JELAGA

Misserasera
Chapter #5

Gejolak Cinta Pertama

Dengung suara mesin motor menggetarkan gendang telinga. Berada di keramaian yang sengaja kupanggil, ingin terlarut di dalamnya. Memasrahkan diriku, berpacu dengan adrenalin. Aku Kasih delapan belas tahun yang masih terbayang oleh trauma kejadian sembilan tahun lalu. Malam ini malam Anggoro Kasih, malamku. Aku tak mau di kamar itu. Aku ingin terbang bersama angin, merambat memohon menyerah kepada takdir. Agar takdirlah yang membawaku pergi dari iblis berbentuk trauma medusa.

Bendera dikibarkan. Tubuhku melaju bersama roda berputar, bersama kawanan lain layaknya serigala pemangsa. Kami gahar di jalanan akibat kedalaman hati kami terluka. Aku tak tahu alasan persisnya, mengapa kami menjadi satu di jalanan. Balapan liar. Terlarang dan berbahaya. Namun, aku tahu akan satu hal. Kami sama-sama remaja yang tak betah di rumah. Pencarian jati diri membuat kami nyaman bersama, saling tertawa, saling menyapa. Walaupun jarang yang satu sekolah bahkan ada yang tak lagi bersekolah. Entah bagaimana mulanya aku mengikuti kawanan liar ini. Mungkin juga karena pertemananku yang tak sengaja dengan Bani, kawan yang dingin dan misterius di sekolah kami. Semua orang membicarakannya, dia yang tak mudah didekati, bahkan oleh sesama lelaki. Dari jauh aku memperhatikannya, dia mirip denganku. Gahar dan galak di luar, tetapi kuyakin ia amat rapuh di dalam.

***

Trengg … teng-teng-teng-teng-trenggg!

Ngrenggg … ngettt … trenggg!

Suara RX-King menjerit. Menikmati angin sore dan laju gagah motor yang kusebut Raja Utara. Sore itu menjadi awal perkenalan resmiku dengan Bani.

Awal pertemuan tak sengaja itu di parkiran minimarket dekat komplek rumahku. Aku merasa harus menyapa teman satu sekolah, walaupun belum akrab. Aku mengangsurkan sekaleng minuman dingin pada Bani. Bani menerima dengan lunglai. Memar biru terdapat di sudut bibir dekat dagu. Aku tak menanyakan tangan siapa yang cukup berani melukai Bani. Biarlah, bila dia ingin bicara maka dia akan bicara.

“Sendirian, Kasih?” tanya Bani disambut seringai senangku. Dia hafal namaku rupanya, padahal kami hanya saling tegur sapa di parkiran sekolah. Sebab Bani pernah datang menyapa CB 100 Candy Red-ku. Saat itu baginya cukup aneh melihat anak perempuan mengendarai CB 100, apalagi sekarang … mata Bani terkesan kagum dengan tungganganku Si Raja Utara.

Aku mengangguk. “Tak ada teman,” keluhku.

“Sama, hehehe!” kekeh Bani.

“Aku selalu dianggap berbeda sejak aku kecil, Ban!” ucapku membelah kesunyian. Malam itu ditemani semilir angin, aku berniat membuka ‘bagaimana orang memandang diriku’ kepada Bani. Mungkin dengan keterbukaanku itu, Bani mau membuka mulutnya perihal luka pemukulan. Namun, bila mulutnya tetap terkunci rapat serta menjaga jarak pun aku sama sekali tidak masalah.

Bani melirik, menatap sendu, lalu kembali menyandarkan kepala pada rak galon minimarket. Kami memang sedang ngemper di teras minimarket. Aku meneguk minumanku. Dia meniru gerakan yang sama. Melihat gerak tangan, jari lentik Bani membuat hatiku berdesir. Gila ini gila, belum pernah aku begini! Aku meliriknya diam-diam, masih sembari meneguk minuman dingin yang terasa lebih dingin. Saat kami bersitatap aku mendadak salah tingkah dan yeah … harus kuakui paras tampannya hal pertama yang membius kesadaranku.

Damn! Aku akan mendapat masalah! Gumamku dalam hati.

Entahlah, intuisiku selalu terbang duluan sebelum keinginan terucap.

“Kamu tidak punya banyak teman, kecuali Topan, ya?” tanya Bani mendengkus. Aku tidak terkejut Bani tahu aku berteman dengan Topan. Memang cuma Topan yang bisa akrab dengan raut judesku.

“Hmph, bukan itu saja. Aku memang sebuah anomali! Yeah, kurasa begitu. Aku sering disalahpahmi orang, tak terkecuali keluargaku sendiri. Teman-teman perempuan menghindar karena kata mereka aku tidak asyik. Aku tidak suka bergosip, tidak suka naksir-naksiran. Tidak pakai pita berenda malah pakai topi hitam, tidak mau pakai rok malah panjat pohon jambu dan kulempari mereka yang cerewet itu dengan buah jambu!” ceritaku sembari tertawa.

“Hahaha! Sumpah, kau lucu Kasih.” Bani ikut tertawa mendengar kenakalanku di masa kecil. Aku lega karenanya, berhasil menghibur pikiran Bani yang tadinya kacau tanpa menanyakan sebab kemurungannya. Pandangan wolf-nya berubah menghangat. Dia menatapku dengan senyum. Bibirnya yang penuh di atas dagunya yang runcing membuat mataku tak bisa mengalihkan pandangan. Aku menggelengkan kepala secara sadar. Oh, apa ini? Degupku menggila.

“Kamu pasti terkenal di komplek rumahmu, ya?” Bani masih terkekeh.

Yeah, ibuku setengah malu, setengah gila dengan kelakuanku. Ibu ingin aku berteman dengan banyak anak perempuan yang memakai rok dan bedak wangi, tapi aku malah ke bengkel Topan melihatnya membongkar motor dan belepotan oli.”

“Kamu tak pernah pakai rok dan pita berenda waktu kecil?” Kening Bani mengernyit.

“Bu-bukan …” Aku tak melanjutkan ucapanku. Rasa perih menyeruak. Dulu sebelum malam terkutuk aku yang paling sering berganti warna renda pita, paling update dengan gaun berumbai mencolok, dengan kaus kaki dan sepatu hitam pantoffel, ibu mendandaniku layaknya putri yang tinggal di istana. Ibu memang bangga dengan rumahnya, rumah bergaya Belanda yang mirip puri di dunia imajinasi. Jendela besar yang waktu kukecil membayangkan ada pangeran berkuda putih menunggu di bawah. Sebuah imajinasi yang membodohiku bahwa setiap pria pastilah pahlawan, nyatanya tidak. Pria dewasa yang kutemui kebanyakan mengerikan, ayahku sendiri, ayah Nena, kawan-kawan ayah dan perampok malam itu.

Semuah berubah! Malam jahanam mengubah segalanya.

Sejak itu aku selalu memakai baju tebal, rok aku ganti celana. Tak ada pita lagi, terutama warna merah jambu. Lebih banyak pakaianku warna hitam. Duniaku yang semula dipenuhi awan biru mendadak kelabu dan kehilangan yang benar-benar ingin kumilki. Bermula dari meja makan yang menjadi dingin, senyum Ibu memudar, Bang Artan tak lagi jadi teman bicara, Ayah yang tenggelam dalam bisnis terlarang. Khusus untuk Ayah, aku kecewanya makin bertambah. Aku selalu mendeteksi kebohongan di tiap ucapan seseorang, dan bagiku hampir 70 persen ucapan Ayah kudeteksi sebagai kebohongan belaka.

Lihat selengkapnya