JELAGA

Misserasera
Chapter #3

Malam Terkutuk

Hening malam ini berbeda. Terasa wingit dan dingin yang sulit untuk dijelaskan. Aku sembilan tahun saat itu. Ibuku melirik dari balik kacamata melorotnya, di hadapan tumpukan kertas-kertas lemburan dari kantornya. Sementara itu dunia dalam berita di televisi mulai menampilkan pembaca berita dengan suara berat berpakaian formal lengkap dengan dasi. Bang Artan bercita-cita ingin jadi pembaca berita. Dia ingin bertubuh tegap dan berbahu lebar, senyumnya mengembang menatap layar kaca seakan menjelma menjadi sosok pembaca berita di televisi yang gagah. Sebab itu, punggung tegaknya diam tak bergerak fokus pada layar televisi. Aku menarik napas lega ketika siaran dunia dalam berita berakhir.

“Belum tidur?” tanya Bang Artan sekilas padaku yang baru memasukkan buku materi soal ke dalam tas sekolah.

Aku menggeleng, “Tengkuk aku merinding,” kataku asal.

Bang Artan berbeda usia tujuh tahun denganku, ia remaja yang cerdas dan sedikit manja, dengan mata menyala-nyala menyeringai padaku.

“Ini malam-mu kan? Anggoro Kasih? Setan-setan bangkit tuh, mengikuti kamu, hahaha!”

Tawanya pecah meledek.

Aku melempar kertas yang kuremas untuk menimpuknya. Inilah sebabnya aku tak nyaman dengan nama pemberian Ibu. Semua orang jadi tahu aku terlahir di malam keramat ini. Berbagai tanggapan orang-orang terhadapaku. Sebagian tahu kalau itu malam ritual. Mereka bahkan memanggilku dukun cilik karena kilat mataku yang tajam dan intuisiku yang mendeteksi sesuatu sebelum terjadi. Misalnya … mengenai pagar bambu rumah Nena, telah kukatakan padanya untuk memperbaiki dan mengganti jadi pagar besi saja dan benar saja, pagar itu roboh selang sehari tepat aku mengatakannya. Wajah bapak Nena memerah saat itu. Ia menganggapku mengerikan dengan semua yang kukatakan padahal sungguh aku tak bermaksud membuatnya merugi, aku hanya katakan apa yang terlintas di otak. Mata Ibu melotot waktu aku ceritakan, beliau bilang, lain kali jangan asal bicara. “Hmm, kenapa jadi aku yang salah Ibu?” gumamku protes, tapi percuma … selentingan kabar itu meluas dengan kepribadianku yang mereka anggap mistis. Bahkan Ayah sering menyebutku sebagai Siwa, dewa pengrusak. Aku tidak tahu apa maksudnya. Apa iya setiap kerusakan berawal dariku yang tak tahu apa-apa ini?

Klotak!

Sebuah suara keras seperti benda dijatuhkan. Tepat ketika Bang Artan mematikan televisi setelah dunia dalam berita berakhir.

“Kamu dengar itu, Bang?” tanyaku dengan badan tegap.

“Akh, paling tikus!” ujarnya beranjak dari kursi.

“Ke mana Ayah, Bang?” tanya Ibu pada Bang Artan.

“Ronda,” jawab Bang Artan pendek.

“Jam segini? Hmm, mencurigakan, pasti ia minum-minum lagi di tempat Pak Budi,” gerutu Ibu sebal.

“Panggil Ayah, Bang!” perintah Ibu.

Bang Artan mendengkus. Terang-terangan menolak. Beralasan sudah mengantuk. Bang Artan membanting pintu kamar tak mau diganggu. Kelakuannya memang temperamental. Bang Artan mudah naik pitam hanya sebab hal sepele. Di komplek ini ia terkenal bengal dan menjadi pusat perhatian. Inilah letak perbedaannya denganku. Aku Si Kasih yang lebih senang berada di kamar sendirian. Sementara Bang Artan akan menebar pesona ke seluruh wajah yang bertatap muka. Entah kenapa Bang Artan senang sekali jika ada yang memujinya. Kupikir ia haus validasi. Keluarga besar lebih senang bila bercengkerama dengannya daripada aku yang jutek.

Bagi mereka, di atas kepalaku seperti ada awan mendung yang menggelayuti. Mereka tak dapat menjelaskan tentang apa yang mereka lihat pada diriku. Tetapi hampir semua mempunyai kesamaan persepsi bahwa Kasih adalah anak perempuan yang berbahaya dan sulit didekati. Hal ini membuatku jauh dengan kakak-kakak sepupu. Walaupun ada yg mau dekat denganku itu paling hanya satu, dua saja. Celakanya, tahun-tahun berikutnya setelah peristiwa malam terkutuk membuatku benar-benar sendirian tanpa satu pun kakak sepupu yang berkawan dekat denganku.

***

Lihat selengkapnya