JELAGA

Misserasera
Chapter #2

Langit Berwarna Oranye

Aku merindukannya. Masa di mana langit berwarna oranye dan memberi suasana hangat di rumah kami. Sinar mentari menyusup dari kaca jendela. Menggerayangi zona cahaya di dalam rumah, melatari tawa dan gairah penghuni rumahnya yang akrab dan berbahagia.

Hari-hari sebelum peristiwa ….

Degup kencang menggeliat, ini degup kesukaan. Secangkir cokelat hangat mengepulkan uap panas. Menggigiti kuku, menahan gugup. Di suatu bakery di sudut kota. Gelisah menunggu Ibu yang tak kunjung muncul dari pintu.

Cokelatku sudah hampir habis setengah. Seplastik kecil warna-warni permen telur cicak tergeletak manis di dekatnya. Aroma roti panggang isi sosis dan tumis bawang bombay tercium wangi menyebabkan perut berisik.

Klang!

Seseorang muncul. Tersenyum. Berkacamata, berhidung besar, berambut ikal pendek, Akhirnya Ibu muncul juga, aku menarik napas lega. Geligi ibu yang rapi membuat dadaku menghangat.

Ada waktunya Ibu sangat manis, menampilkan sisi keibuannya tanpa harus berpura-pura kuat di depan anak-anak. Aku menyukai Ibu yang seperti itu. Ibu yang benar-benar “ibu” bukan monster yang melahap jiwa Ibu yang manis.

Pertemuan rutin kami setiap kamis sore di bakery tua salah satu hal termanis, kado mahal Ibu untukku. Kenapa setiap kamis sore? Kami sepakat setelah memikirkan secara matang. Hari Kamis adalah hari aku menunggu majalah kesayangan dengan tak sabar. Jika kebetulan loper koran langganan Ibu terlambat datang mengantar ke kantor Ibu, maka Ibu dengan telaten akan mencari terbitan barunya di sekitar toko buku terdekat kantor. Sekali lagi itu effort Ibu untukku yang teramat aku hargai. Ibuku bukanlah pribadi yang mengucap “Ibu sayang kamu” tetapi ia dengan rajin tanpa mengeluh berusaha mencukupi segala kebutuhanku sebagai ganti waktunya yang hilang bersamaku.

“Tadi diantar Pak Mardi?” tanya Ibu masih dengan senyum mengembang. Aku mengangguk mengiyakan.

Ibu yang menyuruhku datang kemari dengan diantar bapak becak langganan. Kantor Ibu hanya beberapa langkah dari bakery ini. Dia mengusapkan tangannya di kepalaku. Tampilannya hari ini sungguh cetar dengan warna blazer pink menyala dan rok hitam selutut. High heels merah maroon menjadi pilihan menghiasi kakinya yang jenjang, senada dengan scarf yang melilit leher. Ibu tak pernah gagal berpenampilan mencolok. Sesuai dengan pekerjaannya bertemu banyak klien. Pada tahun 1990-an outfit yang Ibu kenakan merupakan outfit yang popular untuk pekerja kantoran.

Pertemuan dengan Ibu di bakery tua akan selalu terkenang. Kurasa itu hal termanis yang pernah Ibu berikan padaku. Masih terasa betul debaran menggila lebih dari senang ketika ia membolehkanku mengintip isi tas kerjanya, ternyata Ibu sudah menyelipkan majalah Bobo kesukaanku. Membuncah rasa bahagiaku. Menebal kasih sayangku untuk Ibu. Aku memang terlalu gila membaca. Mungkin itu sebabnya temanku Nena sering bertanya padaku. Dan jika tak menemukan jawaban dari pertanyaan itu maka aku menanyakan pada ibuku.

“Kenapa kita janjian di bakery tua, Ibu?” tanyaku saat itu.

“Ini menjawab pertanyaanmu waktu itu, Kasih. Soal bagaimana rasanya berkencan, hahaha!” Ibu tertawa renyah.

Mataku berbinar, merasa terhormat Ibu yang sibuk di kantor mengingat kalimat pertanyaanku kepadanya minggu lalu. Pertanyaanku minggu lalu memang agak absurd. Disebabkan Nena bertanya padaku, apa itu kencan? Aku tak bisa menjawabnya karena memang tidak tahu. Belum ada kalimat itu di buku yang rajin aku baca. Lantas aku menanyakannya pada Ibu.

Lihat selengkapnya