Ada serigala dalam diriku yang sigap mengamati, lama terdiam tetapi jika meledak, nyala apinya mampu membakar hati. Mungkin itu berasal dari kelahiran di hari Selasa yang bersifat api. Aku sendiri tak memahami, namun itulah yang dikatakan Kakek dulu. Seperti saat ini, napasku masih memburu, teringat hantaman kekecewaan yang kulalui tadi. Membuang muka pada jendela aku tak ingin seorang pun tahu. Aku sedang menahan tangis amarah. Ragaku mengadu lemas tetapi emosiku membuncah pada gerbong kereta menuju Jogja bersama pemberontak keadaan lainnya. Teman-teman beda sekolah yang menghubungiku kalau mereka juga mendapatkan universitas negeri di Jogja. Teman-teman itu tak sengaja kukenal, tak menyangka kini bersama-sama mempunyai tujuan yang sama. Kami pergi berlima, janjian dalam gerbong kereta tanpa ibuku sempat melihat mereka. Dua di antara teman itu adalah teman yang diperkenalkan oleh Bani di balapan liar. Setelah sampai di Jogja nanti, belum tentu kami akan tetap bersama.
Ludi menyentuhkan sekaleng minuman dingin pada lenganku. Sekilas teringat Bani. Tersenyum aku membalas kebaikannya. Ludi salah satu kawan yang dikenalkan Bani padaku. Perawakannya tinggi dan kurus, Ludi memakai kacamata dan tak bisa hidup tanpa kacamatanya itu. Ludi memag terganggu penglihatannya. Dia tidak pernah ikut balapan kendati aku mengenalnya di jalanan. Ludi berada di sana karena menemani Moody, adiknya. Moody ini salah satu pembalap liar wanita sepertiku. Namun, saat ini, kami berdua sama-sama sudah kapok. Kecelakaan yang merenggut nyawa Bani sebab utamanya.
Minuman dingin rasa apel membasahi kerongkongan. Moody bertanya padaku, bagaimana jika menginap di rumah kontrakan mereka saja. Ludi memang berhasil membujuk ayahnya untuk menyewa rumah di Jogja, alih-alih indekos secara terpisah dengan adiknya. Selain itu dua orang lainnya, aku tidak begitu mengenalnya mereka masih sepupu mereka satu lelaki dan satu perempuan, juga akan tinggal bersama. Otomatis aku menggelengkan kepala. Kebiasaan takut berhutang budi, karena bagiku hutang budi akan mengikatku suatu hari nanti.
“Sudah dapat kos, Mod,” ucapku menolak Moody.
“Dekat kampus?” tanya Moody detail.
“Iya, daerah Selokan Mataram,” ujarku menimpali.
“Tapi kapan pun kamu bisa datang ke Wirobrajan, Kasih!” ujar Ludi khawatir. Dia memang tidak setuju aku terpisah, tetapi juga memahami jika jarak Wirobrajan ke kampusku terlalu jauh dan lebih praktis mencari tempat tinggal di sekitar wilayah kampus saja.
“Kalau kangen kalian aku pasti datang,” cetusku menyeringai. Sejujurnya, aku tak merasa akan kangen mereka. Jika dihitung jari, ini pertemuan kami keempat. Pertama waktu dikenalkan, kedua waktu kecelakaan, ketiga waktu pemakaman, keempat ya sekaramg ini menemaniku melarikan diri ke Jogja. Bagi semesta tak ada yang berupa kebetulan, semua ini sudah diatur sedemikian rupa agar ada teman di saat 'biasanya' aku tak punya teman, kecuali Topan. Tapi Topan ‘kan tak mengenal baik Bani, tak ada ikatan khusus mengenai kehilangan Bani, dan juga Topan tak mungkin melarikan diri ke Jogja. Aku jadi ingat Ibu topan yang membekali aku kering kentang dalam toples dan sekarang pergi bersamaku di Jogja. Wak Giyo yang berpesan agar aku hati-hati dirantau sendirian, Topan yang wanti-wanti agar aku mengirim kabar, ketulusan mereka menggetarkan hatiku. Dan sialnya aku baru ngeh kalau mereka itu teman bagiku. Mungkin lebih tepat disebut saudara tak sedarah. Yeah, sepertinya aku selama ini terlalu menghukum diriku, kenyataannya hidupku tidak sepi-sepi amat. Topan dan keluargnya adalah oase di padang tandus yang aku jalani. Kenangan dengan keluarga Topan mau tak mau membuat aku tersenyum. Menjinakkan serigala liar dalam diriku.
***
Sore hari, koperku baru masuk ke salah satu kamar kos yang telah kubayar lunas setahun penuh pada pemilik kos. Kutahu kemudian ia bernama Mas Ando, pria berusia sekitar 35 tahunan. Seusia Mas Togo saat ini. Akh, ulu hatiku langsung ngilu kalau melintas nama Mas Togo dalam pikiranku. Sudah berusaha positif thinking tapi tetap tidak bisa.
Pencarian rumah kos ini lumayan random. Sebab aku hanya mengandalkan feeling dan percaya pada iklan sewa kamar kos melalui koran. Aku melihat sekeliling, tak ada yang istimewa, hampir seperti bayanganku. Sebuah kamar kos standar dengan satu dipan, meja dan lemari. Hmm, untuk kursi rupanya aku harus membeli sendiri. Untuk kamar mandinya ada tiga di bawah dan empat di lantai atas. Rumah kos ini tingkat dua tetapi aku memilih di bawah saja. Entahlah aku tidak menyukai berada di tempat tinggi. Satu hal yang tidak diceritakan dalam iklan koran tersebut, bahwa ternyata letak rumah kos tersebut berada dekat dengan kuburan. Bukan hanya dekat, aroma kembang kamboja sanggup tercium dari dalam kamarku. Melalui fentilasi, hanya terpisah gang kecil selebar dua langkah kaki lebar orang dewasa untuk langsung menyapa makam tua. Jadi, bisa dibilang aku bertetangga dengan para mayat di dalam tanah.