mata sejenak. Bukan untuk menyerah. Melainkan untuk mengingat. Ia mengingat setiap petunjuk yang ditinggalkan Achmad. Setiap simbol. Setiap lorong. Setiap kalimat yang dulu terasa membingungkan. Lalu, tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Ia membuka mata.
"Pak Harun dulu Ayah pernah berkata, 'Kalau semua orang berlari ke pintu depan, carilah jalan yang dipakai cahaya masuk.' ucap Nadira.
Pak Harun terdiam. Kalimat itu ia pernah mendengarnya. Namun tak pernah memahami maksudnya. Surya tiba-tiba memukul pelan dahinya sendiri.
"Astaga. Aku baru mengerti."
"Apa?" tanya Nadira.
"Mereka akan masuk lewat tangga utama." Surya menunjuk mercusuar.
"Lalu bagaimana?" tanyanya kembali.
"Achmad pasti menyiapkan jalan lain. Karena itu caranya."
Ia tidak pernah membuat satu-satunya jalan menuju tujuan. Nadira menatap kompas kuningan di tangannya. Jarumnya masih menunjuk ke arah mercusuar. Namun kini ia memperhatikan sesuatu yang sejak tadi terlewat. Di bagian belakang kompas terdapat sebuah ukiran yang sangat kecil. Ukiran itu hampir hilang dimakan usia. Ia mengusap permukaannya dengan ibu jari. Debu tipis terangkat. Muncullah sebuah gambar sederhana. Mercusuar. Dan di sampingnya sebuah garis melengkung yang berakhir pada sebuah titik di balik tebing.
"Itu peta..." bisik Nadira.
Surya langsung mendekat. Bibirnya bergetar.
"Bukan. Itu jalur servis. Jalur yang dipakai penjaga mercusuar zaman dulu."
Pak Harun memandang ke arah tebing di sebelah timur. Di sana tumbuh ilalang tinggi yang menutupi lereng batu. Tak ada siapa pun yang akan menyangka bahwa di balik rerumputan itu tersembunyi jalan setapak sempit yang nyaris menyatu dengan alam.
"Achmad benar-benar luar biasa. Selama puluhan tahun ia bahkan menyembunyikan jalan menuju tempat persembunyiannya di dalam sebuah kompas." gumam Pak Harun.
Namun sebelum mereka bergerak terdengar suara pendek dari bawah tebing. Sangat pelan.
"Hsst..."
Ketiganya langsung menoleh. Tak ada siapa pun. Hanya semak-semak yang bergoyang diterpa angin. Suara itu terdengar lagi.
"Hsst..."
Pak Harun perlahan mengambil sebatang ranting. Ia menyibakkan semak dengan hati-hati. Seseorang muncul dari balik kegelapan. Seorang lelaki tua. Tubuhnya kurus. Pakaiannya lusuh. Janggut putih memenuhi dagunya. Di bahunya tergantung jaring ikan yang telah usang. Namun matanya tajam. Sangat tajam. Ia menatap Nadira cukup lama. Lalu tersenyum kecil.
"Jadi. Kaulah putri Achmad."
"Bapak mengenal ayah saya?" tanya Nadira.
"Sudah sangat lama." lelaki tua itu mengangguk.
"Siapa Bapak?" tanyanya kembali.
Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah peluit kayu kecil dari saku bajunya. Peluit itu diukir dengan simbol yang sama seperti kompas kuningan milik Achmad. Pak Harun langsung membelalak.
"Achmad memberikannya kepadaku tiga puluh tahun yang lalu." lelaki tua itu tersenyum.
Surya melangkah maju. Wajahnya penuh keterkejutan.
"Tidak mungkin. Kami mengira kau sudah meninggal." lelaki tua itu terkekeh pelan.
"Dalam dunia yang sedang kalian hadapi kadang-kadang cara paling aman untuk tetap hidup adalah membuat semua orang percaya bahwa kita telah mati."
Angin kembali berembus. Jubah lusuh lelaki tua itu berkibar pelan. Ia menatap ke arah mercusuar yang kini mulai dikepung orang-orang berpakaian hitam. Kemudian berkata dengan tenang,
"Kalau kalian ingin menyelamatkan Ardiyan dan anak-anak itu kalian tidak akan berhasil tanpa membuka mercusuar."
"Kenapa?" Nadira mengernyit.
"Karena jawaban terakhir yang ditinggalkan Achmad bukan berada di bawah tanah." ia berhenti sejenak. Tatapannya berubah sendu.
"Melainkan di tempat yang paling dekat dengan cahaya."
Sesaat kemudian, dari arah mercusuar terdengar suara logam beradu. Brak! Pintu utama mercusuar berhasil didobrak. Lelaki tua itu mengangkat telunjuknya ke arah puncak mercusuar. Orang-orang berpakaian hitam mulai masuk ke dalamnya. Lelaki tua itu memejamkan mata.
"Kita terlambat..."
"Belum." namun Nadira justru menggeleng. Tatapannya tertuju pada jalur sempit di balik tebing yang tergambar di kompas. Dengan langkah mantap, ia menggenggam kompas itu lebih erat.
"Kalau Ayah benar-benar menyiapkan jalan ini berarti ia sudah memperhitungkan kemungkinan bahwa suatu hari musuh akan datang lebih dulu."
Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai. Nadira tidak lagi menunggu petunjuk.
Ia mulai memimpin. Dan Pak Harun serta Surya, tanpa sepatah kata pun, mengikuti langkahnya menuju jalan sempit yang tersembunyi di balik ilalang.
Ilalang yang menutupi lereng tebing bergoyang perlahan diterpa angin laut. Di balik rumpun-rumpun liar itu tersembunyi sebuah jalan setapak yang nyaris menyatu dengan bebatuan. Lebarnya tak lebih dari setengah meter. Di sisi kirinya menjulang dinding karang yang lembap, sementara di sisi kanannya terbentang jurang yang langsung menghadap lautan gelap. Debur ombak terdengar jauh di bawah. Sesekali percikannya memantulkan cahaya bulan hingga tampak seperti ribuan serpihan kaca yang berkilau di permukaan laut.
Lelaki tua itu berjalan paling depan. Langkahnya pelan. Namun mantap. Seolah kakinya telah menghafal setiap lekukan jalan yang bahkan nyaris tak terlihat oleh mata. Nadira mengikutinya sambil terus menggenggam kompas kuningan. Anehnya semakin dekat mereka ke mercusuar, jarum kompas itu semakin bergetar. Bukan lagi menunjuk satu arah. Melainkan berputar perlahan, seolah sedang mencari sesuatu yang berada tepat di bawah kaki mereka.
"Pak. Lihat ini." bisik Nadira.
Lelaki tua itu berhenti. Ia memandangi kompas beberapa saat. Kemudian tersenyum kecil.
"Masih bekerja. Maksud Bapak? Achmad pernah berkata, benda itu hanya akan menunjukkan jalan ketika waktunya benar-benar tiba."
"Selama bertahun-tahun kita mengira jarumnya rusak." Pak Harun menatap kompas itu dengan takjub.
"Padahal kompas itu sedang menunggu." Surya melanjutkan kalimatnya.
Mereka kembali berjalan. Tak lama kemudian jalan setapak berakhir pada sebuah ceruk batu yang tersembunyi di balik semak pandan laut. Dari luar, ceruk itu tampak seperti retakan alami pada tebing. Namun setelah masuk beberapa langkah, Nadira melihat sesuatu yang membuatnya berhenti. Di dinding batu terdapat pahatan berbentuk pohon. Batangnya menjulang tinggi. Akarnya menyebar ke segala arah. Pada setiap cabangnya terukir nama. Puluhan. Mungkin ratusan. Sebagian masih jelas terbaca. Sebagian lain telah aus dimakan waktu. Nadira mendekat. Jemarinya menyentuh salah satu ukiran yang mulai pudar.
"Ini. Achmad menyebutnya Pohon Kehidupan." lelaki tua itu mengangguk pelan.
"Kenapa?" tanya Nadira.
"Karena ia menolak membiarkan anak-anak itu hilang tanpa nama. Setiap kali ia menemukan identitas seorang korban ia mengukir namanya di sini. Bukan di batu nisan. Bukan di makam. Karena sebagian besar dari mereka bahkan tidak pernah memiliki makam." suara lelaki tua itu mulai bergetar.
Keheningan memenuhi ceruk itu. Tak ada yang sanggup berkata-kata. Nadira memandangi nama demi nama yang memenuhi dinding. Ada nama yang hanya berusia lima tahun. Ada yang tujuh. Ada yang sembilan. Beberapa ukiran bahkan hanya bertuliskan,
"Belum diketahui."
Dadanya terasa sesak. Selama ini angka-angka di dalam arsip hanyalah data. Namun di hadapan dinding batu itu semuanya berubah menjadi manusia. Menjadi anak-anak yang pernah tertawa. Pernah memiliki keluarga. Pernah bermimpi tumbuh dewasa. Tanpa disadari, air mata mengalir di pipi Nadira. Lelaki tua itu menatapnya penuh iba.
"Ayahmu selalu datang ke sini setiap kali merasa putus asa."
"Untuk apa?" Nadira mengangkat wajah.
"Ia membaca semua nama itu." jawabnya lirih.
"Kenapa?" tanyanya kembali.
"Supaya ia tidak lupa alasan mengapa ia harus terus berjuang."
Pak Harun menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, bahunya tampak bergetar.
"Aku pernah memarahinya. Percuma saja. Aku bilang semua ini akan berakhir sia-sia. Aku juga bilang tidak mungkin kita melawan organisasi sebesar itu." katanya lirih.
"Tapi Achmad hanya menjawab dengan satu kalimat. Kalau kita menyerah, lalu siapa lagi yang akan mengingat nama-nama mereka?'' Pak Harun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Surya memandang sahabat lamanya itu. Pak Harun menarik napas panjang sebelum melanjutkan. Tak seorang pun berbicara. Hanya suara ombak yang terdengar dari kejauhan. Lelaki tua itu kemudian melangkah ke ujung ceruk. Ia menyentuh sebuah batu datar yang tampak biasa. Lalu menekannya perlahan.
Klik… Suara mekanisme tua menggema dari balik dinding. Perlahan, sebagian batu bergeser ke samping. Udara dingin mengembus dari celah yang terbuka. Di baliknya tampak sebuah lorong spiral sempit yang mengarah ke atas. Bukan ke bawah. Tangga batu itu melingkar mengikuti bagian dalam mercusuar. Di dindingnya tergantung lentera-lentera tua yang telah lama padam. Lelaki tua itu mengambil satu lentera, menyalakannya dengan korek batu yang ia bawa, lalu menyerahkannya kepada Nadira.
"Cahaya ini dulu selalu dibawa ayahmu setiap kali ia naik ke atas." katanya pelan.
Nadira menerima lentera itu dengan kedua tangan. Nyala apinya kecil. Namun cukup menerangi anak tangga pertama. Ia mendongak. Tangga itu terus berputar ke atas hingga menghilang dalam gelap. Entah berapa ratus anak tangga yang harus mereka lalui. Entah apa yang menunggu di puncaknya.
Namun dari arah atas samar-samar terdengar suara benturan pintu. Disusul langkah kaki. Orang-orang berpakaian hitam rupanya telah lebih dahulu memasuki mercusuar. Lelaki tua itu memandang Nadira dengan sorot mata yang tenang.
"Mulai dari anak tangga ini tidak ada lagi jalan untuk kembali."
Nadira mengangguk. Ia menggenggam lentera di tangan kanan. Kompas kuningan di tangan kiri. Lalu melangkahkan kaki ke anak tangga pertama. Di belakangnya, Pak Harun, Surya, dan lelaki tua itu mengikuti dalam diam. Sementara jauh di atas sana di balik ruang lentera mercusuar terdengar bunyi sebuah mesin tua yang perlahan mulai hidup. Seolah seseorang baru saja menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ditemukan.
Tangga batu itu terus melingkar ke atas. Semakin tinggi mereka mendaki, udara semakin dingin. Dinding-dinding tua mercusuar dipenuhi lumut yang tumbuh di sela-sela batu. Di beberapa bagian, tetesan air merembes perlahan, jatuh ke anak tangga dengan bunyi yang teratur.
Tik… Tik… Tik...
Suara itu berpadu dengan napas mereka yang mulai memburu. Tak ada seorang pun berbicara. Yang terdengar hanya langkah kaki yang bergema di ruang sempit itu. Nadira mengangkat lentera sedikit lebih tinggi. Cahaya kekuningan menari di sepanjang dinding. Di sanalah ia melihat sesuatu. Goresan-goresan kecil. Bukan retakan. Bukan bekas lumut. Melainkan tulisan tangan. Sangat kecil. Nyaris tak terlihat. Ia mendekat. Tulisan pertama berbunyi,
"Jangan takut pada gelap. Takutlah ketika tidak lagi ada yang mencari cahaya."
Nadira berhenti. Ia mengenali bentuk tulisan itu. Tulisan Ayahnya. Beberapa anak tangga di atasnya terdapat kalimat lain.
"Kalau kau membaca ini, berarti kau berhasil sampai sejauh ini."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nadira. Ia merasa seolah sedang berjalan berdampingan dengan ayahnya. Meski lelaki itu telah lama tiada. Di setiap belokan tangga, selalu ada satu kalimat. Pendek. Sederhana. Namun penuh makna.
"Rahasia bukan untuk disimpan. Rahasia ada untuk ditemukan oleh orang yang tepat. Jangan membenci laut. Laut hanya menyimpan apa yang dibuang manusia. Kebenaran selalu terlambat. Tetapi ia tidak pernah benar-benar hilang."
"Dia menulis semua ini sendirian." Pak Harun mengusap pelan salah satu tulisan itu. Tangannya bergetar.
"Mungkin setiap kali naik." Surya mengangguk.
"Kadang-kadang semalaman. Aku pernah menunggunya di bawah. Ketika turun kedua tangannya penuh debu batu." lelaki tua yang berjalan paling belakang tersenyum lirih.
Nadira memejamkan mata. Untuk pertama kalinya ia benar-benar membayangkan ayahnya. Seorang diri. Membawa lentera. Memanjat mercusuar pada malam-malam yang sunyi. Mengukir kalimat demi kalimat. Bukan karena tahu akan ada yang membacanya. Tetapi karena ia percaya suatu hari nanti putrinya akan sampai di tempat itu.
Mereka kembali melangkah. Belum sampai sepuluh anak tangga kemudian Nadira mendadak berhenti.
"Pak Harun. Itu lubang pengunci." katanya.
Ia mengangkat lentera ke arah dinding sebelah kanan. Di sana terlihat sebuah lubang kecil berbentuk lingkaran. Diameternya hanya sebesar kepalan tangan. Persis seperti ukuran kompas kuningan. Surya langsung membelalak. Nadira perlahan memasukkan kompas ke dalamnya. Begitu logam kuningan itu menyentuh bagian terdalam terdengar suara mekanisme tua bekerja.
Klik... klik... klik...
Getarannya menjalar ke seluruh mercusuar. Debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit. Di atas sana terdengar suara orang-orang berpakaian hitam berhenti berjalan. Mereka juga merasakan getaran yang sama.
"Lantai bergerak! Periksa!" teriak seseorang dari puncak mercusuar.
Suara langkah kaki langsung terdengar berlarian. Namun semuanya sudah terlambat.
Di hadapan Nadira sebagian dinding batu perlahan bergeser ke samping. Bukan membuka sebuah ruangan. Melainkan sebuah balkon sempit yang menghadap langsung ke laut.
Angin malam menerpa wajah mereka. Dari tempat itu, seluruh Pantai Kenanga tampak terbentang di bawah cahaya bulan. Gudang tua. Dermaga. Kapal. Orang-orang berpakaian hitam. Semuanya terlihat jelas dari ketinggian.
Namun perhatian Nadira tertuju pada sesuatu yang lain. Di sudut balkon berdiri sebuah teropong laut kuno. Masih mengarah ke cakrawala. Seolah baru saja ditinggalkan pemiliknya. Di sampingnya terdapat sebuah buku kulit yang telah memudar warnanya. Terikat dengan tali. Masih utuh. Belum tersentuh siapa pun. Nadira meraihnya perlahan. Di sampul depannya hanya tertulis dua kata.
CATATAN PENJAGA
Bukan. "Laporan Terakhir." Bukan pula. "Arsip." Pak Harun menatap buku itu dengan napas tertahan.
"Ini berbeda..." katanya pelan.
"Sangat berbeda." Surya mengangguk pelan.
Lelaki tua itu memandang langit beberapa saat sebelum berkata lirih,
"Achmad pernah berpesan. 'Kalau suatu hari Nadira menemukan buku itu katakan kepadanya bahwa isi buku tersebut bukan tentang musuh.'
"Lalu tentang apa?" Nadira mengangkat wajah.
"Tentang dirinya." lelaki tua itu tersenyum sendu.
Keheningan menyelimuti balkon mercusuar. Nadira menatap buku tua di tangannya. Jantungnya berdegup semakin cepat. Selama ini ia mencari jawaban tentang organisasi. Tentang ayahnya. Tentang Ardiyan. Tentang anak-anak yang hilang. Namun ternyata di puncak mercusuar ini. Achmad meninggalkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga. Sebuah buku yang sejak awal memang ditulis khusus untuk putrinya.
Nadira memandangi buku kulit tua itu cukup lama. Sampulnya telah memudar dimakan usia. Sudut-sudutnya mulai terkelupas. Di beberapa bagian tampak bekas air yang mengering, meninggalkan noda kecokelatan pada permukaannya. Ia mengusapnya perlahan. Debu tipis beterbangan, terbawa angin laut yang berembus dari balkon mercusuar. Tak ada gembok. Tak ada pengunci. Seolah Achmad memang berharap suatu hari nanti buku itu akan dibuka oleh tangan yang tepat.
Dengan hati-hati Nadira melepaskan tali pengikatnya. Lembaran pertama terbuka. Bukan laporan. Bukan peta. Bukan daftar nama. Melainkan selembar kertas yang hanya berisi satu kalimat.
"Untuk Nadira, yang mungkin akan membaca ini ketika aku tak lagi mampu menjelaskan semuanya." Nadira menutup mulutnya.
Dadanya terasa sesak. Tulisan tangan itu begitu dikenalnya. Sederhana. Rapi. Sedikit miring ke kanan. Persis seperti tulisan yang dahulu sering ia lihat ketika ayahnya meninggalkan pesan kecil di meja belajar. Perlahan ia membalik halaman berikutnya. Di sana tertulis sebuah tanggal.
12 Agustus 2003. Tahun ketika Nadira masih duduk di bangku sekolah dasar. Di bawah tanggal itu Achmad menulis,
"Hari ini kau pulang sambil menangis karena nilai matematikamu jelek."
Tanpa sadar Nadira tersenyum di balik air matanya. Ia bahkan hampir lupa kejadian itu.
"Kau berkata ingin berhenti sekolah karena merasa bodoh. Aku tidak pandai menghibur anak kecil."
"Jadi aku hanya berkata bahwa orang yang mau terus belajar akan selalu menemukan jalannya sendiri. Maaf kalau saat itu terdengar seperti nasihat yang membosankan. Sebenarnya aku hanya takut suatu hari nanti kau berhenti percaya kepada dirimu sendiri."
Air mata Nadira jatuh mengenai halaman buku. Setetes. Lalu setetes lagi. Pak Harun memalingkan wajahnya. Surya menundukkan kepala. Tak seorang pun ingin mengganggu momen itu. Nadira kembali membalik halaman. Kali ini tanggalnya berbeda.
3 Mei 2008.
"Hari ini kau marah kepadaku karena aku lupa menghadiri pentas senimu. Kau berkata aku lebih mencintai pekerjaanku daripada keluargaku."
Tulisan itu berhenti cukup lama. Lalu berlanjut dengan tinta yang tampak lebih pudar.
"Mungkin kau benar. Atau mungkin aku gagal menunjukkan alasan mengapa aku terus melakukan semua ini. Setiap anak yang berhasil kuselamatkan selalu mengingatkanku kepadamu. Karena setiap kali melihat mereka memanggil ibunya..."
"aku selalu berharap tidak akan ada seorang pun yang mengambilmu dariku."