Respons Ibu yang dingin dan kaku berlangsung cukup lama. Aku sendiri heran kenapa Ibu tidak tergerak mengajukan gugatan perceraian? Bukti Ayah memiliki anak dari wanita lain sudah jelas di depan mata. Bahkan meminta penjelasan saja tidak. Namun, desau angin pada dedauanan kering menghalau kebingunganku. Sudah saatnya aku fokus pada diriku sendiri. Bosan dengan drama rumah yang tak layak menjadi rumah bagi jiwa lelahku. Aku ingin membentuk rumahku sendiri di luar sana. Aku ingin menemukan rumahku yang entah berbentuk bangunan atau manusia. Merindukan rumah, tetapi entah rumah seperti apa. Rasa tersebut berkeliaran dalam bayang acak yang kerap muncul akhir-akhir ini. Semenjak kehilangan Bani, aku merasakan rindu mendalam. Tadinya kukira itu untuk Bani saja, ternyata tidak. Ada kerinduan pada rumah bersamaan dengan bayang-bayang acak yang mengganggu tidurku.
Kesempatan itu datang saat akhirnya aku lulus dari putih abu-abu. Perayaan yang kutinggalkan … gegap gempita yang kulalaikan. Tak seperti teman yang bersuka cita konvoi motor bersama-sama. Coret-coret pada pakaian yang mereka senangi, bukti kenangan masa berakhirnya putih abu-abu. Aku tidak mau. Coret-coret ataupun konvoi dengan motor. Bahkan Raja Utara sudah teronggok kaku dengan kelambu di rumah Engkus. Jujur, aku masih belum bisa … teringat Bani setiap aku menyalakan dan dengar suara … treng .. treng … treng ….
***
Malam sebelum pergi ….
Ibu mengetuk kamarku pelan. Melihat wajahnya kuyu masai. Kutahu akhir-akhir ini cobaan beruntun tengah menimpa hidupnya. Ditambah kini aku yang delapan belas tahun memutuskan pergi melanjutkan kuliah di Jogja. Ada alasan kuat aku harus melangkah ke sana. Meninggalkan Banyumas dan ingin menetap di Jogja menjadi bisikan halus yang kubalut manis dengan alibi kuliah. Kamar, rumah yang dipenuhi jelaga peristiwa malam terkutuk tahun1996, membuat setengah jiwaku ingin pergi dari sini, tetapi setengahnya lagi ingin tinggal karena kenangan bersama Kakek, Ayah, Ibu dan Bang Artan saat langit masih berwarna oranye. Aku sadar memaksakan diriku berdamai dengan trauma dengan tetap tidur di kamar yang sama. Aku kuat karena dalam kesendirian menghadapi gejolak emosi, ada aroma kayu basah dari kayu jati yang kehadirannya membuatku tenang.
Tanganku sibuk mengemas barang. Besok pukul enam pagi harus sudah sampai stasiun. Berharapnya sih, sebelum aku pergi Ibu sudah ada keputusan untuk bercerai atau tidak. Ibu pantas bahagia dan memutuskan benalu pada hidupnya. Mengapa harus bertahan di situasi menyakitkan seperti ini? Aku sungguh tak mengerti.
“Uang sakumu kukirim tiap seminggu sekali saja, Kasih!” ucap Ibu sembari mengangsurkan beberapa helai rupiah untuk aku besok membayar kereta dan tinggal di Jogja seminggu awal aku di sana. Aku juga tak bisa menuntut lebih dari ini. Kutahu, jika kebetulan aku tak diterima di universitas negeri, mana mungkin Ibu membolehkan pergi ke jogja.
“Bu, Ibu baik-baik saja kan, Kasih tinggal pergi?” tanyaku cemas. Ibu menghela napas.
“Kau pamit dululah sama Bang Artan!” perintah Ibu dengan dahi berkerut. Ibu sempat menolak keinginanku pergi ke Jogja karena nanti kesepian. Sekarang Ayah mulai berani kurang ajar dengan terang-terangan membagi waktu di rumah pohon asoka lebih lama. Tapi kurasa hal ini tidak memberatkan Ibu, toh Ibu juga tak mau bicara dengan Ayah, Ibu justru lega kalau Ayah tak berada di rumah. “Hanya menjadi beban,” seloroh Ibu. Saat aku bertanya mengapa tak mengusir Ayah, Ibu mendengkus. Padahal di kantor, Ibu juga sedang menanggung masalah besar. Kecerobohannya membuatnya wajib mengembalikan ganti rugi nominal rupiah yang cukup besar. Ayah tahu hal ini, tapi ia tak pernah sungguh-sunggh peduli. Kasihan Ibu, seperti biasa jika Ayah yang punya masalah selalu minta bantuan Ibu menyelesaikan, tetapi ketika sebaliknya Ibu mendapat masalah … Ayah akan pura-pura tak melihatnya dan menutup mata. Perlakuan buruk lelaki pada wanita dalam pernikahan membuat nyaliku kecut untuk mengenal apa itu arti menikah yang membahagiakan.
***
Mematuhi Ibu kulangkahkan kaki memasuki kamar Bang Artan di malam sebelum kepergianku. Dia, seperti biasa duduk menghadap jendela. Wajahnya tampak tirus, pucat, rambut yang menutupi kepala kira-kira sepanjang 5 cm. Tanganku mengulurkan sebuah komik kungfu, kegemarannya. Dia menerima tanpa ekspresi. Aku menelan ludah dan berniat duduk di samping ranjangnya. Dia menghardik, spontan aku berdiri. Kali ini apa salahku, gumamku tak paham. Bang Artan tersenyum kecut, “Jika mau pergi, tak usah meninggalkan kenangan,” ujarnya berapi-api. Aku terkejut Bang Artan begitu emosional.
“Kasih masih pulang kapan pun Bang Artan mau, kok!” ujarku menghibur.
“Tidak usah, sudah baik kau pergi, kau tak perlu dengar dua orang itu berkelahi!” Aku mengernyitkan dahi, dua orang itu … hmm, apa yang Bang Artan maksud Ayah dan Ibu? Jadi mereka bertengkar tanpa sepengetahuanku.
“Apa Ayah dan Ibu tidak saling diam, bukankah mereka perang dingin?” tanyaku hati-hati.
“Mereka pandai berpura-pura di depanmu, Kasih!” tutur Bang Artan pilu. Aku menarik napas. Melihat Bang Artan yang seperti ini, membuatku meragu sejenak. Apakah keputusanku meninggalkannya semakin larut dalam kesepian di rumah ini adalah pilihan yang tepat? Namun, entah mengapa intusiku lagi-lagi berbisik aku harus tinggal di Jogja dan lepas dari situasi toxic ini. Kendati itu aku harus tega pada Bang Artan yang akan sendirian. Hidupnya seringakali tidak terlihat, mungkin sebab itu dibalik dinding kamarnya dia banyak menyimpan peristiwa yang hanya telinganya yang dengar.
“Tuh, komik Tin-tin!” Tangannya menunjuk tumpukan komik Tin-tin di pojok kamarnya. Aku memindai sekeliling, buku-bukunya tersusun rapi di rak dan ada beberapa yang menumpuk di lantai. Itu karena rak-nya sudah tak muat. Hampir semua dinding kamarnya tertutup rak buku. Dia tenggelam dalam dunianya sendiri, dia menciptakan cahayanya sendiri ke dalam dunianya yang gelap.
“Aku tak mungkin membawanya, Bang! Kutitipkan padamu!” ujarku sembari mengelus bahunya. Dia tergugu, kadang tingkah saat hampir menangis mirip anak kecil lima tahun. Menarik napas lagi, segera kuputuskan berpamitan saat itu juga. Ada lega ketika aku berhasil melewati kata tega demi kebaikan hidupku. Pemikiranku, rumah tangga orang tuaku sangat berantakan, sangat sakit, dan jika diteruskan tak akan ada cahaya yang masuk ke dalam rumah ini. Justru kegelapan semakin menguasai, rasa dingin dan gelap saling menyerang satu sama lain dengan cara-cara diam-diam. Cara yang sangat rahasia menyusup menggerogoti jiwa, terus terang aku bisa gila. Lebih baik ada satu yang selamat daripada gila bersama. Aku tak mau menyerah dengan keadaan. Maka walau berat kutinggalkan semua kenangan di rumah ini, mau itu kenangan baik maupun buruk.