Hari pertama bekerja. Abell disambut dengan senyum ramah oleh para staf. Tak kalah sopan, Abell membungkuk sembilan puluh derajat untuk menyapa sekaligus memperkenalkan diri kepada tiga orang di ruangan tersebut. Mulai hari ini, mereka bertiga akan menjadi rekan sekantornya.
Sesi perkenalan selesai, Abell kini duduk di depan sebuah komputer. Di ruangan itu terdapat empat meja kerja yang saling berhadapan. Bima duduk bersebelahan dengan Aaron, sementara Rhea duduk berhadapan dengan Bima. Posisi Abell sendiri berada tepat di sebelah Rhea, berhadapan langsung dengan meja Aaron.
Jari-jemari Abell lincah mengutak-atik komputer, sementara tumpukan berkas di hadapannya menyita perhatiannya untuk memahami uraian tugas yang harus ia selesaikan mulai detik ini.
Ia telah bertekad bulat untuk bekerja sungguh-sungguh demi menjaga kepercayaan perusahaan yang telah menerimanya.
Rhea, seorang staf wanita yang tampak lebih senior darinya mendekat untuk mengajari beberapa hal dengan sabar. Senyum manis yang menampilkan gigi kelincinya membuat suasana terasa lebih cair. Abell menyimak setiap penjelasan seniornya itu dengan saksama, merekam setiap detail instruksi di dalam kepalanya dengan baik.
***
Hari kedua Abell bekerja.
Masih dengan semangat yang membara, gadis itu menatap pantulan dirinya pada cermin besar yang tergantung di dinding kamar. Ia mengelus lembut kemeja putihnya, lalu merapikan rok span hitam yang ia kenakan seolah-olah membersihkan debu-debu tak kasat mata—ia memang sangat membenci debu.
Senyum manis terukir di bibirnya dari balik cermin. Bahkan pulasan riasan wajah yang sangat tipis pun sudah cukup untuk memancarkan pesona alaminya, ditambah sedikit perona pipi (blush on) berwarna merah muda lembut di kedua tulang pipinya.
"Nona Arabella Reddit, kamu benar-benar cantik," puji Abell pada bayangannya sendiri.
Abell sangat sadar akan pesonanya: mata bulat yang besar, bulu mata lentik, hidung mancung, wajah tirus dengan bibir tipis kemerahan, serta tubuh mungil yang tetap berlekuk indah. Mustahil ada orang yang tega menyebutnya tidak sempurna.
Faktanya, banyak pria mengantre untuk menjadi kekasihnya. Namun, gadis itu sama sekali tidak tertarik. Ah... ia terlalu fokus mengejar karier untuk saat ini.
"Selamat pagi," sapa Abell ramah kepada ketiga rekan kerjanya yang baru saja tiba di ruang kantor.
"Hai... Pagi, Abell," balas staf wanita yang paling senior di antara mereka.
Abell lantas mendudukkan dirinya di kursi kerja dan meletakkan tas kecil di atas meja komputernya.
"Kembalikan! Kembalikan, Bima!" Suara Aaron tiba-tiba meninggi seraya menarik-narik lengan kemeja Bima.
Abell dan Rhea sontak menoleh dengan perasaan heran. Ada apa dengan kedua pria muda ini? Pagi-pagi begini sudah bikin ricuh saja.
"Ya ampun, kalian ini! Ada apa lagi sekarang?" Rhea memelototi keduanya, tampak lelah menghadapi dua pria yang hobi sekali berulah dan tidak pernah akur—kecuali saat ditraktir makan.
"Lihat nih, Kak, bekal sarapan Aaron. Lucu, kan? Kayak bontot anak kecil. Hahaha...," ledek Bima sambil mengangkat sebuah kotak bekal kecil berornamen bunga matahari di setiap sisinya.
Tanpa buang waktu, Aaron langsung merampas kotak itu kembali. "Bilang saja kamu iri karena tidak ada yang membuatkanmu bekal. Wleee...," Aaron menjulurkan lidahnya meledek.
"Sudah, sudah! Kalau kalian terus bertingkah seperti anak kecil, jangan harap ada wanita yang mau melirik kalian. Kerjaan kalian hanya bertengkar dan saling ledek terus," gerutu Rhea sambil menggelengkan kepala putus asa. Sudah hampir setahun ia menghadapi kekonyolan mereka.
Abell hanya bisa terkekeh menyaksikan kegaduhan itu. Maklum, ia belum terlalu paham dengan dinamika kerja kedua pria tersebut yang kerap membuat Rhea mengelus dada.
Di tengah keributan rutin antara Aaron dan Bima itu, Rhea tiba-tiba berdiri dengan wajah cemas seraya menyambar tas kerjanya. Ia meraih map biru tua dan melangkah cepat mendekati meja Abell.
"Abell, tolong selesaikan laporan ini, ya. Kamu hanya perlu mengisi kolom di bagian ini dan ini," ujar Rhea dengan napas memburu. Ia harus segera pergi setelah menerima pesan darurat dari guru sekolah anaknya.
"B-baik, Kak... Rhea," angguk Abell sedikit ragu. Penjelasan Rhea terlalu cepat, dan jujur saja, ini adalah hari keduanya bekerja—ia seharusnya masih berada di masa orientasi. Wajar jika ia merasa kikuk langsung dilempari tugas laporan sepenting ini.
"Kalau ada yang ingin ditanyakan, kirim pesan saja padaku, ya. Deadline-nya hari ini!" Tanpa menunggu jawaban lebih lama, Rhea langsung ngibrit meninggalkan kantor. Ia baru saja mendapat kabar bahwa anaknya muntah-muntah akibat keracunan jajanan sembarangan di sekolah dan sedang dilarikan ke rumah sakit.
***
Suara bantingan yang begitu keras menggema di ruang kerja paling mewah dan tertata rapi di penjuru gedung perusahaan tersebut. Tumpukan kertas yang mulanya tersusun rapi di dalam map biru tua kini berserakan di lantai.
Gadis yang berdiri di hadapan meja kerja itu ketakutan setengah mati. Ia menunduk dalam-dalam sambil meremas kuat ujung blazer hitam yang ia kenakan.
Hana, sang sekretaris setia, sebenarnya sudah terbiasa menghadapi tabiat arogan atasannya, namun belum pernah ia melihat bosnya semarah ini dalam beberapa tahun terakhir.
"Panggil Tian ke mari!" titah sang bos dengan alis bertaut tajam dan tatapan mematikan.
Tanpa buang waktu, Hana berjongkok memunguti kertas-kertas yang berserakan, lalu bergegas melangkah keluar dari ruangan yang kini terasa begitu panas dan mencekam. Bosnya benar-benar murka. Ia langsung melangkah cepat menuju ruang kerja Tian—kepala divisi penjualan.
***