“Langsung pulang, Kasih” tanya Bani di atas Kawasaki Ninja hitam glossy miliknya, seolah dia tak mau aku lekas beranjak pergi.
Balapan sudah berakhir setengah jam lalu, beberapa kawan sudah mulai cabut. Kulirik jam tangan, sudah hampir subuh. Sebaiknya memang pulang, sebelum orang rumah memergoki aku tak ada di kamar.
Aku mengangguk pada Bani, “Aku pulang, ya?”
Bahu Bani mengedik, “Terserah!”
Aku sudah siap mengenakan helm full-face TRX ketika sebuah sirine menghantam pendengaran, bagi kami anak motor jalanan suara sirine polisi memang seperti hantaman kewaspadaan. Bani dan aku bersitatap. Gegas ia pun melakukan hal yang sama denganku. Menyalakaan mesin motor 150 cc segera dan memakai helm senada warna motornya yang hitam gloosy.
Kami meliuk di jalanan, diiringi suara sirine yang masih mendengung di kejauhan. Aku melirik Bani sekilas, Bani melirikku, aku tahu ia tersenyum dibalik pekat helmnya.
Degup dada membuncah. Ada desir mengalir indah. Datangnya dari hati terdalam. Pada tikungan terakhir kuberi kode tangan, memacu Raja Utara 135 cc yang mendadak njengat menjerit keras dan meluncur laju meninggalkan ninja 150 cc milik Bani.
***
Memasuki halaman rumah yang luas kutatap bangunan Belanda itu jemawa, diam-diam selalu mengagumi siluet rumah kami di hamparan kegelapan. Desis kekaguman menguar bersamaan dengan sekuat tenaga raga ini mendorong motor pelan. Kuketuk pelan rumah Engkus yang dihiasi warna lampu kuning. Kuketuk tiga kali tak ada jawaban. Mulai kesal kutendang pintu kayu itu sekali.
Dug!
“Ya?” Ada sahutan dari dalam.
Krieet! Pintu terbuka.
Sssstt! Aku menempelkan jari telunjuk tepat ia hendak mengomel. Engkus hanya menggaruk kepala.
Motor RX-King tersebut berhasil kumasukkan ke dalam rumah Engkus tanpa suara berisik. Kemudian menutupnya dengan kain berwarna putih. Tepat suara azan berkumandang di kejauhan. Aku menguap, tidak tidur semalam. Anehnya badanku tidak pegal-pegal. Aku senang, adrenalinku membakar habis sisa jelaga yang menyelimuti kamar di malam Anggoro Kasih semalam.
Kubuka kain berwarna biru, yang terparkir bersebelahan.
“Cuci pagi ini, ya, Engkus!” perintahku. Engkus mengangguk. Menatap CB-100 candy red peninggalan kakek yang telah lama Engkus rawat. Motor ini masih ori dan terawat dengan baik, aku bahkan menggunakannya untuk pergi ke sekolah setiap hari. Sementara RX-King 135 cc biru metalic itu hanya kugunakan di saat malam-malam pertemuan dengan Bani saja.
CB-100 ini seperti mewakili kehadiran Kakek. Bayang bersamanya lambat laun memudar ketika aku beranjak remaja. Kenanganku bersama Kakek hanya ketika aku membonceng CB ini menghadap punggungnya yang menua. Mungkin saat itu selisih setahun sebelum malam kelam. Mungkin saja nasib buruk menimpa kami setelah wafatnya Kakek sang pelindung keluarga. Setelah Kakek wafat, aku memang merengek pada Ibu untuk memiliki motor antiknya.
“Jangan dijual, Ibu! Untuk Kasih saja!” rengekku saat itu.
“Kamu masih kecil Kasih, hahaha!” Ibu tertawa.
“Kugunakan setelah aku besar!” ucapku serius. Ibu menatapku dan akhirnya mengangguk, lagipula motor milik orangtuanya adalah kenangan istimewa sama seperti rumah peninggalan bergaya Belanda ini. Binar mataku yang paling serius berisi harapan membuat hatinya luluh.
Anggukan Ibu pada akhirnya, menyorakkan kebahagiaan yang tak terhingga di masa kecilku itu. Mungkin itulah sorak bahagia yang terakhir sebelum semuanya berubah menjadi kelam.
***
Helm batok kelapa membentur semen parkiran. Aku memungutnya, merutuki aku yang ceroboh. Bani muncul dari arah pintu kelasnya, menghampiri. Langkahnya santai diiringi tatapan Topan dan kawan-kawan yang tak santai. Topan ketua kelas di kelasku, sementara aku dan Bani tidak satu kelas. Badan Bani yang tinggi membuat jika ia berjalan mencuri perhatian. Beberapa gadis berbisik. Aku tak peduli, tetap kuikat seadanya helm batok kelapa ini pada setang CB-100 kesayanganku.
“Kalau sekolah pakai yang itu?” seloroh Bani tertawa menunjuk CB-100 manisku, pertanyaannya lebih kepada pernyataan. Aku melirik motor Bani Kawasaki Ninja 150 cc hitam glossy yang terparkir garang di sisi tiang. Bani memang selalu membawa motor kesayangannya itu, mau balapan liar ataupun ke sekolah.
Aku tersenyum tipis mengimbangi tawanya, kulirik gadis-gadis makin berbisik-bisik. Serba salah memang, bila bicara dengan Bani di sekolah, ada banyak pasang mata mengintai. Bukan gadis-gadis itu saja, rombongan Topan masih berkasak-kusuk di anak tangga menghadap parkiran.
“Ayok, aku duluan ke kelas, Ban!” pamitku, jengah diperhatikan banyak pasang mata.