JELAGA

Misserasera
Chapter #8

Kehilangan

Bola mataku liar menatap langit-langit kamar. Sebulan berlalu semenjak kejadian balapan liar yang merenggut nyawa Bani. Cintaku pertamaku kandas dengan tragis. Bunganya masih menguncup dan belum berkembang secara sempurna ketika terpaksa dipatahkan dengan paksa oleh takdir Ilahi. Seisi rumah yang sudah suram bertambah suram dengan keheninganku. Ada sesal tertahan. Mengapa detik-detik terakhir dalam hidup Bani tidak kumanfaatkan dengan baik. Seandainya aku tahu. Tentu saja semesta mengunci rahasia ini dariku, jika aku sudah tahu pastinya aku bisa mengganggu jalannya aturan semesta. Kematian lelaki delapan belas tahunku, yang menyisakan cinta pertama menetap sebagai kerinduan dalam. Sampai kapan pun aku tak bisa melupakan rasa bibirnya yang terakhir kukecup. Tak bisa lupakan senyum terakhir yang seolah meyakinkanku hubungan kami akan berubah baik-baik saja. Nyatanya … “Kamu menang, Ban, kamu pergi lebih dulu. Meninggalkan dunia yang kejam padamu!”

Rasanya menyakitkan, namun kutahu aku tak dapat mengubah takdir semesta untuk Bani. Jika bukan di balapan liar, mungkin di suatu tempat yang lain, Bani akan tetap merenggut nyawa. Mengingat janji manis Bani pada ibunya untuk bertemu lagi setelah kematian, aku menghapus air mataku untuknya. Biar saja aku kehilangan, yang penting Bani sudah bahagia besama ibunya tercinta.

Mataku masih sembab, dan getirnya kutelan sendiri. Saat meraih gelas berisi air putih dingin dari kulkas, tak sengaja aku temukan raut wajah di cermin dekat kulkas. Hmm, raut wajah tua, kebiasan wajahku memang suka berubah-ubah. Kadangkala kelihatan belia, tapi ada kalanya justru terlihat lebih tua. Kali ini, aku terlihat tua dengan cekung di bawah mata yang menguras energi. Iih, mungkin karena kesedihanku mengenai kematian Bani, pikirku. Namun, tidak … ada kesan inilah mata penjaga tak kasat mata yang mengatur agar aku selamat malam itu, menurut Topan akulah yang tersenggol lebih dulu, dari pembalap yang terpelanting saat menikung tajam. Ajaibnya aku hanya lecet kendati Raja Utara menyentuh aspal sangat ganas. Luka terseret aspal jalanan dari Raja Utara masih diperbaiki Topan hingga saat ini. Entahlah bagaimana aku akan menggunakannya lagi. Sudah kehilangan minatku untuk balapan liar pasca kematian Bani.

Otak aku mengirim pesan, berupa rekaman adegan … saat Bani mengacak rambutku, saat dia menerima uluran sekaleng minuman dingin, saat dia pertama kali mengajakku balapan liar, saat dia mencium bibirku, saat dia perlahan berjalan memunggungiku. Aku kehilangan. Ini berbeda dari rasa kehilangan Kakek. Kehilangan Bani rasanya kosong. Hampa yang menetap.

Aku pernah memikirkan suatu hal. Mengapa aku terbiasa dengan kehilangan. Hal teremeh dari soal kehilangan adalah kehilangan barang-barang yang aku sukai, barang itu akan lenyap tanpa aku tahu jejaknya, bisa karena ceroboh, bisa karena diambil orang, bisa karena hancur atau rusak. Aku pun kehilangan minat pada hal yang kusukai, kehilangan manusia yang menyukaiku, kehilangan dekapan orang tua dan kehangatan keluarga, dan kini kehilangan cinta pertama dengan tragis.

Braaak!!! suara hantaman pintu mengejutkan. Minumku hampir tersembur.

“Kasih, ikut Ibu!” perintah Ibu memaksa. Aku terperangah, posisiku baru saja minum dan hampir tersedak. Ibu muncul dengan mengagetkan. Mukanya merah padam.

“K-ke mana, Bu?” tanyaku gagap. Sungguh masa-masa berduka begini tak mau bepergian. Namun, Ibu memaksa dan tak mau dengar penolakan. Sifat Ibu paling khas yang dia paksakan untuk kedua anaknya. Mendikte, memaksakan kehendak.

Sejam kemudian, kami sudah melakukan perjalanan dengan bus kota. Sikap Ibu sangat aneh. Wajahnya waspada dan layu.

Turun di dekat pasar Banyumas. Ibu mengajakku berjalan, langkahnya tegas dan penuh getir. Aku hanya bocah ingusan yang tak memahami arti dari kegelisahan seorang wanita yang sedari tadi mendera hatinya. Aku terlalu fokus dengan rasa kehilanganku sendiri. Yang Ibu tidak tahu. Ibu tdak pernah mengetahui jika putrinya tengah berduka kehilangan cinta pertamanya.

Langkah kami mendekati sebuah rumah asri dengan banyak pohon Asoka. Dalam hati ingin bertanya, rumah siapa ini, Bu? Namun, pertanyaan dalam hati pun langsung menguap ketika secara mengejutkan aku menemukan pick up Ayah di halaman rumah tersebut. Genggaman jemari Ibu di tanganku mengencang. Aku seakan tahu yang selanjutnya terjadi dan menghela napas panjang. Akhirnya terjadi juga ketakutan yang kerap hadir dalam mimpiku, aku pernah bermimpi tentang Ayah memeluk wanita yang mendekap bayi. Dan sejak itu aku mulai memperhatikan gerak-gerik Ayah yang cukup mencurigakan.

Ibu melepas tanganku, gemetar tangannya mengetuk sebuah pintu berubah menjadi gelisah, kualihkan pandangan ke arah langit. Mendung kelabu. Huft, langit pun ikut merasakan hati kami yang mendadak gerimis melankolis. Belum pasti, tetapi hati sudah memetakan yang terjadi.

Krieet!!

Pintu terbuka. Wanita lansia menyambut kami dengan senyum. Ibu tersenyum terpaksa. Lantas tanpa basa-basi langsung bertanya, “Pak Haryo ada, Bu?” jelas suaranya bergetar.

Wanita itu harapan terakhirku, berharap dia menggeleng saja, sayangnya dia terlalu polos atau semesta memang sengaja ingin Ibu tahu. Beliau mengangguk. Pasrah sudah! Lututku lemas!

Lihat selengkapnya