Apa sih yang seorang wanita harapkan dari pasangannya, pastinya ketenangan karena terlindungi dan dibimbing, bukan? Itulah yang tak pernah ibuku dapatkan. Ayah justru mendorong sisi maskulin Ibu terpaksa keluar dan mengambil alih ketidabecusan Ayah sebagai suami. Keras kepala Ibu dibentuk oleh keadaan. Selain tak akur dengan Nenek, sifat Ibu memang lebih memberontak dibandingkan saudara lain. Ibu paling dekat dengan bapaknya, sehingga sampai Kakek tutup usia Ibu setia menemani. Ibu pula satu-satunya anak yang mau tinggal di rumah tua peniggalan Kakek. Jika Ibu tidak bersedia, tentunya rumah tersebut hanya berakhir sebagai gudang tua yang kotor dan bau. Biaya merawat rumah semacam itu memang lebih mahal dibandingkan untuk menyewa sebuah rumah kontrakan.
“Loh, Kasih! Sendirian? Mana anak-anak?” tanya Mas Baroto yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku yang sedang lemah letih lesu ini cuma mengedikkan bahu.
“Simbah tindak Sukoharjo, Mas!” ucapku memberitahu. Informasi ini juga kudapat dari Lasman yang tadi pagi berpapasan.
Mas Baroto mengiyakan, rupanya sudah tahu. “Ada kerabatnya yang punya hajat,” ucap Mas Baroto menambahkan.
Aku mendengkus dengan tidak sadar, perutku melilit, bukan itu saja bahkan memberi auman panjang. Mas Baroto melirik, pengertiannya berusaha membuatku tidak malu. Kira-kira semenit berbicara ngalor ngidul, sampai akhirnya Mas Baroto menawari aku membeli nasi padang. Aku menggeleng lemas. Tadi pagi aku sudah mengeluarkan untuk sarapan. Siang ini aku harus berhemat.
“Tenang saja, Kasih. Aku yang traktir!” ujarnya berwibawa, tenggorokanku tercekat. Mau menolak karena gengsi tetapi perutku bereaksi memalukan dengan berbunyi lebih keras, kali ini Mas Baroto tidak bisa tidak tertawa.
“Tuh kan, Kasih! Ayo beli makan, sudah lapar ‘kan?” Mas Broto memberi kode agar aku berjalan mengikutinya. Warung padang terdekat terletak di gang belakang. Tidak akan jauh berjalan. Tanpa sadar meringis karena girang, apalagi otak sangat semangat membayangkan aku pintar menghemat tetapi tetap kenyang.
“Kalau butuh teman buat makan, bilang saja, Kasih! Tenang saja aku yang traktir!” ujar Mas Baroto menyerahkan nasi padang yang dibungkus dengan karet dua.
“Punyamu kutambahkan dua lauk,” ucapnya setengah berbisik.
Pipiku memerah. Bukan karena bisikan Mas Baroto tetapi karena membayangkan keuntungan ganda yang aku dapatkan. Mengingat rasa pengertian Mas Baroto sama seperti perasaan yang kudapatkan dari Mbah Tin ketika pertemuan pertama kami. Oh, apakah tampangku begitu kasihan? Bahkan saat itu aku belum merasakan kesusahan semacam ini tetapi Mbah Tin sudah mengatakan aku membutuhkan bantuannya untuk memenuhi kenyang perutku. Oh, dan kini Mas Baroto melakukan hal yang sama. Aku jadi bagaikan anak itik yang tertolong dari banjir, tidak jadi lemas memerangi arusnya air. Bisa dibilang air banjir itu bagiku adalah fakta jika Ibu sedang kesulitan finansial, hal yang sama sekali tak pernah terpikir olehku akan berimbas pada perutku, ketika pertama kali aku menginjakan kaki di tanah Jogja. Dan kini kutahu aku memutar otak guna mendapatkan solusi untuk jalan keluarku.
“Kamu makanlah, Kasih! Aku harus berangkat lagi!” ujar Mas Baroto melihat jam tangan. Tampak terburu-buru dia berkata lagi, “Akan kumakan nanti, di tempat kerja!”
Aku mendongak ingat sesuatu. “Kerja di mana, Mas?” tanyaku antusias. Aku tahu dia mahasiswa yang sudah lulus. Jauh lebih muda dari Mas Ando, tetapi mungkin tidak seberuntung Mas Ando dalam soal warisan.
“Ada sebuah kafe, Kasih! Pulang kerja utama aku kerja lagi di kafe.”
Aku tahu itu, Mas Baroto amat giat bekerja. Semua sudah tahu ceritanya, dia tulang punggung keluarga. Simbah sudah seperti orangtuanya sendiri, makanya Mas Baroto memilih tetap tinggal bersama Mbah Tin kendati tempat bekerjanya lumayan jauh dari Selokan Mataram.
Aku mengangguk saat dia berpamitan sambil memasukkan nasi bungkus ke dalam ransel. Aku jadi merasa bersalah karena Mas Baroto tidak sempat berganti pakaian karena mengantarku membeli makan. Kupandangi nasi bungkus di tangan, berterima kasih penuh rasa syukur karena tak kusangka aku akan berada di fase ini ‘sangat bersyukur Tuhan memberiku makan hari ini.’
***
Ibu menelepon, mengabari kalau sudah mengirim uang. Bukan sejumlah seperti biasanya, ini lebih sedikit. Bisa kubilang ini paling sedikit. Aku tidak merajuk. Engkus menceritakan segalanya. Bahkan kini Engkus bekerja di tempat lain untuk menyambung hidupnya. Engkus menenangkan aku, jika tetap berada di rumah samping. Juga tetap merawat motor. Sementara Bang Artan yang tidak bisa hidup tanpa orang lain masih setia dilayani oleh Engkus, sudah Engkus anggap adik sendiri, walau usia mereka terpaut dua puluh tahun.
“Apa yang terjadi pada Ibu, Engkus?’ Suaraku bergetar, gagang telepon ikut bergetar.
“Sesuatu terjadi di kantornya, soal korupsi uang nasabah atau bagaimana aku kurang tahu, yang jelas ibumu sedang dijadikan tertuduh,” ungkap Engkus.
“Bagaimana Ayah? Apa ia tidak di rumah? Apa ia berada di tempat istri mudanya?”
“Kurasa ayahmu tahu ibumu sedang merosot finansial dan ia pergi menyelamatkan dirinya sendiri, dengan membawa beberapa barang mereka yang cukup penting dan bisa dijual.”
Deg!
Informasi dari Engkus ini membuat tanganku gemetar. Kasihan Ibu, rutuk aku dalam hati. Terbayang kembali ketika perpisahan kami di stasiun kereta. Dimana api kebencianku pada Ibu memuncak akibat trauma yang belum selesai―aku sendiri tak pernah tahu kapan selesainya. Bagiku masih amat berat, terpicu lagi jika membaca berita pelecehan pada anak di tabloid atau koran.
Sebetulnya itu lukaku sendiri. Kecewa pada Ibu adalah pelampiasan emosional aku dan menempatkan seseorang untuk kusalahkan. Seharusnya aku cukup membenci perampok tersebut yang himgga kini belum tahu apa motifnya. Tidak mengambil sesuatu tetapi memberika rasa trauma pada dua anak di rumah tua tersebut. Anehnya, baik aku dan Bang artan masih punya nyali untuk tinggal di sana. Bahkan Bang Artan hanya bisa terjebak yang mungkin selamanya, sedangkana aku sudah berhasil keluar dari sana. Seolah kutukan jelaga mengikat kami dan rumah tua tersebut.
“Menurut buku yang kubaca, jika Anggoro Kasih akan mendatangkan rezeki bagi orang yang dikasihi, apa iya? Lantas bagaimana dengan rezeki aku sendiri, kenapa begitu suram?” tanyaku pada leluhur yang lama-lama wajah samarannya itu mirip artis terkenal yang sering kutonton. Ugh, jangan-jangan … dia sengaja menyesuaikan dengan penglihatanku.
Tangan Tuan itu bergerak menjewer telingaku. “Auw!” seruku. “Kenapa anda menjewerku?” tanyaku protes. “Salahnya kau tidak percaya dengan kemampuan dirimu sendiru, Kasih!” ujarnya mengomel.
“Kok bisa?” mataku melotot. “Yeah, kamu tahu tidak kalau sumur sinabamu itu dapat terbuka jika kamu tidak terus tertempel jelaga, selama energimu masih tersedot jelaga masa lalu, bagaimana sumur sinaba bisa kekuar dan memancarkan airnya?” ucapnya menjelaskan.
Aku merenung, dia ada benarnya juga. Selama ini bayang suram jelaga membuat orang ynag tinggal di rumah kami mengalami jalan buntu, seperti halnya Ibu yang kini sedang berada di fase pailit terbesarnya. Tentu berimbas pada biaya kuliahku. Aku ingin sekali memghibur Ibu dengan sedikit saja memberi perhatian melaui sambungan telepon tetapi apakah Ibu mau berbincang denganku mengenai masalahnya. Aku tahu persis bagaimana Ibu yang keras hati itu tidak mau lemah di hadapan orang lain, terutama aku.
Berkali-kali mencoba memasuki wartel untuk melakukan panggilan interlokal. Telepon rumah tidak ada yang mengangkat. Kubayangkan Bang Artan yang mendengar dering telepon dari balik dinding kamarnya dan tidak menggubris sama sekali. Pastinya Engkus juga sedang bekerja. Engkus sudah cerita, dia harus berjuang untuk mengisi perutnya sendiri. Karena kasihan pada Ibu. Jika Ibu memberinya uang Engkus akan menyimpannya baik-baik, sebagai keperluan mendadak Bang Artan. Tingkah Bang Artan yang seperti anak SD memang tidak bisa terkontrol. Bisa tiba-tiba ia ingin diantar ke toko buku bekas, berburu komik-komik lama kesukaannya.