Jelaga

Misserasera
Chapter #15

Take Me Home

Bohong kalau aku katakan aku tak merindukan rumah. Masalahnya rumah itu, masih apa tidak? Rumah itu sudah lama mati dan senyap. Sampai aku tak mengerti kedalaman jiwaku merindukan rumah apa? Manusianya sudah berubah, rumah itu masih berdiri kokoh dan kaku, namun, isi di dalamnya berganti dengan kenangan menyakitkan.

Lantas rumah bagaimana yang aku rindukan?

Melipat pakaian di jam satu malam, baru sempat sekarang. Seharian otak aku terus berpikir bagaimana menambah pundi rupiah. Dua gaji paruh waktu belum mencukupi jika ingin membebaskan Ibu dari biaya kuliah sepenuhnya. Sampai kusadari, lemari sungguh berantakan dan mempertontonkan pemandangan menyebalkan.

Satu, dua … aku baru sadar, warna pakaianku gelap semua. Hitam, dark blue, paling terang putih polos. Yeah, hanya gelap dan putih, atau abu-abu … entah aku ada di pihak mana. Terkadang putih atau hitam tampak jelas, kadang juga abu-abu menjadi nyaman karena aku bisa berlari ke putih ataupun melompat pada hitam yang mirip jelaga.

Kehidupan dewasaku sendiri kurang lebih seperti itu. Jelaga menenggelamkan dalam kerinduanku akan kehangatan rumah yang menghilang dariku. Imajinasiku sering mencoba untuk menipu, kembali pada aku sebelum usia sembilan tahun. Dimana baju yang kulipat berwarna-warni. Ada merah jambu, hijau muda, kuning terang, biru muda … isi hatiku pun warna-warni dan tidak kaku seperti kantung semen. Kadang ingin kukatakan di sela helaan napas, pada imajinasi yang lelap bersama masa lalu di langit berwarna oranye. Aku ingin lagi merasakan, tolong bawa aku ke rumah itu lagi … take me home, please!

Lantas aku terbatuk hampir tersedak. Kenyataan adalah, aku harus giat mencari rupiah agar aku bisa makan esok, atau lusa. Supaya kantung beras itu tidak kosong, supaya perutku tidak meringkik karena lapar. Perbedaan yang sungguh jauh dibandingkan dengan semur daging yang tersaji di meja makan sebelum meja tersebut menjadi meja dingin. Bibik mantan istri Engkus dulu, membuat masakan yang lezat yang terkadang malas aku memakannya. Atau kebosanan yang merajai ketika Ibu setiap hari memberikan makan katering dengan potongan wortel yang sama selama bertahun-tahun. Kalau waktu bisa diulang, aku memilih melahap potongan wortel yang sama itu, Tuhan. Memuji dan tersenyum pada nasi goreng Ibu yang keasinan. Bisakah Tuhan, jam pasir kubalik kembali, mengulang lagi satu-satu … setiap sisi kehidupan yang tetap harus kusyukuri walaupun kondisinya telah tenggelam dalam trauma medusa.

Itulah awalnya ‘kan Tuhan? Awal dari segala sesuatu yang tak pernah beres dalam kehidupanku. Kehilangan kehangatan meja makan, kehilangan langit berwarna biru. Kehilangan kontrol dalam diriku, pada fase berikutnya aku menempuh kehilangan-kehilangan yang lain dan aku … dalam hatiku … hanya ingin kembali pulang ke rumah seperti dulu.

Rumah berisi anggota keluarga yang masih berkumpul di meja makan, tertawa bersama, makan semur daging buatan bibik―mantan istri Engkus.

Satu per satu bayang imajinasi itu pecah laksana balon, memudar dan kaki aku kembali menginjak bumi. Yeah, aku tak bisa mengubah masa lalu kendati aku telah bersumpah akan memperbaikinya berulangkali. Yang tersisa hanya kesempatan aku untuk mengubah masa depan. Supaya pola berulang tidak terjadi lagi.

***

“Masih merindukan rumah?” tanya seseorang.

Orang itu menepuk bahu santai. Moody nyengir sembari memberi es kelapa. Sekilas aku ingat Ayah. Kelapa selalu mengingatkan aku padanya. Sementara Ludi menghisap kreteknya kuat-kuat.

“Memang kamu merokok, Lud?” tanyaku merasa aneh. Orang seperti Ludi tak ada tampang menyukai pembakaran uang. Yeah, bagiku merokok sama saja membakar uang. Itu yang dikatakan Ibu saat Ayah terlalu candu untuk menghisap dua batang pagi dan sore. Akhirnya memang tak ada yang sanggup menghentikan kecanduannya. Ayah mengalahkan rasa laparnya demi sebungkus rokok. Jika tidak ada yang memberikan rokok, dan ia kehabisan uang untuk membelinya … Ayah akan memaksa Engkus membelikan satu atau dua batang secara eceran. Memalukan bukan? Untungnya Engkus bukanlah berniat bekerja, tetapi menemani keluarga kami karena itulah pesan Kakek terhadap Engkus.

“Mau?” tanya Ludi menawarkan. Diangsurkan sebatang rokok padaku.

Beberapa detik aku ingin meraih. Ingin coba. Tapi belum apa-apa tengkuk langsung terasa ditarik.

“Hush! Anak orang jangan kamu ajari pemborosan,” ujar Moody hampir mirip keluhan. Ludi tertawa.

Bersama mereka sedikit mengobati kerinduanku pada kampung halaman. Aku juga bisa cerita kalau ingin pulang tetapi sedang tak bisa. Bukan karena sibuk tapi tak sanggup melihat kondisi rumah sekarang ini. Sebetulnya mengapa akhirnya aku berada di Wirobrajan sekarang ini, karena telepon dari Moody yang mengajak untuk pulang ke kota asal.

“Ayok, pulang bareng kalau mau, Kasih!” ujar Ludi menegaskan lagi. Aku bahkan tak perlu membayar sepeser pun. Ludi meminjam mobil temannya dan dia hanya mengganti bensin. Menurutku ide brilian menghemat ongkos kereta atau travel. Yeah, sama saja keluar untuk bensin. Setidaknya bisa berhenti di pom bensin mana saja kalau ingin ke toilet.

“A-aku mau sih, tapi …”

Belum selesai aku berucap, otak aku berhenti berpikir. Yeah, ada kalanya sumbu otak menyetop sumber kalimat. Gunanya agar sisiku yang lain bisa mengambil keputusan tanpa berpikir.

“Ludi, coba satu!” pintaku tiba-tiba, sebentar saja sebatang kretek sudah di tanganku. Menyalakan api di ujung tembakau bergaya Ayah saat menikmati embusan semu yang bertahun-tahun hafal di luar kapalaku.

Aku menghisapnya, terlatih dengan memori wajah Ayah saat menghisap cerutu. Memiting dua jari dengan pandangan mata yang sinis. Kemungkinan imajinasi Ayah setiap menikmati embusan semu ini seolah ia menirukan gaya mafia dalam film. Gayaku ini membuat Moody bengong dan Ludi tertawa nyaring.

Lihat selengkapnya