Keesokan paginya, Abell memutuskan untuk kembali mangkir dari kantor. Kalian boleh saja mencapnya tidak profesional karena mencampuradukkan urusan pekerjaan dan masalah pribadi. Tapi percayalah, energi Abell sudah terkuras habis; alih-alih bekerja benar, ia takut justru akan mengacaukan semuanya di kantor.
Dengan malas ia beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri. Ini hari ke lima Jeremy tanpa kabar. Lama-lama aku pasti bisa terbiasa tanpanya, batinnya getir.
Ia duduk di sofa ruang tengah, menyalakan televisi dan memindahkan saluran demi saluran, meski tak satu pun yang menarik perhatiannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Mami is calling.Video Call.
"Anak Mami... sudah bangun?"
"Sudah, Mami." suara Abell bergetar. Matanya langsung berkaca-kaca, ingin sekali mengadu dan menumpahkan segala isi hatinya kepada sang ibu.