Jelaga

Misserasera
Chapter #16

Sampah Emosi

Rinduku pada Raja Utara dan Candy Red terbayarkan. Aku memilih duduk dekat mereka menghabiskan sisa waktuku menjelang pagi. Mengajak ngobrol layaknya benda hidup yang teramat kukangenin.

“Kalau tidak bisa dijual, apa bisa kubawa?” tanyaku pada Engkus. Mencoba sekali lagi merayu Engkus untuk melepas salah satunya. Memang sepenuhnya aku yang memiliki mereka, tetapi Engkus adalah perawat sejati mereka di kala aku tak bisa merawat mereka dengan tanganku sendiri. Aku tahu Engkus juga menggunakan gajinya untuk membiayai servis di bengkel Topan. Walaupun Topan sendiri tak pernah perhitungan, tetapi Engkus akan dengan inisiatif bertanggung jawab tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Engkus tahu Topan anak baik. Bengkel tersebut adalah satu-satunya bisnis keluarga mereka yang dijadikan tempat mencari nafkah.

“Kamu yakin, Kasih? Membawa salah satunya tetap membuatmu harus menyisihkan sejumlah uang, loh!” kata Engkus mengingatkan. Aku juga memikirkan itu, makanya dua tahun ini aku bertahan dengan tidak membawa motor. Alasan terlogis adalah ketika aku sendiri harus berjuang untuk mencari makanku bagaimana aku bisa memberi mereka makan―bensin. Lagipula, motor ini lumayan besar bila harus bersikutan dengan motor bebek Mas Ando. Teman-teman di kos Mas Ando sendiri jarang yang membawa motor, karena jarak kampus yang sangat dekat, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Untuk itulah Engkus beruangkali mencoba mengingatkanku untuk tidak menambah beban pengeluaran di Jogja. Namun, Engkus tidak tahu, aku tidak betul-betul sendiri. Sosok Mas Jati yang sebenarnya adalah leluhur menyamar membuatku merasa aman, bahkan uang yang dihasilkan pun nyata.

“Lagi pula, yang mana yang ingin kamu bawa?” tanya Engkus lagi. Aku menatap dua motor tersebut bergantian. Bila dilihat dari kepraktisan, tentu memilih Raja Utara, tetapi itu mengingatkanku pada peristiwa Bani. sedangkan bila membawa Candy Red yang termasuk motor antik, akan lebih ekstra hati-hati dan banyak dana tak terduga yang tersedot untuknya. Apalagi jika penggunaan CB 100 diniatkan untuk rutinitas sehari-hari.

“Aku juga bingung Engkus, mungkin Raja Utara saja, ya?”

“Hmm, aku tak mau di sana kamu ikut balapan liar lagi, Kasih! Cukup peristiwa lalu menjadi pelajaran buatmu!” Engkus memperingatkan. Mulutku jadi manyun dan tak berselera untuk membantah. Jika ada sesuatu yang kuniatkan tidak baik untuk hari-hari ke depannya, tentu sudah ada Mas Jati yang pasti lebih dulu mengomel, bahkan menjewer telingaku ketika aku nakal. Engkus tidak tahu rahasia ini. Aku memilih diam. Engkus tak akan mengerti, kendati Engkus adalah tangan kanan kakek dahulu untuk menemaninya bertirakat dan laku spiritual. Ada bisikan jika hubungan dengan leluhur ini adalah urusanku sendiri, jadi aku harus menjaga rahasia dan tidak mengumbar ke Engkus ataupun Ibu.

***

Ayam jago berbunyi, tepat ketika kuingin menyatukan dua kelopak mata. Engkus tidak ada di rumah, mungkin membeli sarapan untukku, aku tak tahu. Lamat memang kudengar pesan Engkus tadi subuh, agar aku tidak memgejutlan ibuku dengan muncul di saat matahari masih malu memperlihatkan diri.

Melirik jam digital di tangan, kurasa ini waktu yang tepat. Ibu belum berangkat kantor, jika memang belum jadi dipecat. Setengah enam, sangat segar untuk keluar dari rumah Engkus yang pengap.

“Kriieet!” Pintu Engkus memang selalu berbunyi.

Sengaja tidak memakai sendal, mencoba grounding di batu kerikil halaman rumah setelah sekian lama, rasa dingin menusuk tulang. Sensasi yang kurindukan. Menghirup udaranya dalam-dalam. Pepohonan yang buat aku merindu sampai ngilu. Kadang terbawa mimpi, mungkin setan-setan di dalamnya juga merindukan aku.

Leluhur tidak muncul. Juga tidak berbisik. Apakah sosoknya hanya akan melindungi ketika aku berada di Jogja? Mengapa dia seakan lenyap ketika aku berada di rumah kelahiranku. Oh, aku sudah mencari tahu sebelum perjalanan pulang ini. Fakta mencengakan, jika daerah ini justru wilayah tewasnya dia dalam pelarian. Dan Jogja merupakan tempat asalanya.

Langkah kaki mulai mengendap memasuki teras rumah. Ransel sengaja kutinggal di rumah Engkus. Aku tidak berniat mengejutkan Ibu dengan pemikiran anaknya pulang karena terusir dari tempat kos karena belum bayar kos. Iya, memang Ibu belum bisa membayarkan. Namun, ada gaji Mas Jati sebagai penyelamat. Gajiku sendiri untuk biaya hidup sehari-hari. Di saat beginilah. Perkataan Engkus ada benarnya juga. Bagaimana aku dapat mengurus Candy Red ataupun Raja Utara dengan keterbatasan biaya hidup di Jogja.

Masih melamunkan soal biaya hidup, sembari memandangi pohon sawo yang mulai dihiasi buah warna cokelat kekuningan yang masih kecil-kecil. “Tunggu beberapa minggu lagi untuk matang, ya?” gumamku merenung. Aku belum mendengar ada seseorang memanggil, atau memang tidak memanggil, sampai orang tersebut menepuk keras bahuku. Aku terlonjak.

“I-Ibu?” Ibu menatapku nanar. Seakan tak percaya, anaknya dari Jogja nongol sepagi ini tanpa mengetuk pintu. Berdiri mematung melamunkan pohon sawo dan tak beralas kaki.

“Kasih, kapan pulang?” tanya Ibu masih keheranan. Atau pikirannya juga sudah overthinking ke mana-mana. Mungkin dipikirnya aku benar-benar terusir. Aku sadar saat ini penampilanku sungguh berantakan. Jeep Ludi membuat rambutku sangat berantakan, dan aku tidak peduli ketika yang melihat hanya Engkus, aku tidak membenahi penampilan. Tidak menysir rambut sampai aku sadar itu sekarang. Hoodie yang kupakai dari semalam, bau solar, bau asap rokok Ludi juga bau angin malam yang dingin. Aroma campur-campur ini pastilah sungguh luar biasa menyengat hidung Ibu.

Aku menyalami Ibu, mencium tangannya, juga pipinya. Aku ingin peluk tetapi sadar badanku bau tak sedap. Kini cium pun sudah cukuplah. Mengingat kini kulakukan sepenuh hati, tidak sedingin waktu perpisahan di stasiun dua tahun lalu.

Ibu menatapku terharu, bisa kangen juga Ibu ini, batinku tersenyum. Kupikir Ibu tidak pernah merindukanku. Dua tahun bukan waktu singkat untuk anggota keluarga tidak saling bertemu. kendati sering saling menyapa lewat chat. Bagi Ibu pulang atau tidak saat hari besar juga adalah pilhanku. Dan ketika aku memilih bekerja di hari raya, agar mendapat bonus tambahan dari pemilik Kafe Jati. Ibu malah mendukung, karena Ibu sendiri tidak mengagendakan apa pun dan melewati itu hanya bertiga dengan Engkus dan Bang Artan. Sementara menurut Bang Artan, Ayah akan pulang seminggu setelah hari besar. Sudah pasti ia memilih berada di rumah istri ke-2.

Lihat selengkapnya