Jejak Yang Dihapus

linda ulfianah
Chapter #11

Jalan Pulang

"Malam selalu dipercaya mampu menyembunyikan banyak rahasia. Namun sesungguhnya, malam tidak pernah menyembunyikan apa pun. Ia hanya memberi keberanian kepada mereka yang memilih mencari kebenaran ketika seluruh dunia memejamkan mata."

Malam menggantung tenang di langit Pantai Kenanga. Bulan sabit memantulkan cahaya keperakan di atas permukaan laut yang nyaris tak berombak. Dari kejauhan, debur ombak terdengar lembut memecah kesunyian, seakan tak pernah mengetahui bahwa di balik tebing-tebing karang yang kokoh, sebuah perlombaan melawan waktu sedang berlangsung. Angin laut berembus perlahan. Membawa aroma garam, lumut, dan batu-batu karang yang telah berabad-abad diterpa ombak. 

Di tempat lain, malam mungkin hanya menjadi penanda berakhirnya hari. Namun di teluk yang tersembunyi itu malam justru menjadi awal dari sebuah pertaruhan. Di balik bayangan tebing, Pak Harun dan Surya masih menunggu di atas perahu kayu yang bergoyang pelan mengikuti riak air. Tak satu pun dari mereka berbicara. Mereka sama-sama menatap ke arah kapal besi yang berdiri angkuh di tengah teluk, sementara lampu-lampunya memantul panjang di permukaan laut yang gelap.

Pak Harun memandang ke arah mulut saluran air tempat Nadira menghilang beberapa menit lalu.

"Anaknya ternyata mewarisi hal yang sama." ucapnya bangga penuh haru.

"Nadira tidak sedang berusaha menjadi seperti ayahnya." Surya mengikuti arah pandangnya. Ia berhenti sejenak.

"Lambat laun ia sedang menjadi dirinya sendiri."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Di atas langit, awan perlahan bergeser, memberi jalan bagi cahaya bulan yang semakin terang. Pantulannya menari di permukaan teluk, seolah ribuan bintang turun dan beristirahat di atas air.

Tak jauh dari sana, kapal besi itu tetap berdiri tanpa mengetahui bahwa seseorang telah menyelinap ke jantung pertahanannya. Dan di balik sunyi yang menenangkan malam jarum waktu terus bergerak. Semakin lambat terasa.

Namun sesungguhnya semakin dekat membawa mereka pada kebenaran yang selama puluhan tahun terkubur bersama rahasia Pantai Kenanga. Air di dalam saluran itu semakin dingin. Nadira bergerak perlahan, merangkak mengikuti lorong batu yang semakin menyempit. Setiap gerakan harus diperhitungkan. Sedikit saja suara tercipta, penjaga di atas bisa langsung menyadari keberadaannya. Di atas kepalanya terdengar langkah-langkah sepatu bot. Disusul bunyi logam bergesekan.

"Laporan terakhir?"

"Semua peti sudah masuk."

"Anak-anak?"

"Empat puluh tiga."

Nadira membeku. Empat puluh tiga. Selama beberapa detik angka itu terus terngiang di kepalanya. Empat puluh tiga anak. Empat puluh tiga keluarga yang mungkin saat ini sedang mencari dengan putus asa. Ia menarik napas panjang. Bukan sekarang waktunya larut dalam emosi. Ia harus terus bergerak.

Beberapa meter di depannya, lorong berakhir pada kisi-kisi besi tua. Melalui celah-celahnya, Nadira dapat melihat bagian bawah sebuah ruangan. Itulah ruang kendali. Ruangan itu tidak terlalu besar, tetapi dipenuhi panel-panel listrik, tuas baja, radio komunikasi, monitor pengawas, dan sebuah meja panjang yang dipenuhi peta jalur pelayaran. Tiga orang berjaga di dalamnya. Dua di antaranya sibuk berbicara melalui radio. Seorang lagi berdiri menghadap jendela, memperhatikan proses pemindahan muatan ke kapal. Nadira mengamati ruangan itu dengan saksama. Seperti yang selalu diajarkan Achmad.

"Jangan melihat siapa yang ada di ruangan. Lihat apa yang tidak diperhatikan oleh mereka."

Matanya menyapu setiap sudut. Lalu ia menemukannya. Di bawah meja panel terdapat sebuah kotak besi kecil. Warnanya hampir sama dengan dinding sehingga mudah terlewatkan. Di bagian tutupnya terukir simbol yang membuat jantung Nadira berdetak lebih cepat. Seekor burung walet. Lambang rahasia Achmad.

"Ya Allah..." bisiknya.

Kotak itu sudah ada jauh sebelum organisasi mengambil alih teluk ini. Achmad rupanya pernah berhasil menyusup ke ruang kendali. Bahkan sempat meninggalkan sesuatu. Namun bagaimana cara mencapainya? Jarak antara kisi-kisi dan lantai ruangan hampir dua meter. Jika ia membuka kisi sekarang, suara logam pasti terdengar. Saat itulah radio di atas meja mendadak berbunyi.

"Kapal utama siap berangkat."

"Ulangi."

"Kapal utama siap berangkat."

Salah seorang penjaga segera berjalan menuju panel utama.  Tangannya meraih sebuah tuas merah besar.

"Hitung mundur pelepasan tambat."

"Lima menit."

Nadira mengepalkan tangan. Lima menit. Itu saja waktu yang tersisa. Ia kembali memperhatikan kisi besi di depannya. Lalu melihat baut-baut yang menahannya. Empat baut. Salah satunya sudah berkarat hampir putus. Achmad pasti mengetahui hal itu. Perlahan Nadira mengeluarkan pisau lipat kecil yang diberikan Pak Hasan sebelum mereka berpisah. Bukan pisau untuk bertarung. Melainkan pisau kerja seorang nelayan. Ia menyelipkan ujung pisaunya ke sela baut yang rapuh. Pelan. Sangat pelan. Sedikit demi sedikit baut itu mulai bergerak. Keringat dingin membasahi pelipisnya.  Di atas, para penjaga masih sibuk. Tak seorang pun menyadari keberadaannya.

Krek… Satu baut lepas. Masih tersisa tiga. Namun kini kisi itu sudah sedikit longgar.

Nadira menahan napas. Ia menggesernya beberapa sentimeter. Cukup untuk menyelinapkan tubuhnya. Perlahan ia turun. Kedua kakinya menyentuh lantai tanpa suara. Kini ia berada tepat di bawah panel-panel besar. Hanya beberapa meter dari para penjaga. Ia merangkak di balik bayangan meja. Jantungnya berdegup semakin cepat.

Satu langkah lagi ia akan mencapai kotak besi berlambang burung walet. Tiba-tiba penjaga yang berdiri di dekat jendela berbalik. Nadira langsung mematung. Sepasang sepatu bot itu berhenti hanya beberapa puluh sentimeter dari tempat persembunyiannya.

"Eh. Kenapa lantainya basah?" penjaga itu bergumam.

Nadira menahan napas. Tetesan air dari pakaiannya rupanya membentuk jejak kecil di lantai logam. Penjaga itu berjongkok. Tangannya perlahan menyentuh air tersebut. Lalu ia mengangkat kepalanya.

"Kalian lihat ini?"

Dua penjaga lain menoleh. Mereka mulai berjalan mendekat. Nadira melirik kotak besi. Tinggal satu meter lagi. Namun tiga pasang kaki kini semakin dekat. Tak ada lagi ruang untuk mundur. Tak ada pula waktu untuk berpikir lama. Saat itulah matanya menangkap sesuatu di bawah meja. Sebuah pipa kecil dengan katup kuningan tua. Persis seperti gambar nomor empat pada peta Achmad. Di samping katup itu, hampir tertutup debu, terdapat ukiran yang sangat kecil.

"Kalau mereka menemukanmu. Jangan sembunyi. Buat mereka melihat ke arah yang salah."

Nadira perlahan mengulurkan tangan menuju katup kuningan itu. Ia belum tahu apa yang akan terjadi. Namun selama ini setiap kali ia mempercayai petunjuk ayahnya selalu ada jalan keluar. Dengan sangat hati-hati ia mulai memutar katup tersebut. Setengah putaran. Lalu satu putaran penuh. Sesaat tak terjadi apa-apa. Kemudian dari seluruh penjuru teluk terdengar bunyi sirene pendek.

Wiuuut!

Lampu-lampu di ruang kendali berkedip. Panel listrik mengeluarkan percikan kecil. Semua penjaga spontan menoleh ke arah monitor.

"Kenapa listrik turun?"

"Apa genset cadangan aktif?"

"Periksa sekarang!"

Dalam hitungan detik, ketiga penjaga berlari meninggalkan sisi ruangan. Persis seperti yang diinginkan Achmad puluhan tahun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya jalan menuju kotak besi berlambang burung walet itu terbuka tanpa seorang pun menghalangi.

Kini, para penjaga berlarian menuju ruang genset. Suara langkah mereka semakin menjauh. Ruangan itu akhirnya sunyi. Untuk pertama kalinya sejak Nadira memasuki ruang kendali tak ada seorang pun yang berdiri di antara dirinya dan kotak besi berlambang burung walet. Ia menarik napas perlahan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Setiap pijakan dibuat seringan mungkin. Lantai logam yang dingin memantulkan bayangannya sendiri. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia merasa seluruh ruangan dapat mendengarnya. Di bawah meja panel kotak besi itu kini berada tepat di hadapannya.

Warnanya kusam. Sudut-sudutnya mulai dipenuhi karat. Namun ukiran burung walet di permukaannya masih tampak jelas. Seolah baru dipahat kemarin. Nadira berlutut. Perlahan ia mengusap debu yang menempel. Di bawah lambang burung walet itu terdapat sebuah kalimat yang sangat kecil.

"Kalau kau menemukan ini berarti aku sudah terlalu jauh untuk pulang."

Napas Nadira tercekat. Tangannya berhenti bergerak. Ia menundukkan kepala. Sesaat, ruang kendali yang dingin itu terasa begitu sunyi. Seakan hanya ada dirinya dan suara ayahnya yang hidup kembali melalui setiap goresan tinta. Air mata hangat jatuh mengenai tutup kotak. Nadira segera mengusapnya.

"Ayah. Aku sudah sampai." bisiknya lirih.

Ia teringat malam terakhir sebelum Achmad menghilang. Ayahnya pernah berkata sambil mengusap kepala Alya yang masih kecil,

"Kalau suatu hari Ayah harus pergi jangan pernah mencari Ayah karena rindu. Carilah alasan mengapa Ayah pergi."

Dulu Nadira tidak pernah memahami maksud kalimat itu. Kini di ruangan sunyi yang dipenuhi suara mesin dan bau logam ia akhirnya mengerti. Achmad tidak ingin dikenang sebagai korban. Ia ingin perjuangannya diteruskan. Nadira mengusap pelan ukiran burung walet itu. Lalu matanya menangkap sesuatu. Lubang kunci. Sangat kecil. Bentuknya tidak bulat. Melainkan menyerupai mercusuar. Nadira terdiam. Bentuk itu persis sama dengan kunci kuningan yang diberikan Pak Hasan sebelum mereka berpisah.

Tangannya segera merogoh saku jaket. Kunci itu masih ada. Masih terasa hangat karena terus ia genggam sepanjang perjalanan. Dengan hati-hati ia memasukkannya ke dalam lubang. Pas. Seolah memang dibuat untuk saling melengkapi. Ia memutar perlahan.

Klik.

Tak ada suara keras. Hanya bunyi halus seperti jam tua yang mulai kembali berdetak. Tutup kotak terbuka sedikit. Di dalamnya tidak ada emas. Tidak ada uang. Tidak ada senjata. Hanya tiga benda. Sebuah amplop cokelat yang telah menguning. Sebuah kaset pita kecil. Dan sebuah kunci logam berwarna hitam. Nadira membuka amplop lebih dahulu. Di dalamnya terdapat selembar surat. Tulisan tangan Achmad memenuhi seluruh halaman. Namun sebelum sempat membaca isinya ia melihat kalimat paling atas. Kalimat itu membuat matanya kembali berkaca-kaca.

"Untuk Nadira. Maaf karena Ayah tidak bisa menemanimu sampai akhir."

Tangan Nadira gemetar. Ia ingin membaca semuanya. Sangat ingin. Namun suara langkah kaki mendadak terdengar dari luar ruangan. Para penjaga mulai kembali. Waktunya tidak cukup. Dengan cepat ia memasukkan surat, kaset, dan kunci hitam ke dalam tas kecil di balik jaketnya.

Saat hendak menutup kotak ia menyadari ada satu benda lagi yang tertinggal di dasar kotak. Sebuah foto kecil. Foto yang mulai pudar dimakan usia. Foto itu memperlihatkan tiga orang lelaki muda berdiri di Pantai Kenanga. Achmad. Pak Harun. Surya. Namun kali ini di sudut kanan foto tampak seseorang yang sebelumnya selalu terpotong. Seorang lelaki muda lain berdiri sedikit menjauh dari mereka. Wajahnya setengah tertutup bayangan. Tetapi senyumnya terlihat jelas. Di balik foto itu hanya tertulis satu kalimat.

"Kami berempat pernah berjanji menjaga anak-anak Pantai Kenanga."

Nadira membeku. Berempat? Selama in ia selalu percaya hanya ada tiga sahabat. Achmad. Pak Harun. Dan Surya. Kalau begitu siapakah lelaki keempat itu? Apakah Pak Hasan?

Belum sempat pikirannya menemukan jawaban suara radio kembali terdengar nyaring.

"Ruang kendali, laporkan kondisi!"

"Listrik sudah stabil?"

"Kapal utama siap lepas tambat dalam tiga menit!"

Nadira menutup kotak itu perlahan. Matanya menatap sekali lagi lambang burung walet di atasnya. Lalu ia berbisik pelan,

"Ayah. Aku janji. Aku akan menyelesaikan apa yang Ayah mulai."

Ia bangkit. Menghapus sisa air mata di pipinya. Kini ia bukan lagi seorang anak yang sedang mencari ayahnya. Ia adalah penjaga berikutnya. Dan malam itu perjuangan Achmad akhirnya memiliki penerus.

Nadira menarik napas panjang. Di atas meja itu terbentang sebuah peta laut. Bukan peta biasa. Di beberapa titik terdapat garis merah yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan kecil di pesisir. Pantai Kenanga. Batam. Pontianak. Tarakan. Hingga sebuah titik di luar perairan Indonesia yang hanya diberi kode. S-17.

Di samping peta itu terdapat buku manifest terbaru. Masih terbuka. Tinta pada halaman terakhir bahkan belum benar-benar kering. Nadira menelan ludah. Ia meraih ponsel kecil yang selama ini disimpan dalam saku terdalam jaketnya. Baterainya tinggal dua puluh persen. Sinyal tidak ada. Namun kamera masih berfungsi. Dengan tangan gemetar ia memotret setiap halaman. Manifest. Peta. Daftar kode. Nomor kontainer. Stempel perusahaan. Semuanya.

Klik. Klik. Klik.

Setiap bunyi rana terdengar begitu keras di telinganya, meski sebenarnya nyaris tak bersuara. Ia tahu bukti ini bisa menjadi pukulan yang jauh lebih mematikan daripada senjata apa pun. Tepat ketika halaman terakhir selesai dipotret suara gagang pintu berputar.

Ceklek… Nadira seketika mematikan layar ponsel. Ia menjatuhkan tubuhnya ke balik panel utama. Pintu terbuka. Tiga penjaga yang tadi keluar kembali masuk dengan napas memburu.

"Listrik stabil."

"Genset cadangan tidak bermasalah."

"Berarti tadi hanya gangguan sesaat."

"Tunggu..." Salah seorang di antara mereka mengernyit.

"Siapa yang menggeser peta?" ia memandang ke arah meja.

Darah Nadira terasa berhenti mengalir. Ia memang mengembalikan peta tadi. Namun rupanya posisinya bergeser beberapa sentimeter. Penjaga itu melangkah mendekat. Tangannya perlahan merapikan sudut peta. Lalu matanya menangkap sesuatu. Setetes air. Masih segar. Belum sempat mengering. Ia menunduk. Jejak tetesan itu mengarah lurus ke bawah meja panel.

"Diam."

Dua penjaga lain ikut menoleh. Mereka saling berpandangan. Yang paling tua perlahan mencabut pistol dari pinggangnya.

"Tetap periksa."

Sepatu bot mereka mulai bergerak. Satu langkah. Dua langkah. Semakin dekat. Nadira menggenggam peluit kayu pemberian Pak Hasan. Jari-jarinya menegang. Ia teringat pesan lelaki tua itu.

"Kalau keadaan benar-benar genting. Tiup peluit ini."

Namun Achmad selalu mengajarkan satu hal.

"Gunakan jalan terakhir hanya ketika semua jalan lain benar-benar telah tertutup."

Nadira menahan diri. Matanya bergerak cepat mencari kemungkinan. Lalu ia melihat panel radio yang masih menyala. Di bawah meja terdapat kabel komunikasi yang belum dipasang rapi. Ia mengambil napas perlahan. Ketika langkah penjaga tinggal beberapa meter lagi. Nadira meraih salah satu kabel itu. Lalu ia menariknya sekuat tenaga.

Bzzzt! Radio di seluruh ruang kendali mendadak dipenuhi suara dengungan keras. Monitor berkedip. Lampu indikator berubah merah. Suara operator dari dermaga terdengar panik.

"Ruang kendali!"

"Apa yang terjadi?"

"Kami kehilangan sambungan kamera di sektor barat!"

"Ulangi!"

"Kamera sektor barat mati!"

Ketiga penjaga spontan berhenti.

"Mustahil."

"Sistemnya baru saja normal."

"Periksa kamera sekarang!"

Tanpa berpikir panjang mereka berlari keluar ruangan untuk memastikan laporan itu. Pintu kembali terbuka lebar. Lalu menutup. Sunyi. Nadira mengembuskan napas lega. Namun senyum kecil itu hanya bertahan sesaat. Karena dari balik jendela ruang kendali ia melihat sesuatu yang membuat wajahnya berubah pucat.

Di dermaga anak-anak mulai dibariskan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama langsung diarahkan menuju lambung kapal. Kelompok kedua digiring ke sebuah bangunan beton di sisi timur teluk.

Di antara barisan itu seorang anak laki-laki kecil tiba-tiba berhenti berjalan. Boneka kain yang dipeluknya terjatuh ke tanah. Ia membungkuk hendak mengambilnya. Seorang penjaga justru menarik lengannya dengan kasar. Anak itu terjatuh. Boneka kecilnya terguling hingga ke tepi dermaga. Tak ada yang mengambilkannya. Anak itu hanya menoleh dengan mata yang dipenuhi ketakutan.

Pemandangan itu membuat Nadira teringat pada Rafi. Ia seolah melihat putranya sendiri berdiri di sana. Takut. Kebingungan. Mencari seseorang yang datang menyelamatkannya. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Namun kali ini ia tidak membiarkannya jatuh. Ia mengusapnya cepat. 

Nadira mengalihkan pandangannya dari bangunan beton. Bukan sekarang. Ia sadar, setiap detik yang terbuang berarti semakin dekat kapal itu meninggalkan teluk bersama puluhan anak yang tak bersalah. Ia kembali mengeluarkan surat Achmad. Kali ini ia membaca bagian yang belum sempat disentuh. Tulisan tangan ayahnya tetap rapi meski tinta di beberapa bagian mulai memudar dimakan usia.

"Kalau suatu hari kau berhasil sampai di ruang kendali..."

"Jangan buru-buru mencari orang yang paling jahat."

"Selamatkan dulu mereka yang paling lemah."

"Pelaku selalu bisa diadili."

"Tetapi masa kecil seorang anak tidak akan pernah bisa dikembalikan."

Nadira menutup matanya. Dadanya terasa sesak. Untuk sesaat ia hampir lupa tujuan sebenarnya datang ke tempat itu. Bukan membalas dendam. Bukan mencari siapa yang membunuh ayahnya. Melainkan membawa anak-anak itu pulang. Ia melipat kembali surat tersebut. Tatapannya kini beralih pada panel utama ruang kendali. Deretan tombol, tuas, dan monitor memenuhi dinding. Di salah satu layar tampak denah seluruh teluk. Lampu-lampu kecil berkedip menandai posisi gudang, menara sinyal, ruang mesin, dan kapal utama. Lalu di sudut kanan monitor terdapat satu tombol yang diberi tulisan:

PENGUNCI DERMAGA

Nadira mengingat kembali peta peninggalan Achmad. Empat Titik Cahaya. Gudang bahan bakar. Genset. Menara sinyal. Ruang kendali. Semua ternyata bermuara pada satu sistem. Perlahan ia menarik tuas pengunci. Mula-mula tak terjadi apa-apa. Kemudian terdengar suara logam raksasa bergemuruh dari luar.

Grrrraaaang… Melalui jendela ruang kendali, Nadira melihat dua tiang baja besar muncul dari dasar laut. Tiang-tiang itu bergerak perlahan hingga mengunci mulut dermaga. Kapal besi yang telah menyalakan mesin mendadak berhenti. Baling-balingnya masih berputar. Namun badan kapal tak mampu bergerak maju. Para awak kapal mulai berteriak panik.

"Apa yang terjadi?"

"Siapa mengaktifkan pengunci?"

"Ruang kendali!"

"Buka penguncinya sekarang!"

Suara radio saling bersahutan. Seluruh teluk berubah kacau. Saat itulah Nadira meniup peluit kayu pemberian Pak Hasan.

Fiiiiiiit… Suaranya nyaring. Namun berbeda dengan peluit biasa. Nadanya panjang. Melengking. Menggema di antara tebing-tebing teluk. Beberapa detik kemudian dari balik hutan bakau di sisi utara muncul bayangan-bayangan kecil.

Satu. Dua. Lima. Sepuluh. Mereka adalah nelayan-nelayan tua Pantai Kenanga. Masing-masing membawa perahu kayu sederhana. Pak Harun menatap mereka dengan mata membelalak.

"Itu mereka." Surya tersenyum haru.

"Siapa mereka?" tanya Pak Harun.

"Orang-orang yang dulu membantu Achmad. Mereka tidak pernah berhenti menunggu."

Perahu-perahu kecil itu meluncur cepat menuju dermaga. Tak membawa senjata api. Hanya membawa tali tambang, senter, pengait besi, dan keberanian yang selama puluhan tahun mereka simpan. Di saat yang sama lampu utama teluk kembali berkedip.

Lalu padam. Gelap. Seluruh kawasan tenggelam dalam kegelapan malam. Jeritan para penjaga terdengar dari berbagai arah.

"Senter!"

"Nyalakan generator cadangan!"

"Jangan biarkan anak-anak keluar!"

Namun keadaan sudah berubah. Dalam gelap anak-anak mulai saling berpegangan tangan. Beberapa penjaga kehilangan arah. Pintu-pintu otomatis berhenti bekerja. Radio komunikasi mati satu per satu. Di balik kekacauan itu Pak Harun dan Surya berhasil mencapai dermaga. Mereka memotong tali pengikat kapal-kapal kecil. Membuka jalan bagi anak-anak untuk turun.

"Jangan takut! Kalian pulang!" teriak Pak Harun.

Beberapa anak masih ragu. Namun seorang anak perempuan melangkah lebih dulu. Disusul anak laki-laki di belakangnya. Lalu yang lain. Dalam hitungan menit barisan ketakutan itu berubah menjadi barisan harapan.

Anak-anak berlari menuju perahu-perahu nelayan yang telah menunggu. Sementara di ruang kendali alarm darurat mendadak berbunyi. Lampu merah kecil menyala di seluruh monitor. Sebuah suara otomatis terdengar dari pengeras suara.

"Perhatian."

"Direktur Operasi memasuki kawasan utama."

"Seluruh personel menuju Aula Kendali."

Nadira menatap layar monitor.

Untuk pertama kalinya ia melihat wajah seseorang yang selama ini hanya menjadi bayangan di balik semua kejahatan. Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun. Berambut memutih. Mengenakan jas hitam yang rapi. Tatapannya tenang. Hampir tanpa emosi. Ia berjalan perlahan memasuki aula utama, sementara seluruh penjaga yang dilewatinya menundukkan kepala dengan hormat.

Nadira mengepalkan tangan. Bertahun-tahun Achmad mempertaruhkan hidupnya untuk menemukan orang ini. Dan malam itu untuk pertama kalinya mereka akhirnya saling berhadapan. Tatapan mereka bertemu. Sunyi. Tak ada sepatah kata pun. Hanya suara ombak yang sesekali menghantam dinding batu di balik bangunan.

"Akhirnya kita bertemu lagi." pria itu tersenyum tipis.

Nadira tidak menjawab. Tangannya tetap menggenggam kompas kuningan di dalam saku jaket. Pria itu memperhatikan wajah Nadira beberapa saat. Lalu mengembuskan napas pelan.

"Wajahmu sangat mirip ibumu."

"Kau mengenal ibuku?" kalimat itu membuat Nadira membeku.

"Bukan hanya mengenalnya. Aku mengenal kedua orang tuamu." Pria itu memandang keluar jendela.

 

"Di mana Ardiyan?" Nadira mengepalkan tangan.

Pertanyaan itu keluar tanpa ragu. Pria itu kembali menatapnya.

"Suamimu masih hidup."

"Kalau begitu, di mana dia?" Nadira menahan napas.

"Tidak jauh. Tetapi sebelum itu bukankah kau pasti ingin tahu mengapa ayahmu harus mati."

Pria tersebut menarik sebuah kursi dan duduk dengan tenang, seolah mereka sedang berbincang di ruang tamu, bukan di tengah kekacauan.

"Jangan pernah mengatakan Ayahku pantas mati." mata Nadira memerah.

"Aku tidak mengatakan itu." pria itu menggeleng pelan.

"Achmad adalah orang paling jujur yang pernah kukenal. Justru karena itulah ia menjadi orang yang paling berbahaya."

Ruangan kembali hening. Pria itu mengeluarkan sebuah map hitam dari dalam laci meja. Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.

"Achmad pernah datang ke ruangan ini. Sendirian. Tanpa membawa senjata."

Nadira teringat kotak besi berlambang burung walet. Berarti benar Ayah pernah berhasil mencapai tempat ini.

"Aku memberinya dua pilihan. Menjadi bagian dari kami atau meninggalkan tempat ini dan melupakan semua yang telah ia lihat." pria itu membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah surat perjanjian yang telah menguning.

"Itu bukan Ayah." Nadira menggeleng.

"Aku tahu. Karena ia merobek surat itu tepat di depan wajahku." pria itu tersenyum pahit. Ia mengeluarkan sobekan-sobekan kertas yang masih disimpan rapi selama bertahun-tahun.

"Katanya kalau aku diam hari ini. Besok akan ada lebih banyak anak yang kehilangan masa depannya. Dan aku tidak mau menjadi bagian dari diam itu." pria itu memejamkan mata sejenak, seolah masih mengingat suara Achmad.

Air mata mulai memenuhi mata Nadira. Itulah Ayah. Tetap memilih jalan yang paling sulit. Meski tahu harga yang harus dibayar adalah nyawanya sendiri. Pria itu kembali berbicara.

"Sejak malam itu aku tahu ia tidak akan pernah berhenti."

"Karena itu kalian membunuhnya?" tanya Nadira berapi-api.

"Tidak." pria tersebut menggeleng.

Jawaban itu membuat Nadira terdiam.

"Kami ingin menangkapnya. Namun seseorang lebih dulu mengambil keputusan."

"Seseorang?" tanya Nadira.

"Orang yang takut seluruh jaringan ini terbongkar."

Pria itu berdiri. Berjalan menuju jendela. Tatapannya mengarah ke kapal yang masih terkunci di dermaga.

"Aku memang memimpin organisasi ini. Dan itu adalah dosa yang harus kupikul. Tetapi aku bukan orang yang menembak Achmad."

"Siapa?" Nadira memandangnya tajam.

"Orang yang selama ini paling dipercaya semua orang." pria itu menoleh perlahan.

Belum sempat Nadira bertanya lebih jauh pintu aula mendadak terbuka dengan keras.

Brak! Seorang penjaga berlari masuk.

"Waktu kita habis!"

"Anak-anak berhasil keluar!"

"Perahu-perahu nelayan membawa mereka ke mulut teluk!"

Pria berambut putih itu menutup mata. Lama. Sangat lama. Lalu untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu ia tersenyum lega.

"Beres..." bisiknya.

"Apa maksudmu?" Nadira mengernyit.

Pria itu memandang Nadira dengan sorot mata yang sama sekali berbeda. Bukan sorot seorang penjahat yang kalah. Melainkan seseorang yang telah lelah memikul beban puluhan tahun.

"Ayahmu pernah berkata kalau suatu hari anak-anak itu berhasil keluar berarti perjuangan kita tidak sia-sia.'"

"Perjuangan... kita?" Nadira mengangkat alisnya.

"Dua belas tahun terakhir. Aku diam-diam mengumpulkan semua bukti yang Achmad minta kusimpan. Ia menunjuk rak besi di belakang meja. Semua transaksi, nama, rekening, pejabat yang menerima uang. Semuanya ada di sana." pria itu mengangguk pelan.

Nadira memandang rak itu dengan tidak percaya. Pria itu menghela napas panjang.

"Aku terlambat memilih jalan yang benar. Tetapi malam ini aku tidak ingin terlambat lagi."

Di luar aula suara baling-baling helikopter mulai terdengar dari kejauhan. Disusul deru kendaraan yang memasuki kawasan teluk. Lampu-lampu biru dan merah memantul di permukaan laut. Pak Harun menghentikan langkahnya. Surya menoleh ke arah langit.

"Polisi..." gumamnya pelan.

Malam yang selama puluhan tahun melindungi kejahatan akhirnya menjadi saksi ketika kebenaran datang tanpa bisa dihentikan lagi.

Di tempat lain, deru helikopter semakin mendekat. Cahaya lampu sorotnya menyapu permukaan laut, memantul di dinding-dinding tebing yang selama puluhan tahun menyembunyikan kejahatan. Suara sirene kendaraan dari kejauhan mulai terdengar bersahut-sahutan. Teluk yang selama ini hidup dalam kesunyian akhirnya dipenuhi kegelisahan. Para penjaga berlarian tanpa arah. Sebagian mencoba mencapai kapal. Sebagian lain berusaha membakar tumpukan dokumen.

Namun semuanya terlambat. Pak Harun dan para nelayan telah lebih dahulu mengamankan anak-anak. Surya bersama beberapa warga menahan para penjaga yang mencoba melarikan diri melalui jalur perahu. Sementara di Aula Kendali pria berambut putih itu tetap berdiri tenang.

"Lantai." ia memandang Nadira.

"Apa?" tanya Nadira.

"Lihat lantainya."

Pria itu menunjuk ke arah ubin batu hitam tepat di depan meja kerjanya. Di tengah ubin itu terdapat ukiran berbentuk mercusuar. Persis seperti simbol pada kunci yang diberikan Pak Hasan.

"Achmad selalu berkata kalau suatu hari putriku datang ia pasti akan menemukan pintu ini.'"

Nadira berlutut. Ia mengeluarkan kunci hitam yang sebelumnya ditemukan di dalam kotak besi. Bentuknya berbeda dari kunci mercusuar. Lebih pendek. Lebih tebal. Di ujungnya terdapat lambang burung walet. Ia memasukkannya ke lubang kecil di tengah ukiran.

Klik… Tak lama kemudian terdengar suara roda-roda besi bergerak dari bawah lantai.

Grrrrrr… Ubin batu perlahan bergeser ke samping. Udara dingin mengembus dari lorong gelap di bawahnya. Tangga beton muncul. Menurun jauh ke dasar bumi. Pria berambut putih itu memejamkan mata.

"Turunlah. Nadira. Suamimu menunggumu di bawah."

Dunia seakan berhenti berputar. Nadira tidak mampu bergerak. Semua suara di sekelilingnya perlahan menghilang. Yang tersisa hanya satu kalimat.

"Suamimu menunggumu di bawah."

"Ardiyan..." bisiknya lirih. Air mata memenuhi matanya.

Tanpa berpikir panjang ia berlari menuruni tangga. Semakin ke bawah lorong semakin lembap. Dinding-dinding beton dipenuhi bekas rembesan air. Lampu darurat yang redup masih berkedip, menciptakan bayangan panjang di sepanjang koridor. Beberapa pintu besi berjajar di kanan dan kiri.

Sebagian terbuka. Sebagian telah kosong. Di ujung lorong terdengar suara batuk pelan.

Nadira menghentikan langkah. Dadanya berdebar tak menentu. Suara itu begitu dikenalnya. Ia mempercepat langkah. Semakin dekat. Semakin jelas.

Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah sel sempit. Di balik jeruji besi seorang lelaki duduk bersandar pada dinding. Tubuhnya kurus. Pakaian yang dikenakannya lusuh dan penuh debu. Namun ketika lelaki itu perlahan mengangkat wajah Nadira tak lagi mampu membendung air matanya.

"Ardiyan..."

Lelaki itu memandangnya beberapa detik. Seolah tak percaya pada apa yang dilihatnya. 

"Nadira..." bibirnya bergetar dan suaranya lemah.

Namun cukup untuk meruntuhkan seluruh ketegaran yang selama ini dipertahankan Nadira. Ia berlari mendekat. Tangannya menggenggam jeruji besi. Air matanya jatuh tanpa mampu dihentikan.

"Aku datang. Aku benar-benar datang..."

Ardiyan tersenyum. Senyum yang selama ini hanya hidup dalam mimpi.

"Aku tahu. Suatu hari kau pasti menemukan jalan ke sini." katanya pelan.

"Aku terlambat." Nadira menggeleng sambil menangis.

Ardiyan mengangkat tangannya yang gemetar. Menyentuh jemari Nadira di sela-sela jeruji sambil berkata,

"Kau tidak pernah terlambat. Kau datang. Itu sudah cukup."

Saat itu juga Pak Harun dan Surya tiba di belakang Nadira. Surya segera memeriksa pintu sel. Masih terkunci. Namun kunci elektroniknya telah mati akibat padamnya listrik. Pak Harun mengambil batang besi yang tergeletak di lorong.

"Menjauh."

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Brak! Gembok tua itu akhirnya patah. Pintu besi terbuka perlahan. Nadira berlari memeluk Ardiyan sekuat tenaga. Tak ada kata-kata. Tak ada pertanyaan. Hanya tangis yang selama ini mereka tahan.

Ardiyan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan ia kembali merasakan hangatnya pelukan rumah. Beberapa langkah dari mereka Pak Harun menundukkan kepala. Diam-diam ia mengusap air mata. Surya menarik napas panjang. Lalu berkata lirih,

Lihat selengkapnya