JEJE BOSSY BOSS

Lady R
Chapter #24

You Need No Answer

Jari-jari kecil Abell menekan sandi pintu apartemennya dengan ekspresi masam. Ia melangkah masuk, disusul oleh Jeremy yang menenteng beberapa paper bag berisi aneka makanan manis kesukaan sang kekasih. Sesuai janjinya tadi, Jeremy memborong semuanya demi menghibur Abell.

Tanpa banyak bicara, Abell merebut seluruh belanjaan itu dengan wajah cemberut. Jeremy mengernyit bingung; ia benar-benar tidak paham mengapa kekasihnya itu mendadak menekuk muka sejak perjalanan pulang tadi.

Jeremy, yang merasa tidak berbuat salah apa-apa, memasang wajah melongo. "Sayang, kamu dari tadi kenapa, hmmm? Lagi PMS, ya? Is it hurt?" tanyanya berusaha bersimpati.

"Siapa juga yang PMS?! Sok tahu!" ketus Abell. Ia melangkah pergi menuju dapur sambil menghentak-hentakkan kaki mungilnya kesal.

Jeremy hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia sudah berulang kali bertanya di sepanjang jalan tadi, namun hanya mendapat jawaban "Gak apa-apa" yang justru membuatnya hampir frustrasi.

Jeremy mendekat pelan.

"Jangan mendekat!" teriak Abell memperingatkan.

"Well," Jeremy menurut, memundurkan langkahnya dan memilih duduk berjarak sekitar dua meter dari Abell. Aku harus ekstra sabar menghadapi mood swing gadis ini, batinnya pasrah.

“Hiks... hiks...”

Abell mulai terisak kecil, namun mulutnya tak berhenti menyendok ice cream. Pemandangan itu justru terlihat sangat kontras—antara sedih dan menggemaskan.

"You still have it... hiks... hiks..." lirih Abell di sela tangisnya, air matanya mulai menetes deras membasahi pipi.

"Hah?" Jeremy membelalakkan mata, berusaha mencerna maksud ucapan sang kekasih.

Melihat air mata Abell tak kunjung reda, Jeremy akhirnya nekat mendekat dan mengelus pundak gadis itu lembut. "Ssstt... Just tell me, why do you look so sad and angry with me? Hubungan yang baik itu harus didasari komunikasi, kan?" bujuknya selembut mungkin.

Alih-alih tenang, tangis Abell malah semakin pecah. "Huaaa... hiks... hiks...! Aku lihat dompetmu waktu di kasir tadi... hiks... hiks...!"

Jeremy tertegun. Ia merogoh saku dan membuka dompetnya. Ya ampun... foto lama Kayla Khanza masih terpampang nyata di sana. Sontak Jeremy paham akar kemarahan Abell. Cemburu buta rupanya!

"This photo, right?" tanya Jeremy lembut.

Abell merengut semakin dalam.

"It's nothing for me now, Hey... look at me, Abell. Aku sayang kamu. Sekarang di hatiku cuma ada kamu. Itu cuma foto lama, aku cuma... belum sempat memindahkannya. Believe me, I love only you, now and forever," Jeremy menyatakan kejujurannya dengan tulus, lalu mengelus tengkuk Abell yang kini menyembunyikan wajah sedihnya di perut sang pria.

Jeremy menangkup wajah kecil Abell, menatap hangat ke dalam manik mata yang basah itu. Ia tersenyum, lalu mengangkat tubuh mungil Abell bak seekor koala dan membawanya ke sofa ruang tamu. Ia membaringkan tubuhnya sendiri sambil tetap mendekap erat Abell di atas dadanya.

"Sudah, jangan menangis lagi, Sayang. Itu cuma masa lalu, dan kamu sendiri kan yang menyaksikan aku melepaskannya di taman? Itu syaratku agar bisa ikhlas memulai lembaran hidup yang baru... bersama kamu," bisik Jeremy penuh cinta.

Abell mendongak, menyeka sisa air matanya. "Bos...? Bos tahu aku ada di taman waktu itu?"

"Kamu tuh ya... selalu saja datang ke mimpiku. Dasar penguntit!" ledek Jeremy pura-pura kesal.

Lihat selengkapnya