Jelaga

Misserasera
Chapter #17

Kenangan

Begitu kangennya mengendarai Raja Utara menyusuri jalan beraspal. Kira-kira pukul sepuluh pagi dan aku masih menguap beberapa kali. Deru jalanan bersam Raja Utara adalah pilihanku melarikan diri dari Ayah yang kutinggal mengomel di teras rumah. Sempat aku berpikir, kuat juga ya jadi Bang Artan. Dalam diamnya, Bang Artan justru manusia paling kuat karena sanggup mengamati, menyaksikan, menyuci sampah emosi kedua orang tua yang bukan main gilanya. Aku saja baru beberapa menit sudah pening dan berat. Bagaimana dengan Bang Artan yang melakukan ini setiap kali orang tua kami membutuhkan tempat pelampiasan. Kutahu pola semacam ini, manusia dengan kepribadian seperti orang tua kami memang selalu menyerang atau melampiaskan pada orang yang teranggap paling lemah. Mereka menuduh Bang Artan sakit mental. Tetapi melihat pola sampah emosi meyakinkan aku jika Bang Artan justru yang paling kuat. Mental Bang Artan terlatih bertahun-tahun. Hanya mendengarkan, tanpa mengumpat balik. Apa ia merasakan nyeri berat di bagian belakang kepala, aku pun tak tahu.

***

Sengaja setelah berputar-putar di jalanan bersama terik mentari yang makin menyengat, kuputuskan menuntun arah Raja Utara ke bengkel Topan. Tanpa membawa oleh-oleh, setelah dua tahun menghilang, sungguh tak tahu malu. Namun, dengan begitu percaya diri, aku memberikan cengiran halusku. Kepada Topan, Wak Giyo dan ibu Topan yang melonjak girang sampai badan Topan dipukul-pukul senang. Aku terkekeh, mereka tetap sama. Mereka memang lebih pantas menyandang sebutan sebagai keluarga.

Topan, menyalami dan hendak mengacak pucuk kepalaku. Aku berkelit, agak aneh saja dengan badan Topan yang bertambah dewasa, kumis tipis dan sedikit jambang menghias santai. Tubuh kurus dan rambut kribonya menghilang. Lama juga ya aku tidak bertemu dengannya. Dua tahun dan dia tidak pernah protes. Pun ketika aku hanya sesekali mengabari atau membalas pesannya. Pernah aku tanya apa Topan marah jika aku jarang mengirim kabar, dia cuma bilang, ‘yang penting Kasih sehat’. Aku terharu dengan kedewasaannya sebagai teman.

“Tambah ganteng,” celotehku memuji. Topan tersenyum malu-malu. Pemuda dua puluh satu tahun ini memamerkan lesung pipinya. Aku tak bergurau, Topan sudah jauh berubah. Atau jangan-jangan …

“Kamu sudah punya pacar, ya, sekarang?” tanyaku menebak.

Topan agak kaget dengan tembakan pertanyaan yang datang tiba-tiba.

“Sudah punya pacar dia!” seru Wak Giyo dari balik motor yang tengah digarap.

“Oh, ya? Wah laku juga kamu!” seruku memukul bahu Topan senang. Aku memang mirip ibu Topan yang kalau sedang senang langsung memukul gemas bahu atau punggung Topan. Senangnya karena anak itu hanya pasrah dan tidak membalas.

Lihat selengkapnya