Jeremy duduk bersantai sambil menonton televisi di apartemen Abell. Gadis itu bersandar nyaman di dada bidang sang kekasih, sesekali ia tertawa saat melihat adegan lucu di layar kaca.
Tak lama kemudian, Abell meraih remot TV dan mematikannya. Ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan Jeremy, mendongak menatap sang bos dari bawah dengan binar penuh kagum. Sangat tampan, gumamnya dalam hati.
Jeremy balas menunduk, menatap manik mata Abell lekat-lekat. "Aku tahu aku memang sangat tampan. Kamu benar-benar beruntung, Abell. Hihihi..." kikiknya menggoda.
"Iya, aku memang sangat-sangat beruntung. Kiss me," balas Abell manja sambil memajukan bibirnya.
Cup...
Jeremy mengecup sekilas bibir tipis sang kekasih. Abell terkekeh geli. Di dalam hatinya, ia begitu menyayangi pria yang kini telah resmi menjadi tunangannya itu.
"Je..."
"Hmm...?" Jeremy mengelus-elus rambut Abell yang masih berbaring di pangkuannya, menatapnya penuh kasih sayang.
"Mmm... mau ceritakan kisahmu dengan Kayla Khanza?" pinta Abell ragu-ragu.
"Itu semua hanya masa lalu, Abell. Sekarang aku sudah bersamamu," jawab Jeremy lembut.
"Ayolah... Aku cuma ingin tahu alasan kenapa kamu sampai separah itu membenci makanan atau minuman manis, bahkan sampai membuat orang-orang di sekitarmu harus ikut menjaganya," rengek Abell.
Ia melanjutkan dengan suara yang mulai melemah, "Aku dengar... itu semua ada hubungannya dengan Kayla Khanza, kan?"