Jelaga

Misserasera
Chapter #12

Drama Salah Paham

Sepulang dari kampus, menyempatkan diri mampir ke laundry dekat rumah kos. Wanita paruh baya ramah menyambutku dan berbasa-basi menanyakan apa aku ini mahasiwa baru, aku mengangguk saja. Malas banyak bicara, tetapi aku salut ibu itu terus cerewet tanpa peduli jawabanku yang singkat-singkat. Sesal berkelakuan buruk, aku menepis rasa putus asa dianggap ketus. Jadi memberanikan diri membalas percakapan hangat darinya. Selesai menimbang, aku tak langsung pergi. Melainkan mendengarnya bergosip tentang rumah kos sebelah yang dihuni oleh banyak lelaki.

“Hati-hati, Mbak. Mereka perayu,” kekehnya.

Aku melirik rumah tersebut, terlihat asri dengan lincak terletak di bawah pohon belimbing wuluh. Aku menatap lincak kosong itu, rupanya di sanalah mereka bermain gitar saat malam hari. Berbeda dengan yang lain. Aku sama sekali tidak merasa terganggu. Alunan gitar bahkan membuat tidurku lebih nyenyak. Aku yang sering mengalami insomnia, belum merasakan sulit tidur sejak malam pertama tiba di Jogja. Aku memandangi suasana rumahnya. Agak berbeda dengan rumah Mas Ando, rumah kos para lelaki itu terlihat adem dan nyaman. Energi yang kurasakan sangat tenang. Berbeda dengan energi yang kurasakan di rumah Mas Ando, ada hawa panas yang tidak jelas. Energi negatif menyelusup seperti maling membuat emosi penghuninya meningkat. Baru hitungan jari aku tiba saja sudah ada beberapa kali teriakan sesama penghuni kos mengenai rebutan kamar mandi, jemuran atau remote televisi di ruang tengah. Mas Ando memang menyediakan layanan televisi gratis. Dengan maksud penghuni kosnya tidak usah membawa televisi dalam kamar, antisipasi mengurangi pemakaian listrik berlebih.

Setelah pamit pada pemilik laudry, aku hanya berjalan pelan sambil melihat-lihat. Saat itulah namaku dipanggil seseorang.

“Nduk, sini!”

Sempat mengucek mata, tak percaya pada penglihatanku. Benar ada seorang nenek melambaikan tangan padaku. Aku mendekati ragu. Nenek dengan kebaya kutubaru dan sanggul tipis asal-asalan, sementara kain jarik terlilit serampangan. Usianya kuperkirakan lebih dari tujuh puluh tahun. Badannya sedikit membungkuk. Dia menyalamiku sesaat aku sampai di hadapannya.

“Anak kos sebelah, ya, Nduk?” tanya simbah girang.

“Nggih, Mbah! Baru datang dua hari lalu, mahasiswa baru,” jawabku menerangkan.

Simbah menganggukan kepala terlihat senang. “Mau lemper Nduk, Mbah ambilkan di dalam, ya?”

“Eh …” ucapku menggantung tak sempat menolak. Badan simbah sudah melesat masuk ke dalam. Di luar dugaan, meski membungkuk, tubuhnya bugar dan lincah. Beliau cepat kembali dengan sepiring lemper yang katanya buatan sendiri. Aku menelah liur, menggiurkan, kebetulan aku lapar. Simbah ini cerewet, tetapi kurasakan hatinya tulus. Aku sama sekali tak keberatan jika harus menghabiskan sepiring lemper ini untuk sekadar menemaninya ngobrol. Kami duduk di lincak bawah pohon belimbing. Rupanya simbah inilah pemilik rumah kos para lelaki yang bermain gitar semalam. Tak kusangka, mudah akrab dengan simbah yang akhirnya kuketahui bernama Suhartin, beliau meminta dipanggil Mbah Tin saja. Badannya kecil tidak terlalu berisi, terlihat penyayang dan sangat ramah.

“Mbah, kenapa memanggilku? Apa Mbah menawarkan lemper pada setiap yang lewat?” tanyaku sembari mengagumi lezatnya rasa lemper di lidah yang katanya simbah sendiri yang masak.

Lemper khas kampung dengan berisi abon, tapi terasa nikmat ‘kala kunikmati waktu lapar sedang di puncak kariernya’.

Menyomot, mengunyah tiga kali dan menelannya berulangkali.

“Kenapa cepat sekali mengunyah?” tanya Mbah Tin protes, dahinya mengernyit melihat sikap makanku.

Aku terkekeh saja, “Biar kenyang lebih lama, Mbah!” ujarku beralasan.

Raut mukanya berubah sayu, beliau menangkap berbeda arti dari kalimatku. Mengira aku tak punya cukup uang untuk sekadar membeli makan sehari-hari. Akh, aku baru sadar kesalahpahaman ini.

Tak merasa perlu mengklarifikasi, kuteruskan saja makanku. Biasa begitu, malas .. aku tak pernah mengklarifikasi jika ada yang salah memahamiku.

“Kapan pun kamu merasa lapar ke sini saja, Nduk! Anak-anak yang ngekos di sini juga biasa makan bareng Mbah,” ujarnya menghibur.

Otak udangku cepat berpikir. Wah enak juga ya, para mahasiswa itu, dapat induk semang seperti ini. Keberuntungan di tanah rantau, kemungkinan berasal dari doa ibunya yang diterima langit. Aku jadi teringat ibuku sendiri. Bagaimana perpisahan kami di stasiun tanpa pelukan kasih sayang. Tak sengaja mendesah.

“Lemper di piring masih ada dua, Nduk. Kalau kurang Mbah ambilkan lagi!” ujar Mbah Tin menghibur, beliau mengelus punggungku penuh perasaan. Aku terhenyak, membatin kalau Mbah Tin pasti salah paham lagi. Tapi biarlah, biar saja simbah beranggapan semacam itu. Mudah akrab dengan simbah padahal baru saja berkenalan, membuatku penasaran, dan akhirnya memberanikan diri bertanya padanya.

“Mbah Tin, mengapa tadi memanggilku? Tidak takut aku jahat, aku kan orang asing?” tanyaku dibawa bercanda, tapi sesungguhnya itu bukan candaan.

“Kamu terlihat welas asih, Nduk!” ucap Mbah Tin tersenyum,

Aku terhenyak, biasanya orang menganggap auraku menyeramkan. Baru simbah ini yang mengatakan aku welas asih.

***

“Anggoro Kasih memang welas asih, itu watak aslimu!” ucap teman penjaga batinku menerangakan. Dia bersandar di dinding melipat tangan bersedekap.

Lihat selengkapnya