JEJE BOSSY BOSS

Lady R
Chapter #7

Kopi Semanis Gula

Hari ini Abell bekerja seperti biasa. Ia sudah mulai memahami seluruh tanggung jawab serta laporan-laporan yang harus diserahkannya kepada sang atasan—pria galak dan arogan bernama Jeremy Arkana.

Walau Jeremy tampak menyebalkan, jauh di lubuk hatinya Abell mengakui pahatan wajah dan postur tubuh pria itu begitu sempurna. Sungguh ciptaan Tuhan yang luar biasa, sayang sekali perangainya kejam. Abell sama sekali tidak berminat pada pria arogan seperti itu.

Ia berulang kali membalikkan berkas dalam map biru tua di hadapannya. Ujung jarinya menelusuri kata demi kata, mengerahkan seluruh konsentrasi agar tidak ada kesalahan fatal yang bisa membuatnya ‘Dipancung’ hari itu juga.

"Sepertinya sudah benar. Ini dan ini... Ah, aku sedikit gugup, semoga ini yang terbaik," gumam Abell sambil memegang dagunya, menimbang-nimbang. "Baiklah, akan kuantarkan sekarang."

Ia berdiri, merapikan rambut serta pakaian kerjanya yang bernuansa merah muda lembut. Sebelum melangkah, ia mengatup-ngatupkan bibirnya setelah memoleskan sedikit pemerah bibir.

Bagaimanapun aku harus terlihat segar dan rapi. Walau jauh di lubuk hati, aku enggan berjumpa dengan monster itu. Membayangkannya saja aku sudah merinding, batinnya.

Sepatu hak berwarna krem itu membawanya menuju lantai atas—wilayah kekuasaan sang monster. Setelah berdehem sebentar, ia mengetuk pintu.

Begitu mendapat izin dari dalam, ia membuka pintu itu perlahan dan menampilkan senyuman termanis yang telah ia latih berulang kali di depan cermin.

Dengan hati-hati, Abell meletakkan laporan itu di atas meja Jeremy yang tampak acuh. Pria itu menghentikan aktivitas membaca bukunya, lalu meraih berkas yang disodorkan Abell.

"Saya tidak akan memaafkanmu jika masih ada kesalahan," ucap Jeremy dingin sambil membalik-balik lembar laporan tersebut.

"Maaf, Bos. Kali ini sudah benar, saya sudah memeriksanya berulang kali," jawab Abell berusaha tersenyum, yang justru terlihat seperti sedang menyengir.

"Oh... masih berani menjawab?"

Abell tersenyum kecut. Dasar iblis! Dijawab salah, tidak dijawab malah makin salah. Bos gila! batinnya menggerutu kesal. Ia benar-benar membenci bos yang sangat otoriter ini.

Jeremy mengangguk-anggukan kepala sebelum menutup laporan itu. Ia melepas kacamatanya, lalu menatap Abell yang berdiri kaku di hadapannya. Gadis itu tampak sangat tidak nyaman, sesekali meremas ujung kemejanya karena gugup luar biasa.

"Kamu takut? Kenapa menunduk terus?"

Abell langsung mendongak, menatap pasrah ke arah Jeremy. Tatapan mereka bertemu. Dengan mata bulatnya, Abell memaksakan senyum tipis lalu menggeleng pelan. Tidak.

"Kembalilah ke ruanganmu. Tapi sebelumnya, bawakan kopi dari ruangan Hana ke mari."

Lihat selengkapnya