Ibu bertanya, apakah aku ingin merayakan ulang tahun ke sepuluh di akhir pekan nanti. Aku melirik tanggal gusar, 13 juli datang sebentar lagi. Tidak ada antusias menyambutnya seperti tahun-tahun lalu. Lagipula sudah setahun Bang Artan mengunci diri di dalam kamar. Sekolahnya terbengkalai. Dia hanya merenung dan terdiam. Mulutnya juga terkunci rapat, sama sepertiku. Kekejian perampok malam itu hanya terbukti dari pemeriksaan medis. Ciri-ciri perampok hanya bersumber dari keterangan Engkus yang memergoki kejadian. Malam itu Engkus pun mendapat pukulan di kepala. Sosok lima orang dengan pakaian hitam-hitam dan mengenakan penutup kepala, sebenarnya persis sama dengan apa yang kulihat. Tapi, aku memilih untuk menggeleng saja. Mereka berkesimpulan malam itu aku telah tertidur dan tak tahu apa-apa.
“Rayakan saja, jangan memikirkan aku!” ujar Bang Artan mengejutkan. Aku yang tengah menatap arah luar dari jendela kamarnya terperanjat dan langsung menoleh pada ia yang duduk di pinggiran kasur. Terkadang Bang Artan bicara normal layaknya remaja biasa. Mulai ketidaknormalannya bila dipaksa kembali sekolah dan bertemu banyak orang. Pergaulannya kini pun berbeda. Ia banyak menolak kunjungan teman-teman yang dulu sering bermain bersama. Bang Artan kehilangan kepercayaan diri begitu ekstrem.
Aku mendengkus berat. Tak ada yang benar-benar kuinginkan saat ini. Perayaan atau apa pun itu, tidak masuk ke akalku saat ini. Ada hal yang jauh lebih penting. Ayah, Ibu, berpura-puralah semuanya baik-baik saja. Kenyataannya keluarga kita mengalami banyak kemunduran. Terima kenyataannya bila kita semua larut dalam tragedi tak besuara. Saling terdiam satu sama lain seolah mimpi buruk ini belum berakhir. Lantas Ibu, apakah anda ingin menggunakan hari perayaanku untuk mengelabui dunia, bahwa keluarga kita baik-baik saja? Oh, tidak Ibu. Aku tak akan terkecoh oleh iming-iming manismu!
Aku menghela napas berat. Kulirik Bang Artan yang hanya terlihat normal ketika bicara denganku. “Akan kukatakan pada Ibu segera, aku menolak pesta apa pun!”
Bang Artan nyengir dan mencebikkan bibir, entah tanda terharu atau setuju pastinya dia senang tak perlu bertemu banyak orang. Dia juga tak mau lagi untuk jadi boneka Ayah dan Ibu yang dipamerkan pada semua kerabat dan meyakinkan diri mereka bahwa anak pertamanya terlihat baik-baik saja.
“Kurasa kau bukan anak sepuluh tahun, Kasih!” Bang Artan tersenyum mengejek. Tatapan matanya dalam.
“Kurasa kau juga tidak seabnormal yang mereka lihat, Bang!” protesku.
“Hanya denganmu,” gumam Bang Artan, kedua matanya memandangi plafon kamar. Pikirannya melayang, lalu dia katakan lagi, “pikiranmu lebih dewasa dari usiamu yang masih kanak-kanak, apa malam itu kau benar-benar tertidur, Kasih?” tanya Bang Artan mengulik memori yang tak mau kuingat.
Aku mengangguk getir. Tak ingin bicara lagi, lekas kuambil langkah seribu menghindari pertanyaannya lebih lanjut. Kutahu Bang Artan mulai menyadari sesuatu, ketika bersitatap dan aku menangkap pandangan memelas darinya.
***
Ibu meradang. Penolakanku membuatnya murka. Menurut Ibu persiapan perayaan ultah sudah maksimal. Tinggal dilaksanakan saja nanti sore.
“Kasih tak mau menerima banyak tamu, Ibu. Kasihan Bang Artan!” ujarku beralasan.
“Justru di sinilah kita dapat membuktikan gunjingan orang pada keluarga kita tidak benar, Kasih!”
Aku menggeleng. Menghela napas sekali lagi mendinginkan isi kepalaku yang langsung ingin membantah Ibu. Aku menahan diriku untuk tak mengatakan banyak kalimat. Aku tahu perayaan ultah hanyalah kedok. Bagi orang tua untuk mendapatkan keyakinan bahwa keluarga ini baik-baik saja. Secara tidak langsung aku kecewa pada Ibu yang hanya mementingkan perasaan orang tua menurut pandangan orang lain. Tidakkah Ibu memikirkan perasan Bang Artan? Apakah pendapat orang lebih penting untuk saat ini dibandingkan kondisi mental Bang Artan. Hanya karena ingin membantah menurut pandangan orang-orang yang menyatakan bahawa Bang Artan gila, maka Ibu justru makin membuat mental Bang Artan merasa tidak aman.
Aku tinggalkan Ibu. Mengambil sepeda dan melaju kencang, mengayuh pedal tanpa keluh kesah. Hanya aku yang tahu, bagaimana hati kami perih sebenarnya. Berpura-pura baik-baik saja, bukan jalan keluar terbaik, Ibu.
***