Calla menatap noda cokelat yang meresap di seragam putihnya dengan pandangan kosong. Di tahun 2017, noda ini adalah kenangan manis yang ia simpan dalam kotak, tapi di sini—di detik ini—ini adalah simbol dimulainya rantai toxic yang ingin ia putus.
Tanpa sepatah kata pun, Calla melepas dasi sekolahnya dan menggunakannya untuk menyeka noda itu dengan kasar. Ia tidak marah, ia tidak berteriak. Ia hanya menatap Lucas dengan sorot mata yang begitu datar, seolah Lucas hanyalah benda mati yang menghalangi jalannya.
"Lo pikir ini lucu?" suara Calla rendah, penuh penekanan yang tidak pernah ia miliki saat berusia tujuh belas tahun.
Lucas sedikit tersentak. Seringainya goyah. "Cuma susu, Cal. Nggak usah drama—"
"Minggir," potong Calla. Kali ini, ia mendorong bahu Lucas dengan tenaga yang cukup kuat hingga pria itu mundur satu langkah karena terkejut. Calla berjalan melewati Lucas tanpa menoleh lagi, meninggalkan pemuda itu yang terpaku menatap punggungnya dengan kening berkerut.
Saat Calla kembali ke kelas, suasana sudah sedikit lebih tenang karena Pak Darwin telah keluar. Namun, empat pasang mata langsung menguncinya. Kia, Becca, dan Sarah sudah berkumpul di kelasnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Asha yang langsung memanggil para sahabatnya.
"Gila, Cal! Lo berani banget kabur dari Pak Darwin," seru Asha sambil menarik Calla duduk. Matanya kemudian turun ke kerah seragam Calla. "Loh? Itu noda apa? Lo habis jajan atau... lo ketemu Lucas lagi?"
Becca mendengus sambil memutar bola mata. "Pasti Lucas. Tadi gue lihat pas lewat di depan kelas lo, dia keluar, kan, setelah Pak Darwin pergi. Cal, jujur deh, lo berantem atau habis mojok?"
Calla menghela napas panjang. Ia menatap keempat sahabatnya. Di masa depan, persahabatan mereka merenggang karena Calla terlalu sibuk mengurusi obsesinya pada Lucas. Melihat mereka sekarang, yang masih begitu polos dan peduli, membuat tenggorokan Calla tercekat.
"Gue nggak apa-apa," jawab Calla singkat. "Gue cuma sadar satu hal. Lucas itu racun. Dan gue nggak mau deket-deket sama dia lagi."
Kia dan Sarah saling berpandangan. "Lo serius?" tanya Sarah ragu. "Bukannya kemarin lo sendiri yang bilang Lucas itu 'menarik' dengan segala keromantisannya? Nggak takut diancem lagi, lo?"
"Itu kemarin. Sekarang gue waras," tegas Calla.
Sore harinya, saat sekolah mulai sepi, Calla tidak langsung pulang. Ia merasa ditarik oleh kekuatan tak kasat mata menuju gedung perpustakaan tua. Ia harus mencari tahu bagaimana ia bisa sampai di sini.
Perpustakaan itu pengap. Di antara rak-rak buku filsafat yang tinggi, Calla mencari sosok yang ia lihat dalam mimpinya—lelaki berbaju putih itu.
"Kamu mencari jawaban, atau sekadar ingin memuaskan dendam?"