JELAGA

Misserasera
Chapter #7

Jeritan Cinta Pertama

Bani menatap perubahan pada motorku. Ia mengagumi pekerjaan Topan. Bani mengaku ingin mengenal temanku itu, tetapi dalam hati aku meringis. Topan yang tidak mau, Ban!

“Lusa aku jemput, ya?” bisik Bani, dekat telinga, membuatku merinding. Poninya menjuntai menutupi jidat, tak dapat menutupi mata bulatnya yang mengerjap sempurna.

Aku menggelengkan kepala spontan. Beberapa detik wajah Bani membuatku senyum tanpa perintah otak. Kuabaikan informasi barusan, tetapi otak udangku terlanjur mengunduh perkataan Topan mengenai terlalu kelihatan kalau aku bucin ke Bani.

“Bagaimana?” tanya Bani lagi. Kali ini badannya setengah merunduk mengimbangi aku yang mungil.

“Ya, eh! Ja-jangan!” Tergagap aku memikirkan jawaban yang tepat. Langsung teringat kalau aku kan tak pernah mendapat izin bermain motor di luar rumah. Bukan tak dapat izin, tapi memang tak pernah kubicarakan. Entah kapan terakhir kali aku dan anggota keluarga saling bicara tentang kegiatan masing-masing. Semua berjalan seperti robot. Rutinitas kantor bagi Ibu, rutinitas sekolah bagi aku. Ayah, entahlah apa yang ia lakukan. Sedangkan Bang Artan satu-satunya robot yang diam. Kondisinya masih sama seperti dulu. Kini ia sudah menjadi lelaki dewasa yang tak pernah berubah menjadi dewasa secara jiwa. Mungkin saja ingatannya, masih ingatan remaja yang teraniaya semacam dulu.

Tak sadar aku menghela napas, ini tak luput dari perhatian Bani. “Iya, aku tak ke rumah, tak ada yang tahu kau ikut balapan liar, kan?”

“Tentu saja!”

Bani meringis. “Iya, sama, kok!”

“Kamu harus mencengkeram handfat lebih kuat agar motornya tidak shaking, Kasih!” tutur Bani mengamati. Perhatiannya beralih ke motor.

“Aku akan menang bukan karena aerodinamis, tapi karena jambakan atau torsi lebih brutal saat tegak melawan angin!” Aku menepuk bangga setang ubahan Topan ini.

Bibir Bani mencibir, sekilas egonya terasa gahar di benakku. Hmm, Bani tidak selembut yang kukira. Jika aku tak mengesampingkan intuisiku, Bani orang yang penuh dengan rasa ego yang terluka. Apa pun yang terjadi di dalam keluargamya membuat tatapan Bani menyimpan nestapa yang dalam.

Hari yang ditentukan tiba. Malam balapan liar di mana aku dan Bani akan bertarung satu sama lain. Namun, sebelumnya Bani mengajakku bicara dari hati ke hati. Bukan soal trik agar menang atau aman. Ini mengenai perasaan yang tak bisa ia tutupi lagi. Mengaku kagum padaku dan aku terlena dengan rayuan maut itu. Padahal aku tahu itu hal klise yang dilakukan pria jatuh cinta. Otak udangku yang tak pernah merasakan dicintai mungkin lebih merespons hal kecil sebagai bentuk cinta luar biasa. Ini bisa dikarenakan aku banyak kehilangan moment disayangi lagi dalam keluarga. Moment kasih sayang yang telah lama mati membuatku sangat haus akan kasih sayang. Sangat teler rasanya ketika Bani, mencondongkan bibir dan menciumku tepat di bibir untuk pertama kali. Aku terbuai, Bani senyum dikulum. Lalu kembali mengacak rambutku dan memberi semangat untuk balapan.

Dia atas RX-King aku meliriknya tajam. Dalam hati aku lekas memisahkan antara rasa bucin dan ambisi. Yeah, ada yang Bani tidak tahu. Aku memang kelihatan sangat bucin kepadanya, tetapi soal harga diri aku maju nomor satu. Aku maju paling depan kalau ada yang akan menyakiti Bani, aku bisa saja jadi pelindungnya. Tetapi aku juga tak akan gentar jika harus melawannya dalam balapan liar. Di sini kami adalah lawan yang setara, aku lawan tangguh bagi Bani, mendahulukan harga diri menyingkirkan perasaan. Itulah yang Bani tidak tahu, aku makhluk anomali yang dapat memisahkan bermain hati dan logika dalam waktu bersamaan.

Bani mengedipkan mata tepat sebelum kaca helm ditutup. Bunyi peluit dan bendera memicu pergerakan serta suara dengung yang tak mungkin kulupa seumur hidupku. Bunyi ini, aroma asap ini, ciuman Bani dan roda berputar menjadi suatu kesatuan memperindah masa remajaku.

Triiing … triiing ….deeeng ….

Yang ada hanya adrenalin

Membuncah

Bersama desau angin dan bulan menggantung di langit malam

Adrenalin membuncah … iya kan Bani?

Seringai tawaku tertelan kembali. Senyum Bani kecut penuh kepalsuan.

Aku tahu betul kepalsuan ini … sama seperti Ayah yang berpura-pura mematuhi Ibu untuk membicarakannya di luar rumah saat bersama tetangga.

Ibu yang tidak becus mengurus anak, Ibu yang mengabaikan suami, Ibu yang tidak berfungsi sebagia istri―menurut Ayah.

Kalimat-kalimat itu terngiang kini, di antara dengungan motor. Kalimat menyebalkan berlompatan di dalam kepalaku menambah kecepatan Raja Utara dengan ganas. Balapan berakhir, semua tertawa menyambutku, kecuali Bani. Dia tidak senang, dikalahkan olehku. Sama seperti Ayah yang terluka harga dirinya ketika istrinya kehilangan peran sebagai istri yang lembut karena harus merangkap sebagai pencari nafkah dalam keluarga.

Bani mengingatkanku pada moment itu. Senyum kecut Ayah, tawa mengejek Ibu, semua terekam pada sorot mataku yang sedang melihat Bani. Tidak ada ucapan selamat untukku. Bani mendadak asing dan aku terperanjat menyaksikan perubahannya. Apa dia lupa sebelum balapan apa yang dia lakukan pada bibirku? Oh, aku mengerti sekarang. Apa ciuman pertama kami dia lakukan untuk memecah konsentrasiku? Kalau iya, sungguh jahat! Aku tak menyangka Bani begitu.

Huft!

Kuputar roda Raja Utara, aku ingin segera pergi. Bani tidak mencegah, berpura-pura sibuk dengan motor hitamnya. Apa dia tak pernah menyangka, Kawasaki Ninja 150 cc baru saja dikalahkan RX-King 135 cc. Ini bukan soal mesin belaka Bani, ini soal fokus dan tujuan. Kamu tidak tahu Bani, semesta akan selalu jeli melihat niat curang terselubungmu.

Lihat selengkapnya