Satu minggu kemudian.
Pagi-pagi sekali, Jeremy menekan sandi pintu apartemen Abell. Ia sudah berpakaian sangat rapi mengenakan setelan jas mewah berwarna hitam dengan kemeja putih di baliknya, serta menenteng sebuah paper bag berukuran besar.
Sesuai rencana rahasia yang telah ia susun, hari ini Jeremy berniat mengajak Abell menghadiri pesta pernikahan Hazel dan Anya yang dilangsungkan di salah satu hotel termegah di pusat kota.
Abell masih tertidur begitu pulas. Selimut tebalnya menutupi tubuh hingga sebatas dada. Wajah polos tanpa riasan itu terlihat sangat damai, bahkan kecantikannya justru semakin terpancar dengan rambut yang sedikit berantakan.
Jeremy mendekat, lalu berjongkok di sisi ranjang. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita yang sangat dicintainya itu—gadis yang ceria, cerewet, usil, tapi juga sangat mudah merajuk.
Wanita ini... aku benar-benar mencintainya, gumam Jeremy dalam hati penuh kehangatan. Ia membelai pelan rambut Abell, membuat sang gadis mengerjap pelan karena merasakan kehadiran orang lain di dekatnya.
Abell menggeliat malas. "Hoaaam... Bos? Sudah sampai?" tanyanya mengantuk, mengusap matanya sekilas lalu hendak menutupnya kembali karena masih dibekap rasa ngantuk berat. Jeremy hanya terkikik geli melihat tingkah polos itu.
"Haaaa... BOS?!" Abell seketika menjerit histeris begitu kesadarannya terkumpul penuh. Ia langsung terduduk tegak, panik merapikan rambutnya yang semrawut.