Jelaga

Misserasera
Chapter #11

Dia Datang Lagi!

Jurusan sejarah ada di Fakultas Ilmu Budaya dan aku kini berada di tengah-tengah kantinnya yang bernama kantin sastra. Rasanya nyaman. Kuliah pertama tanpa hambatan. Jurusan ini lumayan sepi peminat, kurasa itu yang kukira meloloskan ku. Ternyata aku salah. Aku lolos karena aku memang pintar―kalau boleh sombong sedikit. Jurusan ini sangat spesial menurutku, berisi orang-orang idealis, mencintai budaya dan Nusantara. Yeah, itu yang aku temui dan mereka mirip denganku.

Seliweran mahasiswa asing di Kansas―kantin sastra―menjadikan kampus ini otentik sebagai kampus pertukaran pelajar. Jurusan Sejarah sendiri, merupakan pilihanku tanpa melibatkan Ibu. Dari kecil aku selalu tertarik dengan sejarah Nusantara. Entahlah, seolah ada tarikan kuat untuk mendalaminya. Sewaktu SD, aku sudah membaca karya K.H. Mintardja mengenai perang Pajang dan Jipang dan berdirinya Mataram Islam. Sebuah kisah di bukunya yang teringat terus dalam memori kepalaku adalah saat beliau mengisahkan pemberian “Alas Mentok” dari Sultan Hadiwijaya (Pajang) kepada Ki Ageng Pemanahan karena putranya Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati) berhasil menumpas Aryo Penangsang dengan tombak Kyai Pleret. Awalnya Alas Mentok diremehkan orang, tapi berubah menjadi kerajaan raksasa. Nah, cerita itulah yang amat berkesan di hatiku. Aku juga menyukai candi dan museum, mempelajari wangsa Syailendra pada Mataram kuno. Banyak membaca buku soal sejarah, di mana kebanyakan gadis seusiaku memenuhi mall untuk shoping.

Mereka semua lewat di depanku, pun para mahsiswa baru sepertiku. Tak ada yang duduk semeja denganku, padahal lumayan masih bisa terisi dua orang lagi. Aku seperti satu buah zona acak yang terlewati oleh hiruk pikuk kehidupan. Mereka abstrak, bergerak dinamis dan aku menetap. Suapan terakhir soto dan tempe cukup membuatku kenyang. Aku menyudahi acara makan siangku dengan menutup sendok di atas mangkuk kosong yang teramat bersih. Aku sangat menghargai makanan dan tak kubiarkan sebutir nasi pun tertinggal.

Belum ada yang mengajak aku ngobrol apalagi kenalan. Ini sering menjadi pertanyaan dalam hatiku, mengapa orang-orang tersebut seperti segan terhadapku. Waktu kecil, aku mengira ada awan kelabu di atas kepalaku yang membuat semua teman enggan bermain denganku. Namun, saat sudah besar seperti sekarang, aku memahami bila raut mereka bukan benci tetapi segan. Yeah, sebenarnya sama saja, sih. Artinya tetap merasa dibenci orang tanpa sebab.

Saat berjalan keluar dari Kansas, seseorang menyenggol. “Maaf,” ucapnya. Aku menoleh tersenyum. Orang itu seperti mirip dengan seseorang. Ia kembali berlalu. Menatap bagian punggungnya yang mengenakan flanel kotak-kotak, berwarna biru. Pria itu berlari ringan. Dadaku berdesir, bukan naksir. Membatin, Kok, aku curiga!

Keanehan kembali terjadi, saat mencoba beradaptasi dengan bus kota yang tak mau berhenti kendati lariku kencang mengejar. Siang ini aku harus ke Gramedia. Menungu lagi di halte yang menjadi panas, huh! Melangkah gontai menuju halte yang tadi kutinggalakn sekitar lima belas langkah. Menyeka peluh yang melunturkan bedak yang kupakai jika ke kampus saja. Harusnya aku membawa motor saja. Keluhku bersungut-sungut sendiri. Lamunan pada Raja Utara merambat naik, juga pada CB-100 Candy Red kesayangan. Tak kusangka lamunan itu hampir mencelakaiku. Sebuah mobil hampir menyerempet, dan sebuah tangan menarikku ke sisi jalan. Sorot matanya bertemu denganku.

“Anda???” Aku kaget bukan main. Energi tak mungkin bohong, aku mengenalinya. Energi pria yang tadi menabrak bahuku di Kansas, sama dengan energi pria ini, dan dia juga aku kenali sebagai energi leluhur yang menjagaku.

****

 

Aku melotot padanya. Tidak ada yang melihatnya, kecuali aku. Yeah, dia memang bukan manusia. Seharusnya dia hanya berupa sorot mata tajam yang mengawasi. Aku juga heran, mengapa penampilannya jadi menyesuaikan zaman begini.

“Apa yang anda inginkan dariku, Tuan?” tanyaku ketus.

Pria itu tidak melihatku. Dia menatap ke bawah, kuburan. Kami memang tengah berada di lantai tiga. Dengan latar belakang sprei putih yang sedikit terbang sedikit bingung, kenapa anginnya datang tak niat berembus.

“Tuan, kutanya sekali lagi! Kalau tak mau jawab, pergi saja anda dari sini!”

Aku menyesali kalimat bodohku. Aku tertipu dengan raga yang kulihat mirip manusia modern. Dia tak mungkin pergi, dia yang mengawasiku dari kecil.

Pria itu menyeringai. Seolah tahu apa yang terlintas dalam pikiranku. Dia memang tak bisa kubohongi.

“Ke mana teman yang lain?” aku mengubah arah pertanyaanku.

Lihat selengkapnya