Jakarta, 2017
Hujan badai di luar jendela apartemennya seolah tidak sanggup meredam kebisingan di kepala Calla. Di layar ponselnya, sebuah unggahan foto pertunangan megah menjadi duri yang terus ia tekan ke dadanya sendiri. Lucas dan Arini. Pria itu tampak begitu asing dengan tatapan matanya yang sedingin es—tatapan yang sama yang selalu Lucas berikan pada Calla di tahun-tahun terakhir hubungan toxic mereka yang hancur.
"Apa yang salah, Cas? Sejak kapan kita jadi monster untuk satu sama lain?" bisik Calla parau.
Dengan tangan gemetar, ia menarik sebuah kotak kardus kusam dari bawah tempat tidur. Kotak itu berisi sisa-sisa "perang" mereka: sebuah kemeja seragam putih milik Calla yang noda susu cokelatnya sudah memudar menjadi kuning, beberapa lembar foto polaroid yang mulai retak, dan selembar daun akasia kering.
Calla memeluk kemeja itu, membenamkan wajahnya di sana. Bau sisa detergen dan memori masa lalu menyerangnya. Ia menangis hingga sesak, hingga matanya terasa berat, dan akhirnya kelelahan membawanya jatuh ke dalam tidur yang gelap.
Wuuush... cit... cit... cit...
Suara bising yang ritmis dan menjengkelkan itu perlahan merayap masuk ke kesadaran Calla. Suara baling-baling besi yang berputar tidak stabil, beradu dengan gesekan kayu di atas lantai semen. Calla mengerutkan dahi. Itu bukan suara AC apartemennya.
Lalu, sebuah aroma menusuk indra penciumannya. Bau debu yang terbakar matahari, sisa pembersih lantai murahan, dan... bau spidol yang menyengat. Aroma kering dan pahit yang sudah bertahun-tahun tidak ia hirup sejak papan tulis berganti menjadi whiteboard elektronik.
"Calla Xander! Kamu berniat tidur sampai bel pulang sekolah?" Suara itu menggelegar, diikuti hantaman penggaris kayu ke meja di depannya.
BRAK!
Calla tersentak bangun. Matanya membelalak. Ia tidak sedang memeluk kotak kardus di lantai apartemennya. Ia sedang telungkup di atas meja kayu penuh coretan pulpen.
Cahaya matahari siang yang terik masuk melalui jendela besar, menyinari debu-debu yang menari di udara. Di depan kelas, Pak Darwin berdiri dengan wajah merah padam, memegang spidol yang baunya menyengat itu.
"Cuci muka kamu! Atau mau saya jemur di lapangan?"