Kini, Jeremy dan Abell berada di sebuah panti asuhan. Setiap bulan, Jeremy memang rutin berkunjung ke sana untuk menyalurkan bantuan sekaligus menghabiskan waktu bersama anak-anak.
Namun, kunjungan kali ini terasa berbeda. Selain membawa donasi dana, ia juga membawa puluhan kotak susu—sebuah ide brilian dari Tian untuk mendonasikan produk susu yang hampir kedaluwarsa berdasarkan data dari laporan Abell yang salah tempo hari. Mengingat jadwal distribusi yang ketat, produk-produk tersebut tentu tidak boleh dibagikan sembarangan.
"Daripada kamu hanya mendulang rugi dan wajahmu semakin keriput karena hobi marah-marah, lebih baik donasikan saja semua susu itu. Hitung-hitung menambah amal. Kerugian kali ini tidak akan membuatmu jatuh miskin, kan?" ledek Tian di ruang kerja Jeremy beberapa hari lalu.
"Cepat sedikit! Jalanmu lamban sekali," ketus Jeremy, menatap tajam ke arah gadis bertubuh mungil yang berjalan terhuyung-huyung sambil membawa setumpuk kotak susu.
Kening Abell sudah dibanjiri keringat hingga membasahi pelipisnya. Napasnya tersengal-sengal menahan beban yang terlalu berat. Kendati demikian, kelelahan itu sama sekali tidak mengurangi pesona kecantikan yang terpancar dari wajahnya.
Semua ini gara-gara ulahnya sendiri! Abell memang sengaja memaksa ingin membawa kotak-kotak tersebut seorang diri sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahannya, menolak segala bentuk bantuan dari siapa pun.
"Kamu sudah sampai, Nak?" sambut Ibu Panti hangat sambil merengkuh tubuh Jeremy dalam sebuah pelukan. Jeremy tersenyum manis, membalas pelukan wanita paruh baya itu dengan penuh kelembutan.
Pancaran kasih sayang yang tulus tampak jelas di wajah keduanya.
Iih... bisa-bisanya dia tersenyum semanis itu? Jelas-jelas ini cuma pencitraan! cibir Abell dalam hati sambil memutar bola matanya malas. Ia menurunkan bawaannya ke lantai dan menyeka peluh di keningnya.
"Uncle Jeje."