Abell keluar dari mobilnya dan berjalan menuju gedung perusahaan. Pikirannya masih melayang pada kejadian mendebarkan bersama bos iblisnya kemarin siang.
Harus bersikap seperti apa aku saat berjumpa dengannya nanti? Kenapa dia melakukan itu padaku? Apa dia menyukaiku? Ah, tapi tetap saja dia itu iblis! Tapi... aku benar-benar malu. Isi pikirannya berkecamuk.
"Tidak... tidak... Buang jauh-jauh pikiran itu, Abell! Jangan berharap yang tidak-tidak!" Abell memukul pelan kepalanya sendiri agar tersadar.
Bim!, Bim!
Suara klakson nyaring mengagetkannya. Jeremy sengaja membunyikan klakson mobilnya tepat saat Abell berjalan di hadapannya.
Karena terkejut, Abell langsung berjongkok sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat.
Jeremy keluar dari mobil dan mendekat. "Berdirilah, tidak ada yang akan menabrakmu. Lanjutkan saja obrolanmu dengan diri sendiri itu," ujarnya menahan tawa. Rupanya, ia sempat melihat Abell bertingkah aneh—berbicara sendiri sambil memukul-mukul kepala.
Abell mendongak, tatapan mereka beradu. Jeremy menyunggingkan senyum seringai menyebalkan. Saking malunya, Abell langsung bangkit dan mendorong bahu Jeremy dengan kasar, lalu berlari meninggalkan sang bos yang tertawa puas.
"Kamu kenapa seperti ketakutan begitu, Abell?" tanya Rhea heran.
"Ada singa di parkiran," jawab Abell ngawur.
"Hah? Masih ada singa di tengah kota begini?" tanya Aaron polos.