JEJE BOSSY BOSS

Lady R
Chapter #5

Lolipop

Di suatu taman

Semilir angin sore menerpa surai hitam Abell yang tergerai indah saat ia menyusuri jalan setapak di taman favoritnya. Kedua tangannya direntangkan ke samping demi menjaga keseimbangan, asyik melompati ubin jalur setapak satu per satu. Ia benar-benar menikmati permainan sederhana yang ia ciptakan sendiri.

"Satu... dua... tiga..." ia menghitung setiap lompatannya.

Tingkahnya sungguh menggemaskan sekaligus kekanakan. Namun, tepat pada lompatan kelima, matanya tak sengaja menangkap siluet yang amat familiar di sudut taman. Abell mengernyitkan dahi, lalu menyipitkan mata, berusaha menyelidik sosok di hadapannya.

Pemandangan ini... rasanya tidak asing, batinnya.

Benar saja, Abell kembali mendapati pria itu. Sosok yang sama yang pernah ia curi permen kapasnya saat tertidur pulas tempo hari. Kali ini, si pria mengenakan setelan jas hitam elegan dengan kemeja putih yang mengintip di baliknya. Tidak lupa ia juga masih memakai masker hitam.

Topi hitamnya memang tidak dipakai, menampilkan surai hitam lebat yang tersisir rapi dan tertata begitu menawan. Dari penampilan formalnya, Abell bisa menebak pria itu sedang menunggu seseorang yang sangat spesial.

Kondisinya pun masih sama persis seperti pertemuan pertama mereka: duduk dengan punggung kokoh bersandar pada kepala kursi panjang, terlelap dalam tidur yang begitu nyenyak. Di tangan kirinya, sebuah benda kembali menarik atensi Abell hingga membuatnya menelan ludah. Sebuah lolipop raksasa, masih terbungkus utuh.

Sangat menggiurkan. Dari warnanya saja, sudah pasti rasanya sangat manis dan lezat, gumam Abell dalam hati.

Dengan langkah sekecil mungkin dan gerakan seringan kapas, ia beralih ke sisi kiri sang pria. Gadis ini benar-benar nekat! Kalian pasti sudah bisa menebak apa rencana busuk di balik ini bukan? Aksi pencurian jilid kedua! Astaga, apakah anak ini benar-benar seorang kriminal?

"Biar kugelapkan sekali lagi saja. Maafkan aku, Paman. Hihihi... Salah sendiri kau tertidur di dalam mimpiku sambil membawa makanan yang tidak mungkin kuabaikan begitu saja. Lagipula... daripada diambil orang lain, lebih baikkan kalau aku saja yang menghabiskannya? Lihatlah, tubuhku sangat kurus dan butuh banyak asupan energi!"

Matanya sengaja dibuat sayu, memasang ekspresi melas seolah tengah memohon dikasihani. Abell benar-benar pandai bersilat lidah dan menciptakan alibi sendiri—drama sekali sampai-sampai mengaku kurang energi dan bertubuh kurus.

Dengan gerakan sehalus mungkin, ia menarik tangkai lolipop tersebut agar sang pria tidak terbangun. Bisa gawat kalau dia sampai melek. Tamatlah riwayatku! batin Abell yang ternyata masih punya secuil rasa waswas.

***

"Abell, tunggu sebentar!" panggil Hana saat melihat juniornya itu melintas di depan ruangannya menjelang jam pulang kantor. "Tolong antarkan clutch bag Pak Jeremy, ya."

"Tadi tertinggal di ruangannya karena Bos buru-buru berangkat ke rumah sakit. Kumohon, Abell, aku benar-benar tidak sempat mengantarkannya." Hana menyerahkan tas tangan bermerek itu ke telapak tangan Abell, seraya menjelaskan bahwa ia harus segera meluncur karena sang kekasih, David, sudah menunggunya di lobi. Mereka punya janji temu keluarga malam ini untuk makan malam bersama.

Lihat selengkapnya