"Sungguh? Aku sedang tidak bermimpi, bukan?"
Mata bulat besar Abell membelalak tak percaya. Ia hampir melompat saking terkejutnya mendengar kabar dari pria yang kini hanya tersenyum geli melihat reaksi berlebihan darinya itu. Diliputi rasa bahagia yang membara, Abell langsung menghambur dan memeluk pria itu erat.
"Terima kasih, Kak Tian. Ah... rasanya aku ingin menangis saja!"
Tepat di samping kiri Tian, Tiara berdeham sengaja untuk menyadarkan dua manusia di hadapannya yang tidak menghiraukan posisinya sebagai kekasih sah sang pria.
"Besok kamu sudah mulai bekerja, Abell. Lakukanlah yang terbaik," ucap Tian. Buru-buru ia melepas pelukan Abell. Ia mendadak ngeri membayangkan reaksi kekasihnya yang tampak tidak suka. Dalam hati, ia menduga Tiara pasti cemburu karena ini kali pertama ia memeluk wanita lain selain kekasih cantiknya itu.
Benar saja, saat ia mencuri pandang ke arah Tiara yang duduk di sebelahnya, bak ribuan anak panah langsung menghujamnya. Tiara tampak melotot dengan tangan menyilang di dada.
"Baik, Kak. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku. Percayalah padaku," Abell mengepal tangannya kuat-kuat, lalu mengangkatnya tinggi ke udara. Kedua netranya menyipit, seolah tengah merajut berbagai rencana besar di dalam kepalanya.
Sudah sejak lama Abell mendambakan bisa berkantor di tempat yang sama dengan Tian. Sungguh luar biasa rasanya karena ia berhasil melalui seluruh tahap seleksi yang ketat dengan murni—tanpa ada bantuan orang dalam sepeser pun.
Malam harinya, Abell menghabiskan waktu dengan bercerita panjang lebar kepada keluarganya melalui sambungan telepon mengenai hari pertamanya bekerja besok. Sebenarnya, ia hidup seorang diri di Jakarta. Kedua orang tuanya menetap dan bekerja di Singapura sejak Abell lulus Sekolah Menengah Atas, empat tahun silam.
Abell sendirilah yang bersikeras untuk berkuliah dan menetap di Jakarta karena ia begitu mencintai tanah kelahiran keluarganya itu. Ia hanya berkunjung ke Singapura sekali-kali.