Keesokan paginya. Ponsel Jeremy berdering nyaring tiada henti, menandakan jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
Keduanya sontak tersentak kaget dan terbangun dalam posisi duduk yang canggung, saling berdampingan di atas sofa. Abell melirik arlojinya dan nyaris berteriak histeris.
Ibu Jeremy sudah muncul di hadapan mereka. Abell kontan menunduk dalam-dalam karena malu.
"Ehm... Morning, tampaknya kalian sangat pulas semalam? Hehehe," wanita itu terkekeh puas.
Sementara itu, kedua insan di hadapannya hanya bisa salah tingkah, buru-buru meminta diri membersihkan diri. Si wanita hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah malu-malu mereka.
***
Di meja makan, ketiganya menikmati sarapan dalam suasana hangat.
"Jeje, kamu tidak bekerja hari ini, Nak?" tanya wanita itu heran melihat putranya masih mengenakan pakaian santai.
Jeremy melirik ke arah Abell, lalu memasang wajah cemberut. Abell yang dipandang seperti itu langsung melotot sebal. Sangat imut dan aneh! Hentikan tatapan itu, Bodoh! batin Abell.
"Aku kehilangan stafku, Ma. Jadi aku tidak bersemangat untuk bekerja," adu Jeremy dengan nada manja yang dibuat-buat, menyendok makanannya dengan lesu.