"Hey, kenapa menghindariku, hmmm?" Jeremy menarik pergelangan tangan Abell yang sempat melengos melewatinya di area parkir kantor.
Abell menatap sekilas genggaman tangan Jeremy di pergelangannya. "Lepas...!" perintahnya dingin tanpa menatap pria itu. Ia mengeraskan tulang rahangnya, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga diri yang nyaris runtuh.
Tanpa aba-aba, Jeremy langsung menarik tubuh mungil Abell ke dalam dekapan hangatnya. Ia mendaratkan kecupan-kecupan lembut di puncak kepala gadis itu. Pertahanan Abell yang rindu setengah mati seketika hancur berkeping-keping; ia tak tahan lagi. Air matanya tumpah di dada bidang Jeremy, disusul pukulan bertubi-tubi yang ia layangkan ke sana.
"Kamu jahat!" tangisnya tersedu-sedu.
Jeremy membiarkan dan menahan semua pukulan itu. Ia tahu dirinya memang salah.
"Sssttt... Aku salah, aku jahat. Aku bakal jelaskan semuanya, sayang," bujuk Jeremy lembut sambil menangkap pergelangan tangan Abell agar berhenti memukul dadanya.
Setelah dibujuk sekian lama—dan disadari bahwa beberapa staf mulai melirik dari kejauhan dengan tatapan penasaran—Abell akhirnya luluh juga. Ia menurut saat Jeremy mengajaknya pulang untuk mendengarkan penjelasan lengkap.
Kini, keduanya sudah berada di apartemen Abell. Gadis itu masih memasang wajah kesal, meski binar bahagia terpancar jelas karena Jeremy kini berada di sisinya. Ah, dasar bucin! batinnya mengakui kelemahannya sendiri.
Jeremy melepas jas kerjanya dan menaruhnya di sandaran sofa. Sementara Abell, yang sudah berganti pakaian rumah dengan rambut diikat asal-asalan, menyiapkan minuman.
Mereka duduk berhadapan di meja makan. Jeremy meneguk air yang disajikan Abell, lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas kerjanya dan menaruhnya di hadapan sang gadis.
Abell meraih benda itu, membacanya saksama. Di sana tertulis jelas: Kami yang berbahagia: Anya & Hazel.
Abell mengulum bibirnya, mendongak menatap Jeremy dengan sejuta tanya berkecamuk di benak.
"Sudah terjawab gosip murahan itu?" Jeremy memiringkan senyum penuh kemenangan.
Ia mengambil kembali undangan itu, lalu mengetukkannya pelan ke dahi Abell sambil tertawa kecil.
"Aww... Sakit, Jeremy Arkana!" protes Abell sambil mengusap-usap dahinya yang kemerahan.
Tawa Jeremy seketika mereda saat mendapati mata bulat Abell menatapnya tajam penuh selidik, menyisakan kilatan emosi yang tertahan.
"Lalu, kamu sendiri ke mana saja selama ini?" cecar Abell tajam. Tidak mengabariku sama sekali! Ingin sekali ia meneriakkan kalimat itu, namun ia masih ragu apa status hubungan mereka sebenarnya.
"Ke Singapura."
"Bukannya ke Polandia?"
"Bisa jadi," jawab Jeremy datar tanpa dosa.
Merasa dipermainkan dengan jawaban yang begitu mengambang, amarah Abell kembali tersulut. Ia bangkit dari kursi, melangkah tergesa menuju kamarnya, lalu membanting pintu dengan keras.